BERAU POST – Wakil Bupati Berau, Gamalis mengingatkan, pentingnya pengendalian inflasi daerah agar stabilitas harga kebutuhan pokok tetap terjaga dan tidak membebani daya beli masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah.
Dikatakannya, pengendalian inflasi daerah menjadi salah satu prioritas utama pemerintah, mengingat tren kenaikan harga yang berulang hampir setiap perayaan hari-hari besar.
Apalagi, lonjakan harga bahan pokok bukan sekadar persoalan ekonomi makro, tetapi berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah.
Kenaikan harga yang tidak terkendali disebutnya berisiko menekan daya beli masyarakat dan memperberat beban pengeluaran rumah tangga. Terlebih di tengah proses pemulihan ekonomi yang masih berlangsung.
“Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tidak boleh lengah dalam menyikapi fluktuasi harga yang bisa saja muncul. Pemerintah harus hadir dan sigap, karena yang paling merasakan dampaknya adalah masyarakat,” ujar Gamalis.
Ia menilai, pengendalian inflasi tidak cukup hanya dilakukan melalui pemantauan harga di lapangan.
Perlu menyiapkan langkah-langkah konkret untuk memastikan stabilitas pasokan dan distribusi bahan pokok tetap terjaga.
Kelancaran distribusi menjadi faktor penting agar tidak terjadi kelangkaan yang berujung pada kenaikan harga tidak wajar.
Selain itu, Gamalis juga menekankan pentingnya upaya pencegahan terhadap praktik penimbunan barang oleh oknum tertentu.
Praktik semacam itu dinilai dapat memperparah kondisi pasar dan merugikan masyarakat luas.
Karena itu, pengawasan harus dilakukan secara terpadu dengan melibatkan instansi terkait dan aparat pengawasan.
Dalam upaya menjaga stabilitas harga, pihaknya juga membuka kemungkinan untuk melakukan intervensi pasar.
Pelaksanaan pasar murah maupun operasi pasar dapat menjadi opsi apabila ditemukan lonjakan harga yang signifikan, terutama pada komoditas strategis seperti beras, gula, minyak goreng, dan cabai.
“Kalau memang diperlukan, intervensi pasar harus segera dilakukan. Jangan menunggu sampai harga telanjur tinggi dan memberatkan masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya koordinasi lintas sektor, mulai dari Diskoperindag, Dinas Pangan, hingga pihak-pihak yang memiliki fungsi pengawasan.
Sinergi yang kuat antarinstansi tentunya menjadi kunci agar langkah pengendalian inflasi dapat berjalan efektif dan tepat sasaran.
Selain itu, Gamalis turut mengajak para pelaku usaha dan distributor untuk berperan aktif dalam menjaga stabilitas harga.
Ia mengingatkan agar pelaku usaha tidak mengambil keuntungan berlebihan di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang masih berangsur pulih.
“Stabilitas harga adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah hadir untuk menjaga keseimbangan, tetapi pelaku usaha juga harus memiliki kepedulian sosial,” pungkasnya.
Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Berau, Yudi Wahyudin, mengatakan, cuaca yang tidak menentu dan kenaikan harga bahan pangan menjadi pemicu meningkatnya inflasi di Kabupaten Berau pada Desember 2025.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahun ke tahun (year on year/yoy) sebesar 2,82 persen, lebih tinggi dibandingkan capaian November 2025.
Secara umum, inflasi di Kabupaten Berau masih berada dalam rentang yang terkendali.
Namun, sejumlah faktor utama memengaruhi pergerakan harga selama Desember 2025, terutama kondisi cuaca yang tidak menentu serta kenaikan harga sejumlah komoditas pangan strategis.
BPS mencatat, inflasi bulan ke bulan atau month to month di Kabupaten Berau pada Desember 2025 sebesar 0,23 persen.
Sementara itu, inflasi tahun kalender atau year to date tercatat sama dengan inflasi tahunan, yakni 2,82 persen.
Jika dibandingkan dengan wilayah lain di Provinsi Kalimantan Timur, inflasi year on year tertinggi pada Desember 2025 justru terjadi di Kabupaten Berau sebesar 2,82 persen.
Sebaliknya, inflasi terendah tercatat di Kabupaten Penajam Paser Utara dengan angka 2,08 persen.
Untuk inflasi bulan ke bulan, tingkat inflasi tertinggi terjadi di Kota Samarinda sebesar 0,87 persen, sedangkan Kabupaten Berau menjadi daerah dengan inflasi mtm terendah sebesar 0,23 persen.
BPS menilai dinamika harga di Kabupaten Berau masih dipengaruhi faktor musiman, khususnya kondisi cuaca dan pasokan komoditas pangan, yang perlu menjadi perhatian dalam menjaga stabilitas harga ke depan. (aja/arp)
Editor : Nurismi