Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Sinyal Ekspor Langsung dari Kaltara! Kratom Desa Atap Bakal Lepas dari Bayang-bayang Kalbar

Beraupost • Jumat, 27 Maret 2026 | 07:35 WIB

Kepala Disperindagkop dan UKM Kaltara Hasriyani. (HRK)
Kepala Disperindagkop dan UKM Kaltara Hasriyani. (HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) mulai mengarahkan pengembangan kratom di wilayah perbatasan sebagai komoditas unggulan berbasis hilirisasi.

Langkah ini menyasar peningkatan kualitas produksi, agar mampu menembus pasar ekspor secara langsung, tanpa bergantung pada daerah lain.

Potensi tersebut terlihat di Desa Atap, Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan, yang selama ini dikenal memiliki tanaman kratom tumbuh liar dalam jumlah cukup besar.

Namun, pengelolaan yang belum optimal membuat nilai jual komoditas ini masih rendah.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop dan UKM) Kaltara Hasriyani menjelaskan, pemerintah daerah kini fokus pada pembenahan dari hulu ke hilir.

Salah satunya melalui rencana budidaya terarah yang dibahas dalam rapat lintas instansi, sebagai tindak lanjut dari survei lapangan pada Desember 2025 lalu.

“Selama ini kratom dari Desa Atap dijual dalam bentuk bubuk ke Kalimantan Barat, baru kemudian diekspor. Artinya, nilai tambahnya belum dinikmati langsung oleh masyarakat Kaltara,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Dalam satu kali pengiriman, volume kratom yang dipasok bisa mencapai sekitar 20 ton. Namun, kualitas kandungan mitraginin yang masih berada di kisaran 0,6 persen menjadi kendala utama.

Angka ini belum memenuhi standar ekspor yang ditetapkan pemerintah pusat, yakni minimal 1,2 persen.

Menurut Hasriyani, rendahnya kadar tersebut disebabkan tanaman kratom masih tumbuh secara liar, tanpa proses budidaya yang terkontrol.

“Karena itu, pemerintah mendorong pola tanam yang lebih terstruktur agar kualitas produk meningkat dan harga jual ikut terdongkrak,” jelasnya.

Saat ini harga kratom di tingkat petani berkisar Rp 16 ribu per kilogram. Dengan perbaikan kualitas, nilai ekonomi komoditas ini diyakini bisa meningkat signifikan.

Pemprov Kaltara juga melihat peluang besar dari ketersediaan lahan sekitar 100 hektare di Desa Atap yang berpotensi dikembangkan menjadi kawasan budidaya kratom.

Selain itu, peran kelembagaan ekonomi lokal seperti Koperasi Merah Putih diharapkan menjadi penggerak utama dalam rantai produksi dan pemasaran.

“Ke depan, kita ingin kratom ini tidak hanya menjadi komoditas mentah. Tetapi juga memiliki nilai tambah bagi masyarakat perbatasan,” bebernya.

Dengan strategi hilirisasi dan penguatan kualitas, kratom Kaltara diharapkan mampu bersaing di pasar global sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. (fai/uno)

Editor : Nurismi
#kratom #komoditas #ekspor #pemprov kaltara