HINGGA September agenda kegiatan padat. Setelah peringatan HUT Proklamasi, bulan depan itu akan padat dengan kegiatan jelang peringatan hari jadi kabupaten Berau dan Tanjung Redeb.
Hari Rabu (26/8) reuni dengan teman-teman di kantor pariwisata. Kantor baru yang di depan pelabuhan teratai di Jalan Pulau derawan.
Ada undangan khusus, bertemu dengan peserta yang akan menyemarakkan pawai budaya. Ditunjuk sebagai juri seperti tahun lalu.
Waktu begitu cepat bergulir. Rasanya pawai budaya yang di bulan September tahun lalu itu seperti baru tiga minggu usai dilaksanakan. Tidak terasa setahun lagi Daeng, kata Majid, Sekretaris Dinas Pariwisata.
Di kantor yang megah dan strategis itu, bertemulah dengan teman-teman yang dulu sama-sama satu tim. Senyum mereka tak berubah. Semangat beh, kata Serly pemilik tahi lalat di pipi kanannya. Kalau urusan even Serlylah yang nampak wara wiri.
Ada Taufiq dan Padli, kami sering sama-sama bergerilya di toko yang manawarkan pakaian rombengan Malaysia di belakang masjid At Taqwa. Saya dengar banyak stok baru Daeng, kata Taufik sambil memperlihatkan sepatu impor hasil berburunya.
Kita kumpul di aula belakang Daeng, kata bu Retno yang dipercaya sebagai penanggungjawab kegiatan. Peserta banyak. Semua perwakilan kecamatan hadir. Semua OPD, termasuk dari paguyuban.
Yang dibahas soal teknis. Pembatasan peserta agar kesan pawai budayanya tetap kental dan rapi.
Waktunya masih lama. Masih sebulan lagi. Digelar sehari setelah puncak peringatan hari jadi kabupaten. Masih punya waktu banyak peserta untuk menyiapkan atribut tampilan mereka.
Potensi budaya yang ada, di eksplore semuanya. Saya ditunjuk jadi juri bersama bu Rohaini, mantan Kadis Pariwasata juga.
Usai pertemuan, Majid mengajak main ke Pulau Maratua. Lama juga tidak ke pulau wisata kebanggaan itu.
Teman teman pengelola resor juga hampir setiap saat jumpa, selalu mengjak untuk bermalam di resornya. Termasuk Pak Yan, pemilik Resor Arasatu. Ayo dong kita menyaksikan sunset di resor gua, kata Yan yang tinggal di Jakarta.
Kami memang akrab. Ada partner bisnisnya namanya Ibrahim Saleh. Pangkatnya Jenderal TNI bintang dua. Pernah memimpin Kodam di Kalimantan Barat.
Kami dulu sama-sama satu SMA 2 di Makassar. Karena sesama alumni, jadi alasan mengajak ke Maratua.
Kapan rencana ke Maratua Pak Majid? Kata saya. Hanya jalan-jalan biasa. Lama tidak melihat laut Maratua. Lama tidak menikmati ikan ruby rebus yang nikmat itu.
Apalagi kalau yang meracik bumbunya Pak Agus Tantomo, mantan Wakil Bupati Berau. Lebih nikmat rasanya. Saya selalu memilih bagian kepalanya.
Menarik juga ajakan Majid. Sejak tak lagi aktif, hampir tidak pernah berkunjung ke banyak destinasi wisata. Melihat perkembangan terakhir yang fasilitasnya banyak dibenahi.
Dipercantik. Seperti destinasi permaindian air panas. Sekarang sudah ada kolam khusus.
Permandian air panas itu tidak sekedar merasakan bagaimana keunikannya.
Air panas yang airnya asin itu, diyakini mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit. Karenanya, kalau badan merasa tak nyaman. Berendamlah di kolam air panas asin. Dijamin pasti segar dan menyehatkan.
Bolehlah, selepas perayaan hari jadi kita istirahat di Maratua, kata saya. Saya juga mau meyakinkan informasi yang saya terima dari teman-teman pekerja wisata di pulau itu.
Katanya, banyak wisatawan asing yang belakangan mengeluh. Apa penyebabnya? Tak lain karena jadwal penerbangan sering berubah.
Wisatawan itu dalam mengatur perjalanannya dari luar negeri, tiketnya sudah pergi dan pulang.
Kalau terjadi pergseran jadwal berangkat dari bandara Kalimarau, otomatis mereka (wisatawan manca negara) akan mengalami rugi uang dan waktu. Itu yang perlu dikoordinasikan dengan maskapai. (sam)
@daengsikra.id