Andalkan Sistem Ekstensif Alami, Komoditas Udang Dan Bandeng Kaltara Tembus Pasar Unggulan

Nurismi • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 13:01 WIB
 Kepala BPPMHKP Tarakan, Piyan Gustaffiana.(SEPTIAN ASMADI/HRK)
Kepala BPPMHKP Tarakan, Piyan Gustaffiana.(SEPTIAN ASMADI/HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA - Budidaya perikanan di Kalimantan Utara (Kaltara) masih bertumpu pada sistem tambak tradisional yang dinilai menjadi keunggulan tersendiri dibanding sejumlah daerah lain di Indonesia. 

Minimnya penggunaan pakan tambahan, bahan kimia, maupun antibiotik membuat komoditas hasil budidaya dari daerah ini memiliki karakter alami yang tetap terjaga dan menjadi nilai lebih di pasar.

Kepala Balai Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (BPPMHKP) Tarakan Piyan Gustaffiana mengatakan, kondisi lingkungan pesisir dan tambak di Kaltara hingga kini masih mampu mendukung pertumbuhan komoditas budidaya secara alami. 

Kondisi tersebut membuat pola budidaya masyarakat berbeda dengan daerah yang telah menerapkan sistem intensif.

“Alhamdulillah ini Tarakan masih sangat alami. Salah satunya yang terbaik di Indonesia. Budidayanya masih belum intensif karena alamnya memang masih mendukung. Jadi karakter budidayanya memang berbeda dengan daerah yang sudah menerapkan sistem intensif,” katanya.

Menurut Piyan, sebagian besar tambak di Kaltara masih mengandalkan produktivitas alami perairan. Dalam kondisi tertentu, benih yang ditebar tetap mampu tumbuh tanpa ketergantungan terhadap pakan buatan. Sebagaimana diterapkan pada budidaya intensif.

Kondisi tersebut berdampak pada minimnya penggunaan antibiotik maupun bahan tambahan lain yang umumnya terkandung dalam pakan.

Karakter tersebut justru menjadi salah satu keunggulan hasil budidaya Kaltara. Karena menghasilkan komoditas yang lebih alami. 

“Kalau teman-teman lihat di tambak, di sini ditebar tidak usah diberi pakan pun bisa tumbuh. Itu yang paling dicari karena belum ada campuran antibiotik dari pakan. Produk seperti ini justru memiliki nilai tersendiri,” ujarnya.

Ia menjelaskan, budidaya tambak di Kaltara masih didominasi pola ekstensif atau tradisional. Sistem tersebut memanfaatkan dukungan lingkungan alami.

Sehingga penggunaan bahan kimia dalam proses produksi relatif rendah dibanding kawasan budidaya yang telah berkembang secara intensif.

Menurutnya, karakteristik tersebut menjadi salah satu faktor yang menjaga kualitas komoditas perikanan dari wilayah ini tetap kompetitif.

“Karakteristik budidaya memang berbeda-beda. Di sini masih masuk kategori ekstensif atau tradisional, sehingga belum terlalu banyak sentuhan atau modifikasi yang membutuhkan bahan-bahan kimia. Karena itu komoditasnya menjadi unggul dibanding daerah yang budidayanya sudah lebih intensif,” jelasnya.

Komoditas yang mendominasi hasil budidaya tambak di Kaltara hingga kini masih berupa udang dan bandeng. Keduanya menjadi hasil utama tambak masyarakat yang tersebar di kawasan pesisir, termasuk di Kota Tarakan.

“Kalau di Tarakan, komoditas unggulannya masih udang, kemudian bandeng. Itu yang paling banyak dari budidaya tambak,” tuturnya.

Piyan menuturkan, pengawasan mutu hasil perikanan tidak hanya dilakukan pada produk yang telah dipanen atau dipasarkan.

Tetapi dimulai sejak proses budidaya berlangsung. Karena itu, BPPMHKP turut melakukan pendampingan kepada pelaku usaha budidaya di tambak air payau maupun perairan darat. Agar penerapan cara budidaya yang baik semakin berkembang.

Pendampingan tersebut dilakukan untuk memastikan mutu hasil perikanan tetap terjaga sejak tahap produksi. Sehingga mampu memenuhi standar keamanan pangan dan kebutuhan pasar.

“Perhatian kami itu mulai dari hulu sampai tahap produksi perikanan. Bukan hanya ikan hasil tangkapan. Tetapi juga ikan yang dibudidayakan, baik di perairan laut maupun perairan darat. Semua menjadi bagian yang kami kawal agar mutunya tetap terjaga,” katanya.

Di balik potensi tersebut, pengelolaan tambak di Kaltara masih menghadapi sejumlah tantangan. Sebagian besar kawasan budidaya masih dikelola secara tradisional dengan infrastruktur yang belum sepenuhnya memenuhi standar budidaya yang baik.

Salah satunya masih ditemui saluran pemasukan dan pembuangan air yang menggunakan jalur yang sama. Kondisi tersebut dinilai perlu dibenahi agar pengelolaan tambak semakin efisien, sekaligus menjaga kualitas lingkungan budidaya.

Selain persoalan tata letak tambak, keterbatasan biaya penyediaan sarana pendukung dan masih minimnya pelatihan bagi pembudidaya juga menjadi tantangan dalam meningkatkan kualitas pengelolaan.

“Kalau nanti dilakukan penerapan budidaya yang baik, wilayah-wilayah budidaya itu harus dipetakan. Tata letaknya juga harus diperhatikan, supaya pengelolaannya sesuai dengan standar yang dipersyaratkan,” ujarnya.

Piyan mengatakan, perbaikan tata kelola budidaya menjadi salah satu faktor yang akan menentukan daya saing komoditas perikanan Kaltara di masa mendatang.

Dukungan sumber daya alam yang masih terjaga perlu diimbangi dengan penerapan standar budidaya yang baik, agar kualitas hasil perikanan tetap konsisten.

Menurutnya, keberhasilan menjaga mutu komoditas tidak hanya bergantung pada kondisi alam yang mendukung. Tetapi juga pada penerapan teknik budidaya yang sesuai standar oleh para pembudidaya.

“Pelaku usaha tentu akan kami dampingi. Harapannya mereka dapat menerapkan budidaya yang baik secara konsisten. Sehingga mutu hasil perikanan tetap terjaga dan potensi perikanan Kaltara bisa terus berkembang,” tuturnya. (sas/uno)

Editor : Nurismi
BPPMHKP Tarakan petembak budidaya alami