Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Waspada Pusaran Air! SAR Tarakan Ungkap Bahaya Pertemuan Arus di Perairan Bunyu dan Tana Tidung

Nurismi • Rabu, 8 April 2026 | 09:35 WIB
PENCARIAN KORBAN: Personel Kantor SAR Tarakan melakukan operasi kecelakaan laut. (HRK)
PENCARIAN KORBAN: Personel Kantor SAR Tarakan melakukan operasi kecelakaan laut. (HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA — Pelaksanaan Siaga SAR Khusus Lebaran di Tarakan menjadi bahan evaluasi penting bagi Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) setempat, terutama terkait aspek keselamatan transportasi laut. 

Meski secara umum berjalan lancar, masih ditemukan adanya kejadian kecelakaan laut yang diduga akibat kelalaian dalam mematuhi peringatan cuaca.

Kepala Kantor SAR Tarakan Syahril menyoroti pentingnya kepatuhan terhadap imbauan keselamatan. Khususnya peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“Kami menyarankan kepada penyedia jasa transportasi laut agar lebih mengutamakan keselamatan. Kalau memang ada peringatan cuaca dari BMKG, sebaiknya ditunda dulu untuk berlayar,” ujarnya, Selasa (7/4).

Menurutnya, sejumlah insiden kecelakaan laut yang terjadi selama periode siaga Lebaran diduga karena korban memaksakan diri berlayar di tengah kondisi cuaca yang tidak mendukung.

Hal ini tidak hanya meningkatkan risiko kecelakaan, tetapi juga menyulitkan tim SAR saat melakukan pencarian.

“Kalau peringatan cuaca tidak diindahkan, pasti akan terjadi sesuatu. Dan itu juga menyulitkan kami dalam proses pencarian, karena kondisi di lapangan tidak mendukung,” tegasnya.

Selain faktor manusia, kondisi alam di perairan juga menjadi tantangan tersendiri dalam operasi SAR. Seperti yang terjadi di perairan Pulau Bunyu dan perairan Kabupaten Tana Tidung (KTT). Di mana terdapat pertemuan arus air tawar dan air asin yang menyebabkan pusaran air tidak terduga.

“Faktor alam juga tidak bisa diprediksi sepenuhnya. Di Bunyu itu ada pertemuan arus yang cukup berbahaya, sehingga menjadi kendala dalam proses pencarian,” jelasnya.

Dalam pelaksanaan Siaga SAR Khusus Lebaran, Kantor SAR Tarakan mencatat dua operasi SAR yang dilakukan di wilayah perairan.

Seluruh korban dalam dua kejadian tersebut berhasil ditemukan. Meskipun salah satunya ditemukan setelah masa operasi resmi berakhir.

“Secara keseluruhan hanya dua operasi yang kita tangani, dan alhamdulillah semua korban berhasil ditemukan,” katanya.

Ia menjelaskan, sesuai aturan, operasi SAR dilaksanakan maksimal selama tujuh hari. Namun dalam salah satu kasus, korban baru ditemukan setelah operasi resmi ditutup. Sehingga penanganannya dilakukan di luar masa operasi.

“Walaupun ditemukan setelah tujuh hari, tetap kita tangani dan korban bisa diserahkan ke pihak keluarga,” ungkapnya.

Untuk memastikan identitas korban, tim SAR juga berkoordinasi dengan pihak Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kaltara guna melakukan autopsi.

Dalam operasi SAR tersebut, berbagai unsur terlibat, mulai dari TNI, Polri, pemerintah daerah, hingga masyarakat. Sejumlah peralatan juga dikerahkan, seperti kapal RBB (Rigid Buoyancy Boat), kapal RIB (Rigid Inflatable Boat), serta alat deteksi bawah air Aquaeye.

Sementara itu, pemantauan di wilayah darat selama arus mudik dan balik Lebaran juga berjalan aman dan terkendali.

Pengawasan dilakukan di sejumlah titik strategis, seperti Pantai Amal, Pelabuhan Malundung, Pelabuhan Tengkayu I Tarakan, Pelabuhan Feri Juwata hingga Bandara Internasional Juwata Tarakan.

“Untuk di darat, tidak ada kejadian menonjol. Semua berjalan lancar sampai akhir masa siaga,” ungkapnya. (sas/uno)

Editor : Nurismi
#titik rawan kecelakaan #sar tarakan #Kaltara