HARIAN RAKYAT KALTARA — Kawasan mangrove selama ini dikenal sebagai benteng alami pesisir.
Namun di tangan masyarakat binaan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Tarakan, hutan mangrove juga menjadi sumber penghasilan melalui berbagai produk olahan yang memiliki nilai ekonomi.
Tidak hanya memanfaatkan hasil laut, masyarakat kini mampu mengolah buah mangrove menjadi minuman sirup. Sementara hasil tangkapan nelayan diolah menjadi beragam produk pangan siap konsumsi.
Penyuluh KPH Tarakan Ahmad Afif, mengatakan pengembangan produk dilakukan melalui pemberdayaan masyarakat pesisir. Dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam yang tersedia.
“Produk yang sudah dihasilkan cukup beragam. Dari hasil laut ada petis udang, sambal udang kering, sambal petis, sambal ikan asap, dan beberapa jenis sambal lainnya,” katanya, Selasa (30/6).
Proses produksi melibatkan seluruh anggota keluarga. Para nelayan bertugas mencari bahan baku di laut. Sedangkan pengolahannya dilakukan oleh para ibu rumah tangga, sehingga menghasilkan produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
“Jadi bapak-bapak melaut, kemudian hasil tangkapannya diolah oleh ibu-ibu di rumah menjadi petis maupun aneka sambal,” ujarnya.
Selain produk hasil laut, masyarakat juga mulai mengembangkan olahan dari buah mangrove. Saat ini terdapat dua produk unggulan, yakni sirup buah pidada (Sonneratia) dan sirup buah nipah.
Ia menjelaskan, buah pidada sebenarnya sudah lama dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan pemberi rasa asam dalam masakan ikan.
Melalui pendampingan dan pelatihan, pemanfaatan buah tersebut kemudian dikembangkan menjadi produk sirup yang memiliki nilai tambah.
“Selama ini buah pidada hanya digunakan sebagai asam untuk memasak ikan. Kami kemudian melatih masyarakat agar bisa mengolahnya menjadi sirup. Sehingga memiliki nilai ekonomi yang lebih baik,” jelasnya.
Produk-produk binaan tersebut kini tidak hanya dipasarkan di sekitar desa. Tetapi juga telah menjangkau Tanjung Selor, Tarakan, Kabupaten Tana Tidung, hingga Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Meski belum tampil pada ajang berskala nasional, produk tersebut telah diperkenalkan dalam Pekan Daerah (PEDA) tingkat Provinsi Kalimantan Utara.
“KPH Tarakan juga sempat merencanakan keikutsertaan pada Pekan Nasional (PENAS), namun rencana itu belum dapat terealisasi karena kendala teknis,” terangnya.
Dalam proses pemberdayaan masyarakat, KPH Tarakan tidak hanya mendampingi pembentukan kelompok usaha.
Tetapi juga memfasilitasi peningkatan kapasitas melalui pelatihan, termasuk penyediaan rumah produksi dengan dukungan Balai Perhutanan Sosial dan sejumlah mitra.
“Pendampingan yang kami lakukan mulai dari pembentukan kelompok, pelatihan pengolahan produk, hingga bantuan rumah produksi agar usaha masyarakat dapat berkembang,” tuturnya.
Ia menambahkan, meski lokasi kelompok binaan berada di wilayah administratif Kabupaten Bulungan. Pendampingannya tetap menjadi bagian dari wilayah kerja KPH Tarakan.
“Kami berharap potensi sumber daya pesisir tidak hanya terjaga kelestariannya. Tetapi juga mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan hutan,” tukasnya. (fai/uno)
Editor : Nurismi