Punya Cita Rasa Khas, Pemkab Berau Dorong Kopi Liberika Sambakungan Tembus Kafe Modern

Nurismi • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 08:25 WIB
NIKMATI KOPI: Wakil Bupati Berau Gamalis saat meligat biji kopi Liberika di Kampung Sambakungan, Kecamatan Gunung Tabur, Sabtu (25/7). (ARTA KUSUMA YUNANDA/BP)
NIKMATI KOPI: Wakil Bupati Berau Gamalis saat meligat biji kopi Liberika di Kampung Sambakungan, Kecamatan Gunung Tabur, Sabtu (25/7). (ARTA KUSUMA YUNANDA/BP)

BERAU POST – Potensi Kopi Liberika di Kabupaten Berau dinilai memiliki masa depan yang menjanjikan sebagai komoditas unggulan daerah.

Namun, untuk menjadikannya mampu bersaing di pasar yang lebih luas, dibutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, petani, akademisi, pelaku usaha hingga komunitas.

Wakil Bupati (Wabup) Berau, Gamalis turut menghadiri kegiatan diskusi kolaboratif pengembangan Kopi Liberika Kalimantan Timur yang digelar Yayasan Sekolah Tani Indonesia di Kampung Sambakungan, Kecamatan Gunung Tabur, Sabtu (25/7) lalu. 

Dalam kesempatan itu, Gamalis memberikan apresiasi kepada Yayasan Sekolah Tani Indonesia yang dinilainya telah menghadirkan wadah diskusi strategis, dengan mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas masa depan kopi lokal. 

“Ini bukan sekadar kegiatan minum kopi atau berdiskusi tentang rasa kopi. Yang kami bangun ini adalah sebuah ekosistem yang akan menentukan masa depan petani, perekonomian desa, hingga pengembangan komoditas unggulan Kabupaten Berau," ujarnya.

Sebelum acara dimulai, ia sempat mencicipi seduhan Kopi Liberika khas Berau tanpa tambahan gula. Menurutnya, cita rasa kopi tersebut memiliki karakter yang khas dan mampu bersaing dengan kopi dari daerah lain. 

"Tadi saya coba kopinya, rasanya enak. Ada sedikit rasa asam yang menjadi ciri khasnya, dan saya menikmatinya tanpa gula,” ungkapnya. 

“Memang kalau ingin merasakan karakter asli kopi, sebaiknya diminum tanpa gula," tambah Gamalis.

Di balik secangkir kopi yang tersaji, dirinya menyebut terdapat perjuangan panjang para petani yang selama bertahun-tahun menjaga tanaman kopi tetap hidup hingga menghasilkan biji berkualitas.

“Sosok seperti Ibu Helmina adalah bukti bahwa Berau memiliki sumber daya manusia yang mampu menghasilkan kopi berkualitas jika mendapat dukungan yang tepat," ungkapnya.

Gamalis menilai, budaya minum kopi di Indonesia, termasuk di Berau, berkembang sangat pesat. Kedai kopi kini menjamur hampir di setiap sudut kota. Namun ironisnya, sebagian besar masih menyajikan biji kopi dari luar daerah. 

Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Kopi Liberika Berau, untuk mulai mengambil peran sebagai produk lokal yang mampu menjadi tuan rumah di daerah sendiri. 

“Hari ini penikmat kopi semakin banyak, kafe tumbuh di mana-mana. Tetapi kita juga harus mulai berpikir bagaimana kopi lokal Berau bisa hadir di setiap kedai kopi. Jangan sampai kita hanya menjadi penonton di daerah sendiri," tegasnya.

Untuk mempercepat pengembangan Kopi Liberika Berau, Gamalis menekankan pentingnya membangun ekosistem yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Dengan langkah pertama yang harus dilakukan adalah memastikan ketersediaan bibit unggul dan pendampingan berkelanjutan kepada petani. 

“Petani tidak boleh berjalan sendiri. Mereka harus didampingi mulai dari penyediaan bibit, teknik budidaya, hingga peningkatan produktivitas. Kalau petaninya kuat, maka komoditasnya juga akan berkembang," katanya.

Selain budidaya, Gamalis juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas pascapanen agar mutu Kopi Liberika Berau tetap terjaga dan memiliki nilai jual lebih tinggi. 

“Kalau kualitas sudah bagus tetapi tidak memiliki merek yang kuat dan akses pasar yang luas, tentu akan sulit berkembang. Karena itu, promosi dan pemasaran harus dilakukan secara berkelanjutan," pungkasnya. (aky/adv/arp) 

Editor : Nurismi
Kopi Liberika Berau komoditas unggulan pemkab berau