Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Misi Terakhir Captain Hendrik, Menembus Kabut: Pahlawan BBM Satu Harga di Krayan Kini Berpulang ke Jakarta

Beraupost • Sabtu, 21 Februari 2026 | 09:40 WIB

DUKA PENERBANGAN: Jenazah Captain Hendrik Ludwig Adam tiba di Lanud Anang Busra Tarakan, Jumat (20/2). (SEPTIAN ASMADI/HRK)
DUKA PENERBANGAN: Jenazah Captain Hendrik Ludwig Adam tiba di Lanud Anang Busra Tarakan, Jumat (20/2). (SEPTIAN ASMADI/HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA — Duka atas insiden pesawat kargo pengangkut BBM di Krayan menyelimuti dunia penerbangan Tanah Air.

Setelah melalui proses evakuasi yang terkendala cuaca dan medan berat, jenazah Captain Hendrik Ludwig Adam, pilot pesawat Pelita Air, akhirnya tiba di Tarakan, Jumat (20/2). Sebelum diberangkatkan ke Jakarta untuk dimakamkan di Bogor.

Pesawat yang mengalami kecelakaan merupakan jenis Air Tractor AT-802 dengan registrasi PK-PAA milik Pelita Air Service.

Pesawat tersebut menjalankan misi distribusi BBM Satu Harga ke wilayah perbatasan Krayan dan hanya diawaki satu orang pilot.

Insiden terjadi sesaat setelah pesawat lepas landas dari runway 22 Bandara Long Bawan, usai menyalurkan bahan bakar. Captain Hendrik dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian.

Komandan Lanud Anang Busra Tarakan Marsma TNI Andreas A. Dhewo menjelaskan, proses pemulangan jenazah sempat tertunda akibat cuaca buruk.

“Visibility pagi tadi hanya sekitar 500 meter dengan base cloud 1.000 feet. Kami menunggu hingga kondisi membaik demi keselamatan penerbangan,” ujarnya.

Pesawat evakuasi akhirnya diberangkatkan dari Tarakan pukul 10.20 WITA dan tiba di Long Bawan pukul 11.10 WITA.

Setelah proses penanganan selesai, pesawat kembali lepas landas pukul 11.38 WITA dan mendarat di Lanud Anang Busra Tarakan pukul 12.25 WITA.

Setibanya di Tarakan, jenazah langsung dibawa ke rumah duka sementara di kawasan Gunung Lingkas Aci.

Selanjutnya, jenazah diterbangkan ke Jakarta menggunakan maskapai komersial untuk diserahkan kepada keluarga di Bogor.

Skema evakuasi tersebut mengalami perubahan dari rencana awal. Semula, jenazah akan diterbangkan langsung dari Krayan menuju Balikpapan sebelum ke Jakarta menggunakan pesawat Pelita Air.

Namun, pihak maskapai menilai rute Tarakan—Jakarta lebih efektif dan efisien. Safety Director PT Pelita Air Service, Capt. Erriza Muslim, menegaskan fokus utama perusahaan memastikan pemulangan jenazah berlangsung lancar dan penuh penghormatan.

“Hari ini prioritas kami membawa almarhum kembali ke keluarga. Kami juga memastikan seluruh proses investigasi berjalan transparan,” katanya.

Ia menyebut Pelita Air bekerja sama penuh dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan Kementerian Perhubungan dalam proses penyelidikan insiden tersebut.

Pesawat PK-PAA sendiri telah dioperasikan sejak 2021 untuk mendukung penerbangan charter kargo. Khususnya distribusi BBM Satu Harga ke wilayah perbatasan.

Karakteristik pesawat ini memang dirancang untuk medan terbatas dan hanya diawaki satu pilot tanpa awak kabin tambahan.

Proses evakuasi melibatkan sinergi berbagai unsur, mulai dari TNI AU, Basarnas, AirNav Indonesia, hingga masyarakat setempat.

Medan berbukit, licin, dan terjal sejauh 3—5 kilometer dari bandara menjadi tantangan tersendiri dalam proses penanganan korban.

Kepala Kantor SAR Tarakan Syahril mengapresiasi kolaborasi seluruh pihak yang terlibat.

“Terima kasih kepada semua unsur yang bersama-sama melaksanakan operasi di Long Bawan hingga penyerahan jenazah berjalan lancar,” singkatnya.

Kepala Bidang Teknik dan Operasi Bandara Internasional Juwata Tarakan Fahruddin Rahmat, mewakili Dirjen Perhubungan Udara dan Bandara Juwata, turut menyampaikan belasungkawa.

“Terjadinya kecelakaan pesawat Pelita yang mengakibatkan satu korban jiwa, pilotnya, menjadi duka mendalam bagi kami semua. Semoga peristiwa serupa tidak terulang di kemudian hari,” singkatnya. (sas/uno)

Editor : Nurismi
#pesawat Pelita Air jatuh #bbm satu harga #pilot #pahlawan #meninggal