HARIAN RAKYAT KALTARA - Kapasitas tempat tidur RSUD dr H Jusuf SK Tarakan masih berada di bawah kebutuhan sebagai rumah sakit rujukan di Kalimantan Utara.
Saat ini tersedia 341 tempat tidur, sedangkan kebutuhan ideal rumah sakit diperkirakan mencapai sekitar 500 tempat tidur. Keterbatasan tersebut paling terasa ketika terjadi lonjakan pasien.
Periode setelah Lebaran, Iduladha hingga meningkatnya kasus demam berdarah menjadi sejumlah kondisi yang dapat membuat ruang perawatan cepat penuh.
Plt Direktur RSUD dr H Jusuf SK dr Budy Azis mengatakan, kondisi tersebut dapat menyebabkan pasien harus menunggu ketersediaan kamar. Namun, pasien yang masih berada di UGD tetap mendapatkan pelayanan medis.
“Kalau kondisi sedang ramai, memang bisa terjadi antrean karena keterbatasan kamar. Biasanya setelah Lebaran, Idulfitri, Iduladha, atau ketika kasus demam berdarah meningkat, pasien yang datang ke UGD juga banyak,” kata Budy, Jumat (28/8).
Kapasitas 341 tempat tidur tersebut tersebar di sejumlah kelas perawatan. RSUD memiliki delapan kamar VIP, sekitar 40 kamar kelas 1, 14 kamar kelas 2, sementara kapasitas terbesar berada di kelas 3.
Budy menegaskan, angka tersebut merupakan jumlah tempat tidur, bukan jumlah kamar. Satu kamar dapat memiliki satu hingga empat tempat tidur, tergantung kelas perawatan dan pengaturan ruang.
Ketika salah satu kelas penuh, pasien dapat ditempatkan sementara di kelas lain yang masih memiliki tempat tidur. Pasien kemudian dikembalikan ke kelas sesuai hak perawatannya setelah kamar tersedia.
“Misalnya pasien kelas 3, kelas 3-nya penuh. Sementara kelas 2 kosong, kita titipkan dulu di kelas 2. Tidak ada penambahan biaya. Begitu kelas 3 sudah kosong, pasien itu kita kembalikan lagi ke kelas 3,” jelas Budy.
Hal serupa berlaku untuk pasien kelas 2 maupun kelas 1. Jika ruang sesuai hak perawatan penuh, pasien dapat ditempatkan sementara di kelas yang lebih tinggi apabila tersedia.
Sementara pasien yang masih menunggu kamar tetap ditangani di UGD. Pemeriksaan penunjang maupun konsultasi dokter spesialis tetap diberikan sesuai kebutuhan medis.
“Kalau menunggu di UGD bukan berarti tidak kita rawat. Di UGD tetap dilakukan perawatan dan pemeriksaan yang dibutuhkan. Kalau perlu radiologi, rontgen atau pemeriksaan lainnya tetap dilakukan. Bahkan dokter spesialis juga turun ke UGD untuk memeriksa pasien,” ujarnya.
Lonjakan pasien juga dapat terjadi ketika kasus penyakit tertentu meningkat. Salah satunya demam berdarah yang banyak menyerang anak-anak.
Untuk pasien anak, RSUD dr H Jusuf SK memiliki ruang perawatan khusus dengan kapasitas sekitar 40 tempat tidur.
“Kita punya rawat khusus untuk anak dan tidak tergabung dengan yang lain. Kapasitasnya sekitar 40 tempat tidur dan untuk kondisi DBD itu sudah cukup,” ungkap Budy.
Meski demikian, kebutuhan keseluruhan tempat tidur rumah sakit masih lebih besar dibandingkan kapasitas saat ini. Posisi RSUD sebagai rumah sakit rujukan membuat kebutuhan tersebut menjadi bagian dari rencana pengembangan fasilitas.
“Kita masih kurang. Harusnya kita punya sekitar 500 tempat tidur karena status kita sebagai rumah sakit rujukan. Kita juga satu-satunya rumah sakit rujukan yang ada di Kaltara. Sehingga memang perlu dikembangkan lagi,” tegasnya.
RSUD telah mengajukan pengembangan kapasitas, termasuk rencana pembangunan gedung baru. Lahan rumah sakit disebut masih tersedia untuk mendukung pengembangan fasilitas.
“Kami sudah mengusulkan pengembangan. Mudah-mudahan tahun depan kita bisa mengusulkan ke Kementerian Kesehatan untuk pembangunan gedung baru. Lahannya masih luas, jadi masih memungkinkan untuk dikembangkan,” pungkas Budy. (sas/uno)
Editor : Nurismi