Stok Obat Paten RSUD Abdul Rivai Jadi Sorotan DPRD, Direktur Pastikan Pelayanan Tetap Jalan Lewat Substitusi Obat

Nurismi • Dipublikasikan Jumat, 8 Mei 2026 | 15:10 WIB
ILUSTRASI: DPRD Berau meminta RSUD Abdul Rivai memastikan ketersediaan obat agar pelayanan kesehatan kepada masyarakat tidak terganggu. (IZZA/BP)
ILUSTRASI: DPRD Berau meminta RSUD Abdul Rivai memastikan ketersediaan obat agar pelayanan kesehatan kepada masyarakat tidak terganggu. (IZZA/BP)

BERAU POST – Persoalan ketersediaan obat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Rivai menjadi perhatian DPRD Berau. Pihak rumah sakit diminta memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan maksimal dan tidak terganggu akibat kekosongan obat.

Wakil Ketua I DPRD Berau, Subroto meminta pengelola RSUD Abdul Rivai dapat mengelola seluruh elemen manajemen rumah sakit secara optimal, termasuk menghadirkan inovasi pelayanan yang prima kepada masyarakat.

Menurutnya, pelayanan kesehatan merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang harus menjadi prioritas. Karena itu, persoalan kekurangan obat tidak boleh sampai berdampak terhadap pelayanan pasien.

“Jangan sampai terjadi kekurangan obat yang berdampak terhadap pelayanan masyarakat,” ujarnya, belum lama ini. 

Ia menilai, manajemen rumah sakit perlu melakukan pengelolaan yang lebih baik terhadap kebutuhan obat-obatan agar pelayanan tetap berjalan lancar.

Selain itu, inovasi pelayanan juga dinilai penting untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan di RSUD Abdul Rivai.

Sementara itu, Direktur RSUD Abdul Rivai, Jusram menjelaskan, kondisi obat kosong yang belakangan ramai dibicarakan tidak sampai menghentikan pelayanan kepada masyarakat.

Obat yang kosong masih dapat digantikan dengan jenis obat lain yang memiliki fungsi serupa. Perbedaan yang ada hanya pada jenis obat generik dan obat paten.

“Istilah obat kosong tidak sepenuhnya berarti kosong dan pelayanan pemberian obat dihentikan, tapi bisa digantikan,” ungkapnya. 

“Misalkan pada penyakit hipertensi, jika obat jenis A kosong, bisa diganti ke jenis B. Itu masih sama saja,” sambungnya.

Ia mengatakan, saat ini sebagian besar obat yang tersedia di RSUD Abdul Rivai merupakan obat generik. Sementara, beberapa jenis obat paten memang masih ada yang mengalami kekosongan.

Meski begitu, pihak rumah sakit telah melakukan pemesanan kembali untuk sejumlah obat paten yang masih banyak digunakan masyarakat.

Diakuinya, persoalan ketersediaan obat yang menjadi perhatian DPRD Berau akan menjadi catatan khusus bagi manajemen rumah sakit.

Karena itu, pihaknya terus berupaya memenuhi kebutuhan obat agar pelayanan kepada pasien tetap maksimal.

Meskipun keberadaan obat paten tetap penting karena pelayanan RSUD Abdul Rivai tidak hanya diperuntukkan bagi pasien BPJS, tetapi juga melayani pasien umum serta pengguna asuransi di luar BPJS.

“Obat paten tetap harus tersedia karena segmentasi RSUD tidak hanya pasien BPJS saja,” katanya. 

Di sisi lain, pihaknya juga tetap berupaya mengedepankan pelayanan kepada masyarakat, meski terdapat beberapa jenis obat yang tidak ditanggung BPJS.

Ia menyebut, untuk kondisi tertentu rumah sakit tetap memberikan obat kepada pasien BPJS walaupun obat tersebut tidak masuk dalam tanggungan BPJS.

Namun penggunaan obat dibatasi dengan perhitungan tertentu, agar pelayanan tetap berjalan dan rumah sakit tidak mengalami kerugian besar.

“Ada beberapa obat yang kami berikan kepada pasien meski tidak di-cover BPJS, namun masih termasuk pasien BPJS. Kami tetap berikan maksimal penggunaan hanya tiga hari,” ujarnya.

Menurut Jusram, pihak rumah sakit telah memiliki perhitungan tersendiri terkait penggunaan obat tersebut. Yang terpenting, kata dia, masyarakat tetap mendapatkan pelayanan kesehatan terlebih dahulu.

“Yang penting masyarakat terlayani terlebih dahulu,” tutupnya. (aja/arp) 

 

Editor : Nurismi
Obat Paten kekosongan RSUD dr Abdul Rivai pelayanan kesehatan