HARIAN RAKYAT KALTARA — Kepadatan di Armuzna, keterbatasan fasilitas di Mina hingga perjalanan jauh saat melontar jumrah menjadi pengalaman yang paling membekas bagi jemaah haji asal Kota Tarakan pada musim haji 1447 Hijriah/2026 Masehi.
Meski menghadapi berbagai tantangan, jemaah menilai penyelenggarEaan ibadah secara umum berjalan lancar. Berkat dukungan petugas dan sistem pelayanan yang telah disiapkan.
Salah seorang jemaah, Ari Wibowo mengatakan, seluruh rangkaian ibadah sejak di Madinah hingga Makkah berlangsung dengan baik.
Keberadaan petugas haji Indonesia di berbagai lokasi ibadah dinilai sangat membantu Jemaah. Terutama dalam memberikan arahan dan pendampingan.
“Selama ibadah semuanya berjalan lancar. Untuk seluruh rangkaian haji Kota Tarakan juga berjalan baik. Petugas di sana tersebar di titik-titik ibadah, selalu ada petugas Indonesia. Jadi kemungkinan jemaah tersesat itu kecil karena selalu ada yang membantu,” ujarnya usai tiba di Masjid Raya Baitul Izzah Islamic Center Tarakan, Rabu (17/6).
Menurut Ari, pengaturan jadwal ibadah oleh maktab juga membuat pelaksanaan lempar jumrah berlangsung lebih tertib. Sehingga tidak terjadi penumpukan jemaah dalam waktu bersamaan.
“Tidak berdesakan karena kita dijadwalkan. Setiap negara punya jadwal melontar jumrah yang sudah ditentukan dan diatur maktab masing-masing. Jadi sesuai regulasi Arab Saudi. Semua aman,” katanya.
Namun demikian, ia mengungkapkan masih terdapat kendala pada fase perpindahan jemaah dari Muzdalifah menuju Mina. Menurutnya, proses tersebut sempat mengalami keterlambatan akibat distribusi bus yang belum optimal.
“Di Muzdalifah kami menunggu sekitar 4 sampai 5 jam untuk diangkut ke Mina. Itu yang jadi catatan. Karena koordinasi antara petugas dan maktab kurang, sehingga pengangkutan agak lambat,” jelasnya.
Ia menambahkan, perjalanan yang dilakukan sejak tengah malam hingga menjelang pagi membuat kondisi fisik jemaah cukup terkuras. Meski seluruh proses akhirnya dapat dilalui dengan baik.
Pengalaman serupa disampaikan jemaah lainnya, Asmauliah. Ia menyebut kawasan Mina menjadi lokasi yang paling menguji kesabaran. Karena jumlah jemaah yang sangat besar tidak sebanding dengan fasilitas yang tersedia.
“Di Mina itu cobaannya besar, sebagian tidak dapat tempat. Toilet juga terbatas sementara orangnya banyak. Jadi antre bisa sampai dua sampai tiga jam,” ujarnya.
Kondisi tempat istirahat yang terbatas juga menjadi tantangan tersendiri. Menurutnya, situasi tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran selama menjalankan ibadah haji.
“Tempat tidur pun terbatas, kadang kita duduk saja sudah bersyukur. Tapi di situ kita belajar sabar, merasakan apa yang dirasakan semua orang, tidak ada perbedaan,” katanya.
Asmauliah menuturkan tantangan fisik lainnya dirasakan saat melaksanakan lempar jumrah yang mengharuskan jemaah berjalan kaki dengan jarak cukup jauh.
“Tantangan terberat itu lempar jumrah. Pulang-pergi bisa sekitar 10 kilometer dalam tiga hari berturut-turut. Tapi alhamdulillah bisa dijalani,” ujarnya.
Meski menghadapi cuaca panas ekstrem, kondisi kesehatannya relatif terjaga. Ia hanya mengalami pilek selama dua hari dan kembali pulih setelah beristirahat.
“Di Madinah panasnya seperti berhadapan dengan bara api. Tapi karena hati kita tenang, semuanya terasa lebih ringan,” katanya.
Di sisi lain, Asmauliah menilai pelayanan selama berada di Tanah Suci berjalan cukup baik. Terutama transportasi bus salawat yang membantu mobilitas jemaah menuju Masjidil Haram.
“Tapi alhamdulillah semuanya lancar. Transportasi bus salawat juga bagus, semuanya berjalan baik,” tandasnya.
Sementara itu, Pemerintah Kota Tarakan menyambut kepulangan 186 jemaah haji yang tiba secara bertahap pada Rabu (17/6).
Asisten Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Kota Tarakan Ajat Jatnika mengatakan, seluruh jemaah dipulangkan dalam tiga gelombang sesuai jadwal penerbangan.
“Jemaah haji kita seluruhnya 186 orang. Rombongan pertama 11 jemaah, rombongan kedua 66 jemaah, dan rombongan ketiga sebanyak 103 jemaah. InsyaAllah hari ini semuanya pulang,” ujarnya.
Seluruh jemaah yang tiba di Bandara Juwata Tarakan langsung diarahkan menuju Masjid Raya Baitul Izzah Islamic Center untuk diserahkan kepada keluarga.
Pemerintah Kota hanya menyiapkan armada bus penjemputan. Sedangkan barang bawaan utama telah ditangani panitia penyelenggara.
“Barang-barang besar sudah diurus panitia. Jemaah cukup membawa tas tentengan saja,” pungkasnya. (sas/uno)
Editor : Nurismi