BERAU POST – Kenaikan target pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pariwisata, dinilai harus dibarengi dengan penguatan pengelolaan destinasi wisata dan sistem pengawasan retribusi.
Hal itu disampaikan Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto, menanggapi rencana Disbudpar Berau yang menaikkan target PAD sektor pariwisata tahun ini.
Menurutnya, peningkatan target tersebut merupakan konsekuensi dari capaian retribusi sejumlah objek wisata yang dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren positif.
Namun, pemerintah daerah juga harus memastikan pelayanan dan fasilitas di destinasi wisata terus ditingkatkan.
“Jangan sampai target pendapatan naik, tetapi kualitas pengelolaan destinasi justru tidak mengalami peningkatan. Keduanya harus berjalan beriringan,” ujarnya.
Ia menilai, pengawasan terhadap pemungutan retribusi juga perlu diperketat untuk menghindari potensi kebocoran yang dapat merugikan daerah. Transparansi pelaporan dan keterlibatan pengelola wisata menjadi hal penting dalam mendukung optimalisasi PAD.
Selain itu, Ia mendorong pemerintah daerah agar tidak hanya berfokus pada destinasi yang selama ini menjadi penyumbang retribusi terbesar.
Potensi wisata lain yang tersebar di berbagai kecamatan juga perlu mendapat perhatian melalui pembangunan fasilitas penunjang dan promosi yang lebih masif.
“Berau memiliki banyak destinasi yang potensial. Tinggal bagaimana pemerintah memetakan prioritas pengembangannya sehingga manfaat ekonominya juga bisa dirasakan masyarakat di sekitar kawasan wisata,” katanya.
Politikus Partai NasDem itu menambahkan, sektor pariwisata dapat menjadi salah satu sumber pendapatan daerah yang menjanjikan apabila dikelola secara konsisten dan berkelanjutan.
Karena itu, ia berharap peningkatan target PAD tidak hanya menjadi angka dalam perencanaan, tetapi juga diikuti langkah konkret untuk memperkuat daya saing pariwisata Berau.
“Yang terpenting adalah bagaimana sektor ini terus tumbuh, wisatawan bertambah, masyarakat merasakan manfaatnya, dan daerah mendapatkan pemasukan yang optimal,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau menaikkan target pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pariwisata melalui retribusi objek wisata.
Langkah tersebut diambil setelah realisasi penerimaan retribusi pada sejumlah destinasi wisata dinilai telah melampaui target yang ditetapkan sebelumnya.
Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budi Santosa, mengatakan, pihaknya baru saja melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap sejumlah objek wisata menuju kawasan pesisir Kecamatan Bidukbiduk dan sekitarnya.
Kegiatan itu dilakukan untuk melihat realisasi retribusi daerah sekaligus mengevaluasi pengelolaan destinasi wisata yang sudah menjadi sumber PAD.
“Jadi ada beberapa destinasi di sana yang sudah menjadi sumber retribusi atau pajak daerah. Itu kita monev realisasinya, konsolidasinya, termasuk kita sosialisasikan kepada objek wisata yang nantinya juga akan memberlakukan retribusi daerah,” ujarnya, Senin (18/5).
Dalam kunjungan tersebut, Disbudpar turut meninjau sejumlah destinasi wisata seperti Air Panas Asin Pemapak, Labuan Cermin hingga beberapa titik wisata lainnya yang dilewati.
Diterangkan, pembahasan dalam monev tidak hanya berkaitan dengan retribusi, tetapi juga menyangkut persoalan kebersihan, fasilitas, hingga pengembangan destinasi ke depan.
Misalnya di Air Panas Asin Pemapak, pihaknya juga berdiskusi langsung dengan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) terkait upaya menjaga kualitas destinasi agar tetap nyaman dikunjungi wisatawan.
“Permasalahannya seperti kebersihan, masalah pengembangan ke depannya, kita diskusikan dengan Pokdarwis setempat. Jadi bagaimana menjaga itu tetap layak, masyarakat juga merasakan kebersihannya terjaga, fasilitasnya juga berfungsi dengan baik,” katanya.
Dalam perubahan target PAD tahun ini, kenaikan terbesar berasal dari retribusi Labuan Cermin dan Air Panas Asin Pemapak.
Untuk Air Panas Asin Pemapak, target retribusi yang sebelumnya sebesar Rp 276 juta dinaikkan menjadi Rp 340 juta. Sedangkan Labuan Cermin naik dari Rp 266 juta menjadi Rp 500 juta.
“Jadi total target kita dari yang tahun ini Rp 578 juta akan naik menjadi Rp 892 juta,” ujarnya.
“Selain empat objek wisata yang telah menjadi sumber retribusi, target PAD tersebut juga ditambah dari sektor kios kuliner dan suvenir di kawasan Tanjung Batu,” sambungnya. (aja/hmd)
Editor : Nurismi