HARIAN RAKYAT KALTARA — Harapan menghadirkan moda transportasi kereta api di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) kembali menguat.
Di tengah keterbatasan akses transportasi yang selama ini menjadi tantangan utama. Peluang besar datang melalui rencana investasi dari pihak swasta yang mulai dibahas secara serius.
Gubernur Kaltara, Zainal Arifin Paliwang, menerima audiensi dari PT Indonesia Transit Synergy (INTRA) beberapa waktu lalu.
PT INTRA menawarkan pembangunan jaringan kereta api di wilayah tersebut. Pertemuan ini menjadi titik awal pembahasan lebih lanjut terkait proyek strategis tersebut.
Direktur Utama PT INTRA, Rully Noviandar memaparkan, rencana investasi dengan nilai fantastis, yakni mencapai Rp 20-Rp 25 triliun. Menariknya, seluruh pembiayaan proyek ini direncanakan berasal dari investor tanpa menggunakan anggaran pemerintah.
Tak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, proyek ini juga diproyeksikan memberikan dampak ekonomi signifikan. Termasuk membuka sekitar 2.000 lapangan kerja bagi masyarakat lokal di Kaltara.
Gubernur Zainal menyambut baik rencana tersebut dan menyampaikan apresiasi atas komitmen investasi yang ditawarkan. Ia menilai, pembangunan jaringan kereta api tidak hanya akan meningkatkan konektivitas, tetapi juga menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi daerah.
“Saya bersyukur PT INTRA akan berinvestasi membangun jaringan kereta api di Kaltara. Mudah-mudahan ini berdampak positif bagi masyarakat Kaltara dan Kalimantan pada umumnya,” ujarnya, Rabu (22/4) lalu.
Keberadaan kereta api diharapkan mampu menghubungkan berbagai wilayah di Kaltara. Sekaligus membuka akses ke kawasan strategis lainnya, termasuk negara tetangga seperti Brunei Darussalam dan Malaysia. S
elain itu, jalur ini juga berpotensi terintegrasi dengan Ibu Kota Nusantara (IKN). Sehingga memperkuat posisi Kaltara dalam jaringan transportasi regional.
“Rencana pembangunan kereta api di Kaltara sendiri sebenarnya bukan hal baru. Sejak 2015, pemerintah daerah telah menyusun masterplan yang masuk dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNas) 2030,” jelasnya.
Terpisah, Sekretaris DPMPTSP Kaltara Rahman Putrayani menjelaskan, dokumen perencanaan tersebut telah melalui tahap studi kelayakan (Feasibility Study) dan desain teknis (Detail Engineering Design). Saat ini, pembaruan masterplan tengah disiapkan agar sesuai dengan kondisi terkini.
“Masterplan sudah masuk tahap FS dan DED, tinggal diperbarui. Saat ini juga masih dalam proses kajian hukum untuk kerja samanya,” terangnya.
Pemerintah Provinsi Kaltara melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) juga tengah mematangkan dokumen kerja sama, termasuk penyusunan draft nota kesepahaman (MoU).
Penandatanganan kerja sama nantinya dapat dilakukan di Tanjung Selor sebagai ibu kota provinsi. Ia ingin momentum tersebut menjadi tonggak awal realisasi proyek kereta api di Bumi Benuanta.
“Kami mengundang PT INTRA untuk datang ke Tanjung Selor ketika draft MoU sudah selesai. Kita harapkan penandatanganannya bisa dilakukan di sini,” ungkapnya.
Dengan dukungan investasi besar dan kesiapan dokumen perencanaan, proyek kereta api di Kaltara kini selangkah lebih dekat dari sekadar wacana menuju realisasi nyata. (fai/uno)
Editor : Nurismi