HARIAN RAKYAT KALTARA — Suhu udara yang menembus 42 derajat Celsius di Kota Madinah menjadi tantangan awal yang harus dihadapi ratusan jemaah haji asal Kalimantan Utara (Kaltara) dalam menjalani rangkaian ibadah di Tanah Suci.
Di tengah cuaca panas ekstrem tersebut, para jemaah juga dihadapkan pada kendala layanan digital Nusuk yang digunakan untuk mengakses sejumlah layanan ibadah, termasuk masuk ke kawasan Raudhah.
Sebanyak 358 jemaah asal Kalimantan Utara yang tergabung dalam Kloter 7 Embarkasi Balikpapan bersama dua jemaah asal Kalimantan Timur berstatus tanazul kini menjalani aktivitas ibadah di Madinah, sebelum diberangkatkan menuju Kota Makkah.
Ketua Kloter 7 Balikpapan Sayid Abdullah, mengatakan seluruh jemaah saat ini dalam kondisi baik dan tetap mengikuti rangkaian kegiatan ibadah meski harus beradaptasi dengan suhu udara yang cukup tinggi.
“Di Madinah, siang hari bisa mencapai 40 sampai 42 derajat, sedangkan malam sekitar 31 sampai 33 derajat,” ujarnya saat dihubungi melalui telepon seluler, Selasa (12/5).
Menurutnya, kondisi cuaca tersebut membuat jemaah harus menyesuaikan pola aktivitas sehari-hari. Terutama dalam mengatur waktu keluar hotel menuju Masjid Nabawi. Agar tidak terlalu lama terpapar panas matahari pada siang hari.
Meski demikian, lokasi hotel yang ditempati rombongan Kloter 7 dinilai cukup membantu aktivitas ibadah para Jemaah. Karena berada sangat dekat dengan Masjid Nabawi.
“Hotel kami sangat dekat, hanya sekitar dua menit menuju Masjid Nabawi, jadi ini sangat membantu jemaah dalam beribadah,” katanya.
Selain menghadapi cuaca panas, jemaah juga sempat mengalami kendala penggunaan aplikasi Nusuk. Aplikasi tersebut menjadi salah satu akses utama bagi jemaah untuk memasuki area Raudhah dan mengakses layanan ibadah tertentu di Masjid Nabawi.
“Ada kendala di aplikasi Nusuk, kadang tidak stabil saat digunakan untuk masuk Raudhah, jadi harus dicoba beberapa kali,” kata Sayid.
Untuk mengatasi masalah tersebut, petugas kloter mengarahkan jemaah melakukan pembaruan data di counter Nusuk yang tersedia di sekitar kawasan Masjid Nabawi. Petugas pendamping juga turut membantu proses penyesuaian aplikasi agar dapat kembali digunakan.
“Kalau ada kendala, kita arahkan untuk update di counter Nusuk yang ada di sekitar masjid, dan petugas juga membantu,” jelasnya.
Selain aplikasi digital, seluruh jemaah sebelumnya juga telah dibekali kartu Nusuk sejak dari embarkasi Balikpapan sebagai alternatif akses layanan ibadah di Arab Saudi.
“Selain aplikasi, jemaah juga sudah dibekali kartu Nusuk dari Balikpapan, jadi ada alternatif akses jika terjadi kendala,” tambahnya.
Selama berada di Madinah, para jemaah menjalani sejumlah rangkaian ibadah. Mulai dari salat berjamaah di Masjid Nabawi, pelaksanaan sunnah arbain, hingga ziarah ke sejumlah lokasi bersejarah Islam.
Beberapa lokasi yang telah dikunjungi di antaranya Jabal Uhud, Masjid Quba, Masjid Qiblatain, serta kawasan kebun kurma yang menjadi bagian dari agenda ziarah jemaah.
“Alhamdulillah kegiatan berjalan baik, jemaah tetap bisa mengikuti salat berjamaah, sunnah arbain, dan ziarah ke tempat-tempat bersejarah,” ujarnya.
Sayid juga menjelaskan, dalam Kloter 7 terdapat dua jemaah asal Kalimantan Timur berstatus tanazul yang sebelumnya belum dapat diberangkatkan bersama Kloter 6. Setelah melalui pemeriksaan ulang, keduanya akhirnya dinyatakan layak berangkat bersama rombongan Kloter 7.
“Setelah dilakukan pemeriksaan ulang, termasuk evaluasi kondisi kesehatan dan administrasi, akhirnya dinyatakan layak dan bisa diberangkatkan bersama Kloter 7,” katanya.
Sesuai jadwal, rombongan Kloter 7 Embarkasi Balikpapan akan diberangkatkan menuju Kota Makkah pada 14 Mei 2026 pukul 17.00 waktu Arab Saudi dan diperkirakan tiba sekitar pukul 22.00 waktu setempat. Untuk melaksanakan rangkaian ibadah umrah wajib.
Pihak kloter terus mengingatkan seluruh jemaah agar menjaga kondisi kesehatan, memperbanyak konsumsi air. Serta mengurangi aktivitas berlebihan pada siang hari demi menghindari risiko kelelahan akibat suhu panas ekstrem.
“Kami selalu mengingatkan jemaah untuk menyesuaikan aktivitas, terutama di siang hari, menjaga kondisi tubuh, dan tidak memaksakan diri,” pungkasnya. (sas/uno)
Editor : Nurismi