Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Lawan Inflasi 4,15 Persen: Simak Strategi TPI Sambaliung Tekan Harga Ikan di Berau

Beraupost • Senin, 30 Maret 2026 | 12:45 WIB

ILUSTRASI: Melonjaknya harga ikan di Berau menjadi perhatian lebih pemerintah. (IZZA/BP)
ILUSTRASI: Melonjaknya harga ikan di Berau menjadi perhatian lebih pemerintah. (IZZA/BP)

BERAU POST – Harga ikan yang terus naik di Kabupaten Berau mendorong Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Sambaliung menghadirkan pasar murah. Supaya warga bisa membeli ikan layang, kembung, dan tembang dengan harga lebih stabil.

Kepala UPT TPI Sambaliung, Frederik Sibulo menjelaskan, program ini muncul sebagai respons terhadap fluktuasi harga beberapa jenis ikan konsumsi yang sering mengalami lonjakan signifikan di pasar tradisional, terutama setelah melalui rantai distribusi yang panjang.

Pasar murah ini akan menjadi ajang percobaan yang dilaksanakan setiap bulan untuk melihat efektivitasnya dalam menstabilkan harga ikan.

“Kami merencanakan program ini berjalan setiap bulan di TPI Sambaliung,” katanya beberapa waktu lalu.

Evaluasi berkala akan menjadi kunci dalam menentukan frekuensi kegiatan yang tepat sehingga tidak mengganggu mekanisme pasar yang sudah ada.

Ia menekankan, pelaksanaan pasar murah secara rutin memang harus berhati-hati agar tidak menimbulkan distorsi harga yang merugikan pedagang.

“Jika dilakukan terlalu sering atau setiap hari, bisa mengubah perilaku pasar dan berdampak negatif bagi pedagang yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi lokal,” bebernya.

“Karena itu, kami mulai dari frekuensi satu bulan sekali dan akan memantau hasilnya,” sambungnya.

Pemerintah disebutnya berupaya menyeimbangkan kepentingan konsumen dan pelaku usaha, agar kebijakan stabilisasi harga berjalan efektif.

Program pasar murah ini akan menyoroti beberapa komoditas unggulan yang rawan mengalami lonjakan harga, termasuk ikan layang, kembung, dan tembang. Ikan layang kerap menjadi sorotan karena permintaannya tinggi dan sering mengalami inflasi harga di pasaran.

“Ikan layang menjadi primadona di pasar. Harganya kadang bisa melonjak hingga Rp 40 ribu sampai Rp 60 ribu per kilogram karena sudah melewati beberapa tingkat distribusi sebelum sampai ke konsumen,” jelasnya.

Dengan konsep pasar murah, pihaknya berusaha memotong rantai distribusi sehingga harga ikan yang dijual lebih terjangkau bagi masyarakat.

Program ini juga mendapat respons positif dari nelayan dan pengusaha perikanan lokal yang melihat inisiatif ini sebagai kesempatan untuk menyalurkan produk langsung ke konsumen tanpa perantara yang panjang.

“Dukungan dari nelayan dan pengusaha setempat sangat penting. Harapannya, ikan hasil tangkapan nelayan Berau bisa langsung sampai ke masyarakat dengan harga yang lebih bersahabat, sehingga manfaatnya dirasakan luas,” ujarnya.

Program pasar murah ini menjadi salah satu langkah konkret Kabupaten Berau untuk menjaga kestabilan harga pangan laut, sekaligus memberikan alternatif bagi masyarakat yang sering kesulitan menghadapi lonjakan harga beberapa jenis ikan konsumsi.

“Diharapkan kebijakan ini dapat menjadi model yang berkelanjutan dan adaptif terhadap dinamika pasar,” harapnya.

Sebelumnya, Ketua Tim Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Berau, Mega Safira Aulia menjelaskan, laju inflasi di Kabupaten Berau kembali mengalami kenaikan pada Februari 2026.

BPS mencatat inflasi tahunan atau year-on-year (yoy) mencapai 4,15 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Januari 2026 yang berada di level 3,78 persen.

Inflasi bulanan tersebut terutama disumbang oleh tiga kelompok pengeluaran utama. Pertama, kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 0,03 persen dengan andil 0,01 persen.

Kedua, kelompok transportasi yang mengalami inflasi 0,07 persen dengan andil 0,01 persen.

Ketiga, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami inflasi 1,83 persen dengan andil 0,14 persen.

Jika dilihat dari komoditasnya, emas perhiasan menjadi pendorong terbesar inflasi bulanan dengan andil sebesar 0,13 persen.

Kenaikan harga komoditas ini dipengaruhi dinamika harga emas di pasar global yang turut berdampak hingga ke tingkat daerah.

Selain itu, komoditas lain yang turut menahan inflasibulanan antara lain bensin, bawang merah, udang basah, jagung manis, bahan bakar rumah tangga, wortel, sawi hijau, minyak goreng dan cumi-cumi.

Selain tarif listrik, komoditas lain yang turut mendorong inflasi tahunan di antaranya emas perhiasan, ikan layang, daging ayam ras, ikan kembung, sigaret kretek mesin, ikan tongkol, beras, ikan bandeng serta nasi dengan lauk.

“Data Indeks Harga Konsumen ini menjadi dasar bagi pemerintah dalam melihat perubahan pola konsumsi masyarakat sekaligus merumuskan kebijakan yang berkaitan dengan pengendalian harga,” ujarnya. (aja/arp)

 

 

Editor : Nurismi
#harga ikan #inflasi #Gelar Pasar Murah