BERAU POST – Peluang besar sektor pariwisata di Kampung Biatan Bapinang dinilai mulai terlihat, seiring meningkatnya jumlah kunjungan ke destinasi Air Panas Asin Pemapak yang telah mencapai sekitar 31 ribu orang.
Wakil Ketua I DPRD Berau, Subroto menilai capaian tersebut menjadi dasar kuat bagi pemerintah daerah untuk segera menyusun langkah pengembangan yang lebih serius dan terarah.
Jumlah kunjungan yang mencapai puluhan ribu orang itu, menurutnya, menunjukkan daya tarik Wisata Air Panas Asin Pemapak semakin kuat dan tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.
“Wisata ini luar biasa. Pengunjungnya sudah puluhan ribu. Artinya pengembangan tidak bisa ditunda, bukan hanya soal anggaran, tetapi juga kesiapan lahan,” ujarnya.
Tingginya minat masyarakat dinilainya harus direspons dengan langkah konkret, terutama dari sisi perencanaan jangka panjang.
Pemerintah kecamatan dan pemerintah kampung, kata dia, perlu bergerak cepat mengamankan lahan untuk perluasan kawasan wisata. Langkah itu dinilai penting selagi harga tanah masih relatif terjangkau.
Pengamanan lahan bukan sekadar kebutuhan jangka pendek, tetapi bentuk investasi masa depan.
Terlebih lagi, akses menuju kawasan pesisir terus mengalami perkembangan. Perbaikan konektivitas wilayah diyakini akan berdampak langsung pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan.
Ia bahkan memproyeksikan, apabila akses dari Tanjung Redeb menuju wilayah pesisir semakin baik, bukan tidak mungkin jumlah wisatawan akan melonjak hingga ratusan ribu orang.
Kondisi tersebut tentunya akan memberi multiplier effect terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar.
Dirinya optimistis sektor pariwisata dapat menjadi salah satu penggerak utama peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Berau.
Namun, ia mengingatkan potensi tersebut hanya bisa terwujud apabila dibarengi perencanaan yang matang dan kesiapan infrastruktur yang memadai.
“Jalan kampung kini mengalami kerusakan lebih cepat akibat meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk angkutan hasil perkebunan sawit,” bebernya.
Perubahan fungsi jalan yang semula lebih banyak dimanfaatkan sebagai akses wisata, kini juga menjadi jalur distribusi ekonomi.
Kondisi itu membuat kapasitas jalan yang ada tidak lagi memadai untuk menahan beban kendaraan dengan tonase lebih besar.
Persoalan tersebut tidak seharusnya berujung pada saling menyalahkan. Melainkan juga perlunya solusi yang berorientasi pada peningkatan kualitas infrastruktur.
“Tapi meningkatkan kapasitas jalan agar aktivitas ekonomi masyarakat dan pengembangan wisata bisa berjalan seimbang,” tegasnya.
Tentunya pengembangan pariwisata dan peningkatan infrastruktur harus dirancang berjalan beriringan.
Jika keduanya dapat disiapkan secara terencana, potensi ekonomi Kampung Biatan Bapinang diyakini akan tumbuh secara berkelanjutan dan memberi dampak nyata bagi masyarakat Berau.
Sebelumnya, Bupati Berau, Sri Juniarsih menyampaikan, PAD dari sektor pariwisata di Kabupaten Berau menunjukkan tren peningkatan sepanjang 2025. Hingga 31 Desember 2025, pendapatan retribusi dari sektor ini tercatat sebesar Rp 578.125.000.
Angka tersebut berasal dari empat objek wisata yang saat ini sudah dipungut retribusi, yakni Museum Batiwakkal, Keraton Sambaliung, Air Panas Asin Pemapak, dan Labuan Cermin.
Capaian ini lebih tinggi dibandingkan tahun 2024 lalu. Pada tahun sebelumnya, PAD dari sektor pariwisata berada di kisaran Rp 435,62 juta.
Kenaikan tersebut menunjukkan geliat kunjungan wisatawan mulai berdampak langsung terhadap penerimaan daerah.
Meskipun pengelolaan pariwisata masih menghadapi berbagai keterbatasan, terutama dari sisi anggaran.
Capaian tersebut merupakan hasil dari koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD).
Namun, ia menilai hasil yang ada belum maksimal. Dengan keterbatasan anggaran, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau tetap mampu mengelola dan mengembangkan titik-titik pariwisata yang dinilai cukup baik.
“Tahun lalu, anggaran Disbudpar berada di angka sekitar Rp 52 miliar,” sebutnya.
Dengan dana tersebut, pengembangan beberapa destinasi wisata tetap bisa dilakukan. Dari pengelolaan empat objek wisata yang saat ini dipungut retribusi, pendapatan retribusi pariwisata berhasil mencapai Rp 578 juta hingga akhir 2025.
Di mana penyumbang terbanyak berasal dari destinasi Air Panas Asin Pemapak, dan Labuan Cermin. (aja/arp)
Editor : Nurismi