BERAU POST - Pemerintah Pusat berkomitmen terus menambah penggunaan energi baru terbarukan (EBT), di seluruh Indonesia.
Salah satunya dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), yang berada di Pulau Maratua, Berau, Kalimantan Timur.
Berada di Kampung Teluk Harapan, Pulau Maratua, keberadaan PLTS menambah kapasitas kelistrikan di pulau yang masuk daerah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar) itu.
Dengan kapasitas 300 Kilowatt Peak (kWp), PLTS ini memiliki daya mampu 60 kWp.
Manajer PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) Tanjung Redeb, Clif Salomo Panjaitan mengatakan, PLTS merupakan energi hijau yang sejalan dengan program pihaknya.
Terlebih Pulau Maratua termasuk pulau terjauh di ujung Kalimantan Timur.
"Karena jauh, jadi tidak bisa di interkoneksi langsung dari pusat kota," katanya kepada awak media ini.
Saat ini, Pulau Maratua memiliki jumlah penduduk 3.902 jiwa, yang tersebar di empat kampung.
Sebelum adanya PLTS, masyarakat setempat sejatinya sudah menikmati listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD).
Clif mengungkapkan, daya mampu dari dua pembangkit tersebut mencapai 600 kw sampai 700 kw saat berada pada posisi normal atau tidak ada event besar yang digelar di Pulau Maratua.
"Masih aman, tapi ketika ada event biasanya pelanggan resort disarankan menggunakan energi alternatif," ungkapnya.
Adanya pengelolaan PLTS oleh anak grup PLN di Maratua ini, merupakan komitmen PLN untuk terus menambah hingga memaksimalkan penggunaan energi terbarukan.
Terlebih sejalan dengan program jangka panjang yang dimiliki PLN.
Meski menambah kapasitas listrik di Maratua, PLTS tak menambah beban pengeluaran seperti di PLTD yang membutuhkan bahan bakar solar. Dalam hal kebisingan, masyarakat juga tak akan mendengar hal tersebut.
"Dari sisi perawatan, PLTS untuk jangka pendek sangat mudah dibandingkan dengan PLTD yang memerlukan effort banyak untuk pembersihan limbah serta perawatan harian," katanya.
Keberadaan PLTS inipun mendapat dukungan dari anggota DPRD Berau, Saga. Menurutnya, jika hanya mengandalkan PLTD, jauhnya keterjangkauan akan menjadi persoalan lain jika terjadi kerusakan pada mesin.
Opsi pembangkitkan pun juga ikut bertambah. Apabila mesin PLTD mengalami gangguan, maka PLTS diharapkan mampu mem-back up meski kapasitas listriknya tidak terlalu besar.
"Saya lihat tingkat keterbukaan di Maratua juga sangatlah cocok untuk PLTS, jika dibandingkan di Tanjung Redeb," imbuhnya.
Karena itu, politikus PPP inipun mendorong agar pembangunan PLTS semakin dimasifkan di wilayah Berau. Khususnya di daerah kepulauan hingga pedalaman yang dinilai sulit dijangkau jaringan PLN.
"Kan nanti informasinya sistem kelistrikan kita akan tersambung dengan jaringan Mahakam. Makanya PLTS ini harus bisa jadi opsi bagi daerah-daerah yang tidak bisa dijangkau sistem jaringan itu," tutur pria yang diketahui berasal dari daerah pemilihan pesisir ini.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim dalam Rencana Umum Energi Daerah (RUED), menargetkan bauran energi terbarukan mencapai 79 persen pada tahun 2045. Angka ini diketahui melampaui target nasional yang berada di kisaran 70 persen.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim, Bambang Arwanto menyebut Kaltim harus siap dengan energi alternatif yang berkelanjutan.
Dalam RUED Kaltim, pengembangan PLTS di Bumi Etam-sebutan Kaltim- menjadi salah satu target transisi energi bersih yang digagas.
"Kami ingin Kaltim dikenal bukan hanya sebagai penghasil batu bara, tapi juga sebagai pelopor transformasi energi di Indonesia,” sebutnya.
Perlu diketahui, pada Juli lalu saat melakukan kunjungan ke Brazil, Presiden Indonesia, Prabowo Subianto telah menargetkan penggunaan 100 persen energi terbarukan di Indonesia pada 2035.
Untuk mencapai target ini, PLN menyiapkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034.
Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN, Suroso Isnandar mengatakan, pihaknya sudah sudah memprogramkan kebutuhan penambahan kapasitas pembangkit listrik yang baru sampai 10 tahun ke depan.
"Kita membutuhkan kurang lebih 70 ribu megawatt, 76 persen itu diambil dari penambahan kapasitas dari pembangkit EBT termasuk nuklir dan storage" katanya di Indonesia Energy Transition Dialogue 2025 di Hotel Pullman, Jakarta, Senin (6/10).
Lebih lanjut, penambahan kapasitas pembangkit listrik yang berasal dari EBT sebesar 42,1 gigawatt (GW). Di antaranya tenaga bayu (7,2 GW), surya (17,1 GW), panas bumi (5,2 GW), hidro (11,7 GW), dan bioenergi (0,9 GW).(arp/hmd)
Editor : Nurismi