BERAU POST – Terlait dengan adanya polemik bonus atlet di Pasuruan, Jawa Timur, yang dinilai tidak sebanding dengan capaian yang telah diperoleh menjadi perhatian serius dari Wakil Komisi II DPRD Berau, Arman Nofriansyah.
Dimana, Arman yang kenal sebagai penggiat olahraga di Berau itu mendesak Pemerintah Kabupaten Berau agar memberikan perhatian lebih serius terhadap kesejahteraan atlet berprestasi.
Ia menegaskan, penghargaan kepada atlet tidak boleh berhenti pada janji atau seremoni semata, melainkan harus diwujudkan secara nyata, adil, dan proporsional.
Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi peringatan bagi seluruh pemerintah daerah agar tidak mengabaikan hak-hak atlet.
“Kasus di Pasuruan harus menjadi bahan evaluasi bersama. Jangan sampai atlet Berau yang sudah mengharumkan nama daerah justru merasa tidak dihargai dan ini jadi alarem peringatan untuk kita semua” ujarnya kepada awak media Minggu (1/3) lalu.
Arman mengingatkan, dalam waktu dekat daerah akan menghadapi ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2026.
Momentum ini, kata dia, semestinya menjadi titik awal pembenahan sistem pembinaan dan penghargaan atlet secara menyeluruh.
Ia menilai atlet adalah aset strategis daerah yang membawa nama Berau ke tingkat provinsi hingga nasional.
Oleh karena itu, perhatian terhadap bonus, pola pembinaan, hingga fasilitas latihan harus dirancang secara matang dan transparan.
Menurutnya, pemberian bonus bukan sekadar persoalan nominal, tetapi bentuk apresiasi atas dedikasi dan pengorbanan atlet.
Banyak atlet yang harus membagi waktu antara pendidikan, pekerjaan, dan latihan demi mengukir prestasi.
“Kalau penghargaan tidak sepadan, tentu akan berdampak pada motivasi. Kita ingin atlet Berau tetap semangat, bangga, dan merasa dihargai saat membela daerahnya,” ujarnya.
Selain soal bonus, Arman juga menekankan pentingnya komunikasi yang terbuka antara pemerintah daerah, KONI, dan para atlet agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Ia berharap Pemkab Berau segera menyusun skema pembinaan jangka panjang yang berkelanjutan, mulai dari pembinaan usia dini, peningkatan kualitas pelatih, hingga jaminan kesejahteraan atlet berprestasi.
“Prestasi tidak lahir secara instan. Dibutuhkan proses panjang dan dukungan penuh dari pemerintah. Jangan sampai atlet hanya diperhatikan saat bertanding, lalu dilupakan setelahnya,” pungkasnya. (aky/hmd)
Editor : Nurismi