HARIAN RAKYAT KALTARA — Puluhan telepon genggam yang ditemukan dalam sidak di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Tarakan kini menjadi sasaran penelusuran Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Utara (Kaltara).
Sebanyak 44 unit HP disita untuk mengungkap dugaan komunikasi dan transaksi peredaran narkotika dari dalam lapas.
Sidak gabungan yang melibatkan BNN pusat dan Bareskrim Polri itu berlangsung Jumat (30/10) sekitar pukul 01.30 WITA.
Selain puluhan HP, petugas menemukan dua alat hisap sabu dan memeriksa enam warga binaan yang masuk sasaran operasi.
Kepala BNNP Kaltara Brigjen Pol Abdul Hasyim mengatakan, pemeriksaan dilakukan secara mendadak berdasarkan informasi yang dihimpun melalui koordinasi antarlembaga. Petugas tidak hanya memeriksa enam warga binaan, tetapi juga menyisir blok hunian lainnya.
“Ini gabungan, kita bekerjasama dengan BNN pusat dan Bareskrim. Pelaksanaannya dini hari sekitar pukul 01.30 WITA, sehingga memang sifatnya mendadak. Alhamdulillah, dari pemeriksaan itu banyak yang kita temukan. Ada 44 HP dan dua alat hisap. Dari barang-barang yang ditemukan ini kita kembangkan lagi,” ungkap Hasyim, Kamis (5/11).
Dari enam warga binaan yang menjadi sasaran pemeriksaan, dua orang dinyatakan positif narkotika berdasarkan tes urine.
Sementara itu, hasil pengembangan awal juga telah menghasilkan penangkapan. Meski BNNP Kaltara belum mengungkap identitas maupun peran pihak yang diamankan.
“Dari hasil pengembangan itu sudah ada yang tertangkap. Kita juga masih terus mengembangkan temuan yang ada. Enam orang yang menjadi sasaran sudah kita periksa, tetapi pemeriksaan tidak hanya kepada mereka. Sel-sel lainnya juga kita cek dan kita lakukan tes urine terhadap yang menjadi sasaran,” jelasnya.
Hasyim menyebut, seluruh HP yang disita diperiksa satu per satu, terutama percakapan WhatsApp dan riwayat transfer uang.
Penelusuran tersebut dilakukan untuk mengetahui kemungkinan adanya komunikasi antara warga binaan dengan jaringan narkotika di luar lapas.
“HP-HP ini kita buka satu per satu, memang tidak bisa sekaligus. Kita periksa percakapannya, WhatsApp, kemudian transfer uang juga kita lihat. Semuanya kita telusuri karena dari sana bisa muncul informasi baru. Kita ingin mengetahui apakah ada komunikasi yang mengarah pada peredaran narkoba. Termasuk kemungkinan ada transaksi yang dilakukan dari dalam lapas,” terangnya.
Pemeriksaan juga diarahkan untuk mengungkap dugaan adanya warga binaan yang berperan sebagai pengendali peredaran sabu.
Namun, BNNP Kaltara belum memastikan pihak yang memiliki peran tersebut. Karena masih menunggu hasil pemeriksaan barang bukti elektronik.
“Bisa jadi ada yang berperan sebagai bandar. Tetapi kita belum bisa memastikan sekarang. Nanti kita lihat dari HP itu, apakah ada yang menerima transferan atau mengirim uang berkaitan dengan peredaran narkoba. Kalau memang ditemukan bukti yang mengarah ke sana, tentu akan kita dalami dan proses lebih lanjut,” tegasnya.
Selain menelusuri isi perangkat, petugas mendalami jalur masuk puluhan HP tersebut ke dalam lapas. Berdasarkan informasi awal, perangkat komunikasi itu diduga dibawa pengunjung saat membesuk warga binaan.
Sebagai tindak lanjut, BNNP Kaltara juga berkoordinasi dengan pemerintah pusat terkait rencana pemindahan enam warga binaan yang menjadi sasaran pemeriksaan. Namun, lokasi lapas tujuan belum ditentukan.
“Dari pusat juga sudah ada pembicaraan. Enam orang ini nanti direncanakan digeser atau dipindahkan. Untuk lapas tujuannya masih direncanakan, nanti ditentukan lebih lanjut. Sementara yang berkaitan dengan pengungkapan kasus tetap kita kembangkan lagi berdasarkan hasil pemeriksaan dan bukti yang ditemukan,” kata Hasyim.
Ia memastikan pengembangan perkara tetap berlanjut dengan melibatkan sejumlah instansi terkait. Hasil pemeriksaan perangkat elektronik akan menjadi dasar untuk menelusuri kemungkinan keterlibatan pihak lain.
“Mudah-mudahan dengan niat yang bagus dan serius, persoalan narkoba ini terus kita ungkap. Kita bersinergi dan berkolaborasi. Faktor geografis memang memiliki tingkat kesulitan tersendiri dalam penanganan narkotika di Kaltara. Tetapi perkembangan pengungkapan ini akan terus kita informasikan kepada rekan-rekan media,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) Tarakan Trisno Witanta Tarigan membenarkan adanya sidak gabungan tersebut. Namun, pihaknya masih berkoordinasi dengan Bareskrim Polri terkait penyampaian hasil kegiatan.
“Dari Bareskrim Polri menyampaikan bahwa mereka yang akan melakukan rilis tersebut. Kami masih melakukan koordinasi,” singkatnya. (sas/uno)
Editor : Nurismi