Imbas Kiriman Asap Karhutla Kalimantan, Pesawat Rute Tarakan Terpaksa Mendarat di Sepinggan

Nurismi • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 17:26 WIB
GANGGU PENERBANGAN: Hingga sore hari belum ada pesawat yang mendarat di Bandara Juwata Tarakan akibat kabut asap, Senin (31/8). (SEPTIAN ASMADI/HRK)
GANGGU PENERBANGAN: Hingga sore hari belum ada pesawat yang mendarat di Bandara Juwata Tarakan akibat kabut asap, Senin (31/8). (SEPTIAN ASMADI/HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA — Dua pesawat tujuan Bandara Juwata Tarakan harus mengalihkan pendaratan ke Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan, Senin (31/8). 

Keputusan tersebut diambil setelah jarak pandang di Bandara Juwata turun drastis hingga sekitar 500 meter akibat kabut asap.

Dua penerbangan yang terdampak yakni Super Air Jet IU 535 rute Balikpapan-Tarakan dan Batik Air ID 6675 rute Jakarta-Tarakan. Keduanya sempat melakukan holding sebelum pilot memutuskan mengalihkan pendaratan.

Kepala Bidang Teknik dan Operasi Bandara Juwata Tarakan Fahruddin Rahmat, mengatakan jarak pandang mulai memburuk sekitar pukul 14.00 Wita. 

Saat itu, visibility berada di kisaran 1 kilometer dan kembali turun menjadi sekitar 500 meter setengah jam kemudian.

“Mulai tadi pukul 14.00 Wita, dampaknya cukup signifikan. Asap kembali memengaruhi jarak pandang sampai kurang lebih 1 kilometer. Bahkan sekitar pukul 14.30 semakin memburuk sampai jarak pandang hanya kurang lebih 500 meter,” ujar Fahruddin.

Super Air Jet IU 535 yang dijadwalkan tiba sekitar pukul 13.05 Wita sempat berputar di udara selama kurang lebih 25 menit. Pesawat kemudian kembali menuju Balikpapan.

“Pesawat IU 535 sempat melakukan holding di atas kurang lebih selama 25 menit. Pada akhirnya memutuskan untuk divert kembali ke Balikpapan dan sampai saat ini masih menunggu perkembangan lebih lanjut cuaca dan jarak pandang di Bandara Juwata,” katanya.

Kondisi serupa dialami Batik Air ID 6675. Pesawat yang dijadwalkan mendarat sekitar pukul 14.06 Wita melakukan holding sekitar 20 menit sebelum mengalihkan penerbangan ke Balikpapan.

“Batik Air ID 6675 juga sempat melakukan holding atau berputar di atas kurang lebih 20 menit. Akhirnya memutuskan untuk divert ke Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan di Balikpapan,” ujar Fahruddin.

Salah seorang penumpang Super Air Jet IU 535, Ade Prasetia Cahyadi, membenarkan pesawat yang ditumpanginya sempat mendekati Tarakan sebelum kembali ke Balikpapan. Pesawat seharusnya tiba sekitar pukul 12.50 Wita.

Setibanya di Bandara Sepinggan, Ade bersama penumpang lainnya menunggu informasi dari pihak maskapai terkait kelanjutan penerbangan menuju Tarakan.

Sementara itu, gangguan akibat asap telah dirasakan di Bandara Juwata sejak 10 Agustus 2026. Fahruddin menyebut asap berasal dari kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Kalimantan yang terbawa angin dari selatan menuju utara.

Titik kebakaran paling banyak dilaporkan berada di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Di Kalimantan Utara, terdapat satu laporan titik di wilayah Tanjung Palas Timur, Bulungan.

“Dampak yang ditimbulkan dari kebakaran tersebut adanya asap yang bergerak dan terdampak juga sampai ke wilayah Kota Tarakan. Dari pertama kali dilaporkan, dampaknya ada. Namun tidak terlalu signifikan karena jarak pandang masih sekitar 4 sampai 5 kilometer,” jelasnya.

Sehari sebelumnya, Minggu (30/8), jarak pandang di Bandara Juwata sempat turun menjadi sekitar 1 kilometer pada pukul 14.00 Wita. Kondisi kemudian membaik menjadi 2 kilometer pada pukul 17.00 Wita dan 3 kilometer sekitar pukul 18.00 Wita.

Saat kondisi memburuk pada Minggu, tidak terdapat jadwal penerbangan masuk sehingga operasional tidak terdampak.

Penerbangan Lion Air rute Surabaya-Tarakan dan penerbangan kargo Express Cargo Airlines tetap dapat beroperasi setelah jarak pandang membaik.

Senin pagi, sejumlah penerbangan juga masih berjalan. Citilink dan Super Air Jet tercatat mendarat. Sementara Lion Air sempat melakukan penerbangan dari Tarakan. Kondisi kemudian berubah pada siang hari ketika jarak pandang kembali menurun.

Berdasarkan chart dalam Aeronautical Information Publication (AIP), batas minimum jarak pandang untuk melakukan pendekatan instrumen di Bandara Juwata berada pada angka 2.500 meter. Namun, keputusan pendaratan maupun lepas landas tetap berada pada pertimbangan pilot.

“Untuk melakukan instrument approach, jarak pandang minimum memang 2.500 meter. Keputusan untuk melakukan pendaratan maupun take off itu ada di pilot decision atau di tangan pilot,” jelas Fahruddin.

Sekitar pukul 16.00 Wita, jarak pandang mulai membaik menjadi sekitar 1 kilometer. Namun, angka tersebut masih berada di bawah batas minimum pendekatan instrumen.

Selain dua pesawat yang telah divert, sejumlah penerbangan lainnya masih menunggu perkembangan kondisi. Di antaranya Super Air Jet jadwal sore dan Lion Air rute Surabaya-Tarakan. 

Batik Air juga mengajukan slot masuk Tarakan sekitar pukul 17.30 Wita. Dengan realisasi penerbangan tetap bergantung pada kondisi jarak pandang.

Hingga keterangan disampaikan, belum ada penerbangan dari Tarakan yang dinyatakan cancel. Pihak Bandara Juwata terus berkoordinasi dengan AirNav Tarakan, Stasiun Meteorologi Juwata dan maskapai terkait perkembangan cuaca.

Fahruddin memastikan fasilitas penerbangan seperti runway, taxiway, apron, PAPI dan runway light tetap dalam kondisi serviceable. Personel serta peralatan juga disiagakan sesuai standar operasional prosedur.

“Harapannya semoga kondisi ini tidak berlarut-larut dan semakin lebih baik. Sehingga operasional penerbangan juga bisa berjalan dengan normal kembali dengan baik tanpa ada kendala,” tuturnya. (sas/uno)

Editor : Nurismi
kabut asap jarak pandang karhutla