HARIAN RAKYAT KALTARA — Penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax yang mulai berlaku pada Rabu (10/6), belum memicu lonjakan antrean di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kalimantan Utara (Kaltara).
Di tengah kenaikan harga dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter, aktivitas pengisian BBM masih berlangsung normal. Dengan ketersediaan stok yang dipastikan mencukupi.
Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan melalui Sales Branch Manager (SBM) Kaltimut IV Fuel Muhammad Naufal Atiyah mengatakan, pemantauan dilakukan secara intensif sejak kebijakan harga baru diberlakukan.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan meningkatnya konsumsi maupun antrean kendaraan di SPBU.
“Pasca kenaikan harga kami memonitor ketat terkait kondisi antrean. Sejauh ini antrean terpantau normal,” ujarnya.
Selain memantau kondisi pelayanan di SPBU, Pertamina juga melakukan pengawasan terhadap ketersediaan pasokan BBM mulai dari Fuel Terminal hingga jaringan SPBU di seluruh Kalimantan Utara.
Menurutnya, stok baik untuk Pertamax maupun Pertalite berada dalam kondisi aman sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan bahan bakar.
“Kami juga memonitor stok di SPBU dan Fuel Terminal terkait kehandalan stok. Untuk produk Pertamax dan Pertalite dalam kategori aman,” katanya.
Penyesuaian harga hanya berlaku untuk BBM non-subsidi jenis Pertamax. Sementara itu, BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar tidak mengalami perubahan harga dan tetap dijual sesuai ketentuan pemerintah.
“Untuk Pertalite dan Solar Subsidi tidak ada perubahan harga. Harga tetap sesuai yang ditetapkan pemerintah,” jelas Naufal.
Guna mendukung kelancaran pelayanan kepada masyarakat, Pertamina kembali menghadirkan Helpdesk Subsidi Tepat di sejumlah SPBU yang berada di Tarakan, Nunukan, dan Bulungan.
Layanan tersebut disiapkan untuk membantu masyarakat yang mengalami kendala penggunaan QR Code maupun yang ingin melakukan pendaftaran program Subsidi Tepat.
“Helpdesk Subsidi Tepat kami bangun kembali di beberapa SPBU Tarakan, Nunukan, dan Bulungan. Untuk membantu konsumen yang mempunyai masalah QR dan ingin mendaftar Subsidi Tepat,” ungkapnya.
Pertamina juga memperkuat koordinasi dengan Polres Tarakan untuk memantau situasi di lapangan setelah penyesuaian harga Pertamax diberlakukan.
Koordinasi tersebut mencakup pemantauan kondisi keamanan, distribusi stok BBM, hingga perkembangan antrean kendaraan di SPBU.
“Kami koordinasi juga dengan Polres Kota Tarakan terkait dampak yang ditimbulkan atas kenaikan harga, stok, dan juga kondisi antrean,” tambahnya.
Hingga hari pertama penerapan harga baru, distribusi BBM di Kalimantan Utara dilaporkan berjalan lancar tanpa gangguan berarti. Pertamina mengimbau masyarakat untuk melakukan pembelian sesuai kebutuhan.
Karena pasokan BBM di wilayah tersebut dipastikan dalam kondisi mencukupi dan penyalurannya tetap berjalan normal.
Di Tanjung Selor, harga Pertamax yang sebelumnya berada di kisaran Rp 12.800 per liter kini naik menjadi sekitar Rp 16.900 per liter atau bertambah Rp 4.100 per liter. Kenaikan harga tersebut diterima secara mendadak oleh pengelola SPBU.
Pengawas SPBU Sengkawit Tanjung Selor, Aldi mengaku baru memperoleh informasi resmi dari Pertamina pada malam hari sebelum kebijakan diberlakukan.
“Kami baru mendapat informasi tadi malam melalui grup WhatsApp dari Pertamina. Jadi memang informasinya cukup mendadak,” ujarnya, Rabu (10/6).
Meski kenaikan harga terbilang signifikan, Aldi menyebut tidak terjadi lonjakan pembelian ataupun antrean kendaraan menjelang pemberlakuan harga baru. Aktivitas pengisian BBM di SPBU Sengkawit tetap berjalan normal.
“Tidak ada yang membludak, kondisi masih normal seperti biasa,” katanya.
Di tengah penyesuaian harga tersebut, SPBU Sengkawit justru menghadapi persoalan pasokan. Dalam dua hari terakhir, stok Pertalite maupun Pertamax dilaporkan kosong, karena belum adanya pengiriman dari depot pemasok.
Menurut Aldi, keterlambatan distribusi diduga berkaitan dengan belum masuknya kapal pengangkut BBM ke depot.
“Belum ada pengantaran. Kemungkinan stok di depot juga sedang rendah karena belum ada kapal yang masuk,” jelasnya.
Ia menerangkan, dalam kondisi normal SPBU menerima pasokan Pertalite sekitar 16 ton per pengiriman. Namun jumlah tersebut dapat berubah tergantung ketersediaan distribusi dari pemasok.
Hingga kini, pihak SPBU belum menerima informasi resmi terkait jadwal kedatangan pasokan BBM berikutnya.
Terkait penjualan BBM bersubsidi, SPBU Sengkawit tetap menerapkan pembatasan pembelian Pertalite. Setiap kendaraan roda empat hanya diperbolehkan mengisi maksimal 40 liter dalam satu kali transaksi.
“Kalau Pertalite kami batasi 40 liter per mobil,” ucapnya.
Sementara itu, untuk Pertamax sebagai BBM nonsubsidi, tidak terdapat pembatasan volume pembelian. Namun pengelola SPBU tetap melakukan pengawasan terhadap pembelian dalam jumlah besar menggunakan jeriken maupun drum.
“Kalau Pertamax sebenarnya bebas, tetapi kami tetap menanyakan penggunaannya. Kalau untuk kebutuhan produksi seperti perkebunan, tidak kami layani,” kata Aldi.
Lanjut dia, Pertalite dan Pertamax memiliki perbedaan pada angka oktan atau Research Octane Number (RON). Pertalite memiliki RON 90, sedangkan Pertamax RON 92.
“Semakin tinggi nilai RON, kualitas pembakaran bahan bakar semakin baik dan sesuai dengan spesifikasi mesin kendaraan tertentu,” jelasnya.
Sementara itu, Pertamina Patra Niaga menyatakan penyesuaian harga Pertamax dilakukan setelah berkoordinasi dengan pemerintah sebagai regulator dan melalui mekanisme evaluasi berkala yang mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia serta harga pasar keekonomian.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun mengatakan, kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan pasokan energi dan distribusi BBM berkualitas kepada masyarakat.
“Penyesuaian harga Pertamax dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah. Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator,” ujarnya.
Pertamina memastikan ketersediaan Pertamax tetap aman di jaringan SPBU dan masyarakat dapat memperoleh informasi harga terbaru melalui kanal resmi Pertamina maupun aplikasi MyPertamina.
“Adapun BBM bersubsidi tidak mengalami perubahan harga. Pertalite tetap dijual Rp 10.000 per liter, sedangkan Biosolar tetap Rp 6.800 per liter,” sebutnya.
Untuk wilayah Kalimantan Utara, harga Pertamax per 10 Juni 2026 ditetapkan sekitar Rp 16.250 hingga Rp 16.900 per liter, menyesuaikan ketentuan distribusi dan wilayah pemasaran yang berlaku.
“Kenaikan ini menjadikan Pertamax sebagai satu-satunya produk BBM yang mengalami penyesuaian harga pada periode Juni 2026. Sementara produk Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex tetap bertahan pada harga sebelumnya,” tutupnya. (sas/fai/uno)
Editor : Nurismi