TIGA hari belakangan, bersebaran flayer yang menawarkan kredit tanpa agunan. Nilainya bervariasi. Nilai kreditnya hingga Rp 500 juta. Angka yang menggoda.
Sayangnya, angka itu bagi para pensiunan harus berpikir panjang kalau berniat mengambil kredit. Walau tanpa agunan, semakin besar nilai kredit, semakin besar juga cicilannya.
Bergantung masa kreditnya. Jangka waktu dua belas bulan akan beda kalau lama kreditnya enam puluh bulan.
Aku kada wani, kata salah seorang pensiunan ASN di Warung Pojok, kemarin. Kemudahan mendapatkan kredit menurutnya membuat banyak yang tergiur.
Termasuk mereka yang akan memulai usaha atau memperkuat modal usahanya.
Masalahnya, kata purnawirawan ASN itu, dengan kondisi penghasilan sekarang, ditambah lagi berbagai keperluan, tidak memungkinkan untuk menambah beban dengan kredit.
Awalnya bagus, giliran tagihan, mulai pusing, ungkapnya. Apapun itu, tawaran dengan prosedur yang mudah dan cepat, bagi ASN yang masih aktif bisa jadi pilihan.
Bisa dibuat modal. Bisa buat keperluan kuliah anak-anak, asal jangan buat keperluan konsumtif.
Daeng sendiri berminat kah? Saya hanya tertawa. Saya katakan, mungkin di awal akan membuat tersenyum dengan jumlah kredit Rp 100 juta misalnya.
Namun, giliran membayar angsuran, akan memasuki bulan-bulan menggelisahkan. Potongan kredit bisa separuh dari penghasilan.
Sering mencermati pedagang kecil maupun UMKM, ditawarkan kredit yang angsurannya harian. Mereka pasti senang dengan pinjaman yang bisa dipakai memperkuat modal usaha.
Giliran harus membayar angsuran setiap hari, mulai pusing. Pemberi pinjaman pun, wajahnya berubah sangar.
Tawaran pinjaman uang dengan cicilan harian itu bisa dengan mudah ditemukan. Di Pasar Adji Dilayas dan pasar Jalan Manunggal. Penjual makanan minuman di pinggir jalan.
Komunitas ini yang jadi pelanggannya. Mau tidak mau pak, habis jualan es tidak selalu habis terjual, kata penjual es di samping perpustakaan. Kalau sudah begitu, tak ada pilihan lain.
Tak jauh beda dengan komentar seorang perempuan yang jualan jamu dengan mengendarai motor. Setiap pagi, menunggu pelanggannya di dekat Masjid At Taqwa.
Saya ini pelanggan utangan yang menyicilnya harian, kata perempuan yang masih muda usia.
Begini mas, kalau mendapatkan utangan Rp 500 ribu atau Rp 1 juta, bisa digunakan membeli bahan-bahan membuat jamu. Termasuk biaya operasional kendaraan.
Keliling jualan di beberapa titik, bisalah disisihkan untuk bayar cicilan utangan. Soal tawaran kredit di bank, dia tidak tertarik. Takut nda bisa bayar mas, ungkapnya.
Nurdin, penjual ayam di pasar Jalan Manunggal, punya alasan sendiri mengapa dia tidak tertarik meminjam uang.
Baik melalui bank atau yang sering ditawarkan oleh pemberi utangan keliling. Jualan ayam potong dengan omzet tidak banyak. Hanya cukup buat makan sehari-hari di rumah, kata dia.
Penjual makanan dan minuman di sepanjang tepian Sungai Segah, menurut Saparuddin, Koordinator Pedagang Tepian, hampir semua yang jualan di tepian Sungai Segah ini adalah pelanggan utangan. Mereka enggan berurusan dengan perbankan.
Soalnya kata Saparuddin, rata-rata pedagang memerlukan uang tunai dalam sepekan. Uang digunakan membeli es, membayar air dan listrik.
Mereka merasa sangat terbantu. Yang penting jangan ambil utangan, lalu digunakan untuk pulang kampung. (sam)
@daengsikra.id