BAGI pencinta lingkungan terutama yang sering bersih-bersih pantai, kali ini ada tantangan besar.
Pulau wisata Maratua bukan dibanjiri kunjungan wisata. Ada gerombolan sampah yang mendarat di bibir pantai.
Saya pernah menyaksikan bagaimana sampah terus bergerak mengelilingi Pulau Maratua. Sampah yang mendekati resor, hanya dihalau. Namun, beberapa saat kemudian, sampah itu datang lagi.
Jenisnya macam-macam. Yang terbanyak, sampah kemasan plastik jenis minuman yang hanya bisa ditemukan di toko dan warung di Malaysia. Sampah kemasan berbagai produk itu, memang buatan Malaysia.
Sehingga dipastikan, sampah kiriman datangnya dari wilayah Malaysia timur yang jaraknya dengan Pulau Maratua tidak terlalu jauh.
Jarak tempuh dengan perahu cepat hanya beberapa jam. Pergerak sampah yang dibawa arus laut itu bisa lebih cepat lagi.
Belajar dari situasi kehadiran sampah itu, oleh masing-masing resor membuat dinding penghalau sampah. Tujuannya agar sampah yang datang kadang tidak terduga tidak merapat ke bibir pantai.
Teman saya Eeng, yang bekerja di Pratasaba Resor, mengirimkan foto terbarunya soal sampah yang sekarang jadi musuh bersama warga Maratua.
Jenis sampah yang pernah saya lihat beberapa tahun lalu. Kemasan plastik buatan Malaysia. Semua datang tiba-tiba Daeng, kata Eeng.
Tak bisa dilawan. Pergerakan arus sudah skenario alam. Posisi arus angin sekarang ini dari arah selatan.
Pergerakan arus itu yang membawa sampah dari wilayah utara, hingga memasuki kawasan wisata Pulau Maratua.
Kami harus bekerja ekstra Daeng, ungkap Eeng. Persoalannya, sampah yang bercampur dengan kotoran dedaunan itu cukup luas.
Dan terus bergerak. Kalau sampai parkir di kawasan resor, akan mengganggu aktivitas tamu yang menginap. Sekalian saja tamu diajak bersih-bersih pantai, kata saya berkelakar.
Resor yang berada di tepi laut seperti Pratasaba dan Green Nirvana termasuk resor Arasatu paling merasakan dampak hadirnya sampah kiriman itu.
Saya melihat, kehadiran sampah di Pulau Maratua dengan jumlah besar itu adalah sebuah siklus.
Bisa saja di daerah sumber awal sampah itu sudah menjadi kebiasaan membuang sampah di laut.
Sehingga, pada cuaca tertentu khususnya disaat angin selatan, ada pergerakan cepat sampah hingga ke pulau yang memang berbatasan dengan Malaysia Timur dan laut Filipina.
Bahwa bisa saja terjadi sebaliknya. Kalau warga pulau tidak taat dan terus mengotori laut dengan berbagai jenis sampah.
Pada situasi iklim tertentu, sampah dari Pulau Maratua itu bisa saja terbawa arus hingga ke Malaysia. Ini paket kiriman balasan yang kurirnya oleh alam.
Tak ada pilihan Daeng, kita harus terjun berbasah-basah menghalau sampah itu, kata Eeng.
Walaupun mengganggu dan bisa merusak citra sebagai pulau wisata, pengelola resor maupun warga pulau dengan senang hati melakukan bersih-bersih pantai. Ini sebagai bentuk kepedulian, kata Eeng.
Di Pulau Derawan saja, sebelum sampah rumah tangga dikelola oleh kampung dan diangkut ke Tanjung Batu.
Masyarakatnya, memilih membuang sampah ke laut dimalam hari. Ada sampah yang tenggelam ke dasar laut, ada yang terus mengapung di permukaan.
Mungkin perlu dibuat kerja sama antara Malaysia dan Indonesia. Khususnya para pengelola wisata agar lebih ketat dan tidak menjadikan laut sebagai tempat pembuangan akhir sampah mereka. Akibatnya, kemana arus bergerak, sampah akan ikut dan bersandar di Pulau Maratua. (sam)
@daengsikra.id