Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Hantavirus vs Leptospirosis: Kenali Perbedaan Gejala Penyakit yang Sama-sama Ditularkan Tikus

Nurismi • Selasa, 12 Mei 2026 | 12:30 WIB
Pengelola Program Surveilans Dinas Kesehatan Kota Tarakan, Irsal. (SEPTIAN ASMADI/HRK)
Pengelola Program Surveilans Dinas Kesehatan Kota Tarakan, Irsal. (SEPTIAN ASMADI/HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA— Belum ditemukannya kasus hantavirus di Kota Tarakan tidak membuat ancaman penyakit yang ditularkan tikus itu diabaikan. 

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan justru meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kebersihan lingkungan.

Terutama di kawasan permukiman padat yang rawan menjadi tempat berkembang biaknya tikus. Kewaspadaan tersebut disampaikan menyusul adanya laporan kasus hantavirus di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk di Kalimantan Barat. 

Meski hingga kini belum ada laporan kasus terkonfirmasi di Tarakan maupun Kalimantan Utara. Potensi penularan tetap dinilai perlu diantisipasi sejak dini.

Pengelola Program Surveilans Dinas Kesehatan Kota Tarakan Irsal mengatakan, tikus dan curut menjadi hewan utama pembawa virus tersebut. Karena itu, pengendalian lingkungan menjadi langkah paling penting untuk mencegah penyebaran penyakit.

“Kalau di beberapa wilayah di Indonesia sudah ada. Di Kalimantan ada satu, Kalimantan Barat,” ujarnya, Senin (11/5).

Menurutnya, masyarakat perlu memastikan lingkungan tempat tinggal tetap bersih, agar tidak menjadi habitat tikus. Keberadaan tikus di sekitar rumah dinilai meningkatkan risiko penularan penyakit zoonosis, termasuk hantavirus.

“Sebisa mungkin menghindari, menjaga kebersihan. Jadi di sekitar rumah, tempat tinggal kita itu tidak ada tikus,” katanya.

Ia menjelaskan, penularan hantavirus dapat terjadi melalui urine, air liur, maupun kotoran tikus. Risiko meningkat ketika kotoran tikus mengering lalu berubah menjadi debu dan terhirup manusia tanpa disadari.

“Penularan ini melalui urine, kemudian saliva atau liur. Kemudian kotoran tikus juga membawa penyakit ini. Kalau kotoran ini jadi debu, bisa terhirup dan masuk ke tubuh,” jelasnya.

Meski demikian, hingga saat ini belum terdapat laporan resmi yang menyatakan hantavirus dapat menular antarmanusia. Penularan yang ditemukan sejauh ini masih berasal dari hewan ke manusia.

“Sampai saat ini belum ada laporan dari WHO bahwa hantavirus ini bisa menularkan sesama manusia. Tetap yang ditemukan masih dari hewan ke manusia,” ujarnya.

Selain hantavirus, masyarakat juga diminta mewaspadai leptospirosis yang sama-sama ditularkan melalui tikus.

Menurut Irsal, penyakit tersebut memiliki gejala khas berupa mata dan kulit menguning akibat gangguan pada fungsi ginjal.

“Kalau leptospirosis itu sampai matanya kuning, itu bedanya. Tapi penyebabnya sama-sama tikus,” katanya.

Ia menambahkan, leptospirosis dapat menimbulkan dampak serius apabila terlambat ditangani. Karena dapat menyebabkan gangguan hingga gagal ginjal.

Gejala awal biasanya berupa demam, lemas, dan kadang disertai batuk maupun pilek. Sehingga kerap menyerupai penyakit infeksi lainnya.

“Kalau tidak ditangani cepat, bisa menyebabkan gagal ginjal karena menyerang ginjal,” jelasnya.

Dinas Kesehatan Kota Tarakan saat ini terus memperkuat edukasi kepada masyarakat dan melakukan pengawasan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR).

Langkah tersebut dilakukan untuk mendeteksi lebih awal kemungkinan munculnya penyakit zoonosis di wilayah Tarakan.

“Kami tetap melakukan sosialisasi dan surveilans aktif terkait penyakit-penyakit zoonosis,” pungkasnya. (sas/uno)

Editor : Nurismi
#Hantavirus #leptopirosis #Dinkes Tarakan