Timur Tengah Memanas, Kemenhaj Tarakan Pastikan Jemaah Umrah Asal Kaltara Tetap Aman

Beraupost • Dipublikasikan Rabu, 1 April 2026 | 12:30 WIB
Ilustrasi umrah. (Freepik)
Ilustrasi umrah. (Freepik)
HARIAN RAKYAT KALTARA — Di tengah meningkatnya tensi konflik di kawasan Timur Tengah, kabar menenangkan datang bagi calon jemaah umrah asal Kalimantan Utara. 
Hingga saat ini, pelaksanaan ibadah umrah dipastikan tetap berjalan aman dan lancar. Terutama bagi jemaah yang menggunakan penerbangan langsung menuju Arab Saudi.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Tarakan H Asmawan, menegaskan bahwa situasi geopolitik yang berkembang tidak berdampak langsung terhadap perjalanan ibadah umrah dari Indonesia.
“Selama menggunakan penerbangan langsung Indonesia menuju Jeddah atau Madinah, jemaah dalam kondisi aman. Tidak ada gangguan dari situasi konflik yang terjadi,” ujarnya, Selasa (31/3).
Menurutnya, faktor utama yang menjaga keamanan jemaah adalah pemilihan rute perjalanan. Penerbangan langsung dinilai lebih aman karena tidak melintasi atau singgah di wilayah yang berpotensi terdampak konflik.
Sebaliknya, potensi kendala justru lebih sering dialami oleh jemaah yang memilih paket umrah dengan tambahan perjalanan ke negara lain.
Paket tersebut biasanya mencakup kunjungan ke sejumlah destinasi seperti Turki atau Dubai, yang mengharuskan jemaah melakukan transit di beberapa negara.
“Yang perlu diwaspadai itu jemaah yang mengambil paket tambahan ziarah ke negara ketiga. Karena ada transit, mereka bisa terdampak kebijakan atau situasi di wilayah tersebut,” jelas Asmawan.
Meski demikian, Pemerintah Arab Saudi hingga kini masih membuka akses umrah bagi jemaah internasional, termasuk dari Indonesia.
Tidak ada pembatasan maupun penutupan layanan yang diberlakukan, sehingga aktivitas ibadah tetap berjalan normal.
“Arab Saudi tetap membuka layanan umrah seperti biasa. Jadi tidak ada alasan untuk khawatir selama mengikuti prosedur yang ada,” tegasnya.
Di sisi lain, tingginya minat masyarakat Kalimantan Utara untuk menunaikan ibadah umrah juga menjadi perhatian pemerintah.
Berdasarkan data Kemenag Tarakan, jumlah jemaah umrah asal Tarakan berkisar antara 200 hingga 300 orang setiap bulan.
Tingginya angka tersebut mendorong pihak Kemenag untuk memperketat pengawasan terhadap biro perjalanan umrah. 
Pasalnya, masih terdapat sejumlah travel yang belum secara aktif melaporkan data jemaah yang diberangkatkan.
“Kami minta seluruh biro travel lebih proaktif dalam melaporkan data jemaah. Ini penting untuk memudahkan pemantauan dan penanganan jika terjadi kendala di luar negeri,” katanya.
Ia mengakui, selama ini pendataan jemaah seringkali baru diketahui saat proses pemeriksaan dokumen di bandara. Kondisi ini dinilai kurang ideal karena dapat menghambat koordinasi jika terjadi situasi darurat.
Sebagai bentuk pengawasan, Kemenag Tarakan terus melakukan pemantauan sejak proses keberangkatan hingga kepulangan jemaah.
 Hal ini dilakukan untuk memastikan seluruh jemaah asal daerah tetap dalam kondisi aman selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
Sejauh ini, laporan dari jemaah yang telah kembali ke Tanah Air menunjukkan kondisi yang kondusif. Beberapa jemaah asal Kalimantan Utara, termasuk dari Malinau, dilaporkan telah pulang dengan selamat tanpa kendala berarti.
“Mereka pulang dalam kondisi aman, sempat transit di asrama haji, kemudian melanjutkan perjalanan ke daerah masing-masing,” ujar Asmawan.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat diimbau tetap tenang dan bijak dalam memilih paket perjalanan umrah. Khususnya dengan mempertimbangkan aspek keamanan rute penerbangan yang digunakan. (sas/uno)
Editor : Nurismi
haji umrah konflik timur tengah