Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

BPS Catat Arus Migrasi ke Kaltara Didominasi Pendatang Asal Jatim dan NTT

Nurismi • Minggu, 14 Juni 2026 | 07:10 WIB
 Kepala BPS Tarakan, Umar Riyadi. (SEPTIAN ASMADI/HRK)
Kepala BPS Tarakan, Umar Riyadi. (SEPTIAN ASMADI/HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA — Posisi Kota Tarakan sebagai pintu gerbang Kalimantan Utara (Kaltara) terus mendorong pertumbuhan jumlah penduduk, melalui arus migrasi dari berbagai daerah di Indonesia. 

Selain faktor kelahiran, perpindahan penduduk menjadi salah satu penyumbang utama bertambahnya populasi di kota yang memiliki akses pelabuhan dan bandara tersebut.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Tarakan Umar Riyadi mengatakan, perkembangan jumlah penduduk di Tarakan dipengaruhi oleh kombinasi antara angka kelahiran dan pergerakan migrasi masuk yang lebih besar dibandingkan migrasi keluar.

“Kalau bicara Tarakan itu kombinasi. Antara kelahiran, kemudian migrasi masuk dibanding migrasi keluar. Jadi perkembangan penduduk Tarakan itu selalu bertambah,” ujarnya, Jumat (12/6).

Menurut Umar, sebagian besar masyarakat yang datang ke Kaltara umumnya menjadikan Tarakan. Sebagai titik awal kedatangan sebelum melanjutkan perjalanan menuju kabupaten lain seperti Nunukan, Tana Tidung, Bulungan maupun Malinau.

Keberadaan pelabuhan dan bandar udara membuat Tarakan menjadi simpul utama mobilitas orang maupun barang di wilayah utara Kalimantan. Kondisi tersebut menjadikan dinamika perpindahan penduduk di kota ini berlangsung secara terus-menerus.

“Tarakan itu menjadi titik awal biasanya orang migrasi masuk ke Kalimantan Utara. Karena memang Tarakan punya pelabuhan dan punya bandara,” katanya.

Berdasarkan pengamatan BPS, arus migrasi menuju Kaltara masih didominasi masyarakat yang berasal dari Provinsi Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur. Kedua daerah tersebut menjadi penyumbang terbesar pendatang yang masuk ke wilayah ini.

“Yang paling dominan datang ke Kalimantan Utara itu dari Jawa Timur sama Nusa Tenggara Timur,” ungkap Umar.

Ia menjelaskan, tidak seluruh pendatang yang tiba di Tarakan memilih menetap di kota tersebut. Sebagian menjadikan Tarakan sebagai daerah transit sebelum berpindah ke kabupaten lain sesuai tujuan pekerjaan, usaha, maupun kepentingan lainnya.

Karena itu, BPS tidak hanya mencatat jumlah migrasi masuk. Tetapi juga memantau pola perpindahan penduduk setelah berada di Kalimantan Utara. Untuk mengetahui kecenderungan mereka menetap atau berpindah ke daerah lain.

“Kita lihat lagi ini orang akan stay lama di Tarakan atau kemudian beralih ke kabupaten sekitar seperti Nunukan, Tana Tidung, Bulungan, dan Malinau,” jelasnya.

Selain faktor migrasi masyarakat umum, pertumbuhan penduduk di Tarakan juga dipengaruhi mobilitas personel militer beserta keluarganya.

Sebagai wilayah yang memiliki posisi strategis, penambahan satuan maupun personel di lingkungan pertahanan turut memberikan kontribusi terhadap peningkatan jumlah penduduk.

“Tarakan juga menjadi daerah strategis dari sisi militer. Jadi ketika ada penambahan personel dan unit pasukan baru, itu juga memengaruhi jumlah penduduk,” katanya.

Menurut Umar, perkembangan fasilitas perkotaan menjadi salah satu faktor yang menarik masyarakat untuk datang maupun menetap di Tarakan.

Aktivitas perdagangan, transportasi, layanan publik, pendidikan, hingga fasilitas kesehatan yang relatif lebih lengkap dibandingkan wilayah lain di Kalimantan Utara menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendatang.

Keberadaan berbagai fasilitas tersebut juga memperkuat peran Tarakan sebagai pusat aktivitas ekonomi sekaligus gerbang mobilitas masyarakat di Kaltara, sehingga arus perpindahan penduduk diperkirakan akan terus berlangsung seiring perkembangan daerah.

“Manusia pada akhirnya akan mendekati wilayah yang fasilitasnya lengkap,” pungkas Umar. (sas/uno)

Editor : Nurismi
#pertambahan jumlah penduduk #BPS Tarakan #Kaltara