Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Ekonomi Kaltara Tumbuh Perkasa 5,23 Persen, Sektor Konstruksi dan Perdagangan Jadi Penopang Utama!

Nurismi • Rabu, 13 Mei 2026 | 15:30 WIB
PAPARAN: Kepala KPwBI Kaltara Hasiando Ginsar Manik, memaparkan perkembangan ekonomi Kaltara, Selasa (12/5). (SEPTIAN ASMADI/HRK)
PAPARAN: Kepala KPwBI Kaltara Hasiando Ginsar Manik, memaparkan perkembangan ekonomi Kaltara, Selasa (12/5). (SEPTIAN ASMADI/HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA — Di tengah ketidakpastian ekonomi global, perang dagang antarnegara, hingga tensi geopolitik internasional yang terus memanas. Ekonomi Kalimantan Utara (Kaltara) justru menunjukkan daya tahan yang kuat. 

Pada triwulan I 2026, pertumbuhan ekonomi provinsi ke-34 di Indonesia itu tercatat mencapai 5,23 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Capaian tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa geliat pembangunan dan investasi di Kaltara masih berlangsung agresif.

Terutama ditopang pembangunan kawasan industri, proyek strategis nasional, hingga aktivitas perdagangan yang terus meningkat.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kaltara, Hasiando Ginsar Manik mengatakan, kondisi ekonomi daerah sejauh ini masih berada dalam tren positif meski tekanan global belum sepenuhnya mereda.

“Ekonomi Kaltara tetap tumbuh tinggi pada triwulan I 2026, yaitu sebesar 5,23 persen secara tahunan,” ujarnya, Selasa (12/5).

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tersebut terutama ditopang dua sektor utama yakni konstruksi dan perdagangan.

Kedua sektor itu masih bergerak ekspansif seiring tingginya aktivitas pembangunan infrastruktur dan pengembangan kawasan industri di wilayah Kaltara.

Pembangunan berbagai proyek strategis, termasuk kawasan industri berbasis hilirisasi, dinilai memberi efek berantai terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Tidak hanya meningkatkan kebutuhan tenaga kerja. Namun juga mendorong distribusi barang dan jasa di berbagai daerah.

“Lapangan usaha konstruksi dan perdagangan masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Kaltara pada awal tahun ini,” katanya.

Selain dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi juga didukung meningkatnya investasi serta net ekspor yang tetap tumbuh positif.

Arus investasi yang masuk ke Kaltara dinilai masih cukup tinggi seiring percepatan pembangunan industri pengolahan berbasis sumber daya alam.

Kaltara sendiri saat ini menjadi salah satu daerah yang diproyeksikan menjadi pusat hilirisasi industri di wilayah utara Indonesia.

Pengembangan industri aluminium hingga hilirisasi pangan disebut menjadi peluang besar, yang dapat memperkuat struktur ekonomi daerah dalam jangka panjang.

Hasiando menjelaskan, hilirisasi menjadi langkah penting agar Kaltara tidak hanya bergantung pada penjualan bahan mentah. Tetapi mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.

“Kami melihat masih ada ruang pertumbuhan ekonomi yang cukup besar, terutama dari pengembangan hilirisasi industri dan sektor pangan di Kalimantan Utara,” jelasnya.

Menurutnya, pengembangan sektor hilir juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru. Sekaligus meningkatkan daya saing daerah di tingkat nasional maupun internasional.

Meski demikian, Bank Indonesia mengingatkan bahwa ancaman eksternal masih perlu diwaspadai. Ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi harga komoditas dunia, hingga konflik geopolitik internasional dinilai bisa mempengaruhi stabilitas perdagangan dan investasi.

Selain itu, struktur ekonomi Kaltara yang masih bergantung pada pasokan barang dari luar daerah juga menjadi tantangan tersendiri.

Ketergantungan tersebut dinilai berisiko mempengaruhi stabilitas distribusi dan harga barang ketika terjadi gangguan pasokan.

Kondisi geografis Kaltara yang berbatasan langsung dengan negara lain. Serta masih terbatasnya sektor produksi lokal menjadi faktor yang perlu diperkuat, agar ketahanan ekonomi daerah lebih stabil.

Bank Indonesia pun mendorong penguatan sektor produksi lokal. Serta peningkatan sinergi lintas sektor, agar momentum pertumbuhan ekonomi dapat terus dijaga.

“Sinergi antara pemerintah daerah, dunia usaha, perbankan, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi penting. Agar momentum pertumbuhan ekonomi Kaltara tetap kuat dan berkelanjutan,” tuturnya.  

Sementara itu, untuk kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) mengalami inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) sebesar 2,69 persen pada April 2026. 

Kenaikan tersebut ditandai dengan meningkatnya indeks harga dari 107,66 pada April 2025 menjadi 110,56 pada April 2026. Kondisi ini menunjukkan masih adanya tekanan harga pada sektor jasa makanan dan minuman di Kaltara. 

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara Mustaqim menjelaskan, kelompok penyediaan makanan dan minuman terdiri dari subkelompok jasa pelayanan makanan dan minuman yang pada April 2026 juga mengalami inflasi tahunan sebesar 2,69 persen. 

Menurutnya, kelompok tersebut memberikan andil atau sumbangan inflasi y-on-y sebesar 0,23 persen terhadap inflasi daerah secara keseluruhan. 

“Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran pada April 2026 mengalami inflasi year-on-year sebesar 2,69 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 0,23 persen,” ujarnya, Senin (11/5) lalu. 

Ia mengatakan, terdapat sejumlah komoditas yang menjadi penyumbang utama inflasi pada sektor tersebut.

Komoditas paling dominan adalah nasi dengan lauk yang memberikan andil inflasi sebesar 0,09 persen. Selain itu, kue kering berminyak dan bakso siap santap masing-masing menyumbang inflasi sebesar 0,03 persen. 

Sementara ikan goreng, bubur, dan ayam goreng masing-masing memberikan andil sebesar 0,02 persen. Sedangkan sate, mie, dan gado-gado masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,01 persen. 

Tidak hanya secara tahunan, kelompok penyediaan makanan dan minuman juga tercatat memberikan andil terhadap inflasi bulanan atau month-to-month (m-to-m) pada April 2026 sebesar 0,06 persen. 

“Pada inflasi bulanan tersebut, nasi dengan lauk dan kue kering berminyak menjadi komoditas dominan dengan andil masing-masing sebesar 0,02 persen,” ungkapnya. 

Ia menjelaskan, meningkatnya inflasi pada sektor restoran dan jasa makanan dipengaruhi oleh naiknya biaya bahan baku serta tingginya permintaan masyarakat terhadap makanan siap saji. Meski demikian, inflasi sektor makanan dan minuman di Kaltara masih berada pada level yang terkendali. 

“Pemerintah dan instansi terkait diharapkan terus melakukan pemantauan harga guna menjaga stabilitas inflasi dan daya beli masyarakat di daerah,” tutupnya. (sas/fai/uno) 

Editor : Nurismi
#pertumbuhan ekonomi #Bank Indonesia Kaltara