Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Percepatan Pembangunan Bulungan Tingkatkan Risiko Kekerasan Gender: Komitmen Politik dan Regulasi Perlindungan Diperkuat

Beraupost • Senin, 8 Desember 2025 | 07:30 WIB
TALK SHOW: Kegiatan edukatif dan kreatif dalam memperingati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan. (FAISAL/HRK)
TALK SHOW: Kegiatan edukatif dan kreatif dalam memperingati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan. (FAISAL/HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA - Memperingati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP) dan kampanye nasional One Day One Voice (ODOV) 2025.

Berbagai komunitas perempuan di Kabupaten Bulungan menggelar kegiatan edukatif dan kreatif berupa talk show, serta cipta karya seni daur ulang sampah.

Acara bertema Stop Kekerasan, Upaya Perempuan Melintasi Batas untuk Demokrasi menjadi ruang bertemu komunitas perempuan.

Untuk memperkuat solidaritas dan komitmen bersama dalam menghentikan kekerasan berbasis gender.

Momentum ini dinilai penting mengingat dinamika pembangunan, perubahan tata ruang.

Serta meningkatnya aktivitas ekonomi di Bulungan yang turut meningkatkan risiko terjadinya kekerasan dan ketidaksetaraan gender.

Talk show interaktif menghadirkan narasumber dari berbagai latar, yakni Ketua TP PKK Kabupaten Bulungan Sri Nur Handayani, politisi muda Bulungan Andhika Masharafi, serta aktivis perempuan Kalimantan Utara Norjannah.

Sri Nur Handayani menekankan pentingnya ketahanan keluarga, kebijakan lokal, dan kepemimpinan perempuan dalam upaya pencegahan kekerasan.

Ia menegaskan, PKK melalui berbagai programnya akan terus berada di garda terdepan dalam memberikan perlindungan dan edukasi.

“Perempuan hari ini perlu terus diberikan afirmasi positif. Kami di PKK merumuskan berbagai kegiatan yang mengarah pada pemberdayaan Perempuan. Sekaligus pencegahan kekerasan sejak di akar rumput,” ujarnya, belum lama ini.

Di tempat yang sama, Politisi muda Andhika Masharafi menegaskan komitmen memperkuat representasi suara perempuan dalam proses politik dan kebijakan daerah.

Sejumlah regulasi telah disiapkan untuk memperkuat perlindungan perempuan dan anak.

“Berbagai regulasi untuk mencegah kekerasan sudah ada. Saat ini juga sedang dibahas Raperda Kabupaten Layak Anak. Salah satu upayanya mencegah pernikahan dini. Ini bagian dari langkah konkrit mencegah kekerasan terhadap perempuan,” tegasnya.

Di lain pihak, Aktivis perempuan Norjannah menyoroti meningkatnya angka kekerasan di Bulungan. Data menunjukkan tren kasus yang terus naik setiap tahunnya.

“Jika melihat data, kasus kekerasan masih berkisar 30—40 kasus setiap tahun. Tahun 2024 tercatat 37 kasus, dan tahun ini sudah mencapai 47 kasus. Satu kasus saja sudah banyak, apalagi jika puluhan. Karena itu, kita harus bersama melakukan pencegahan,” tuturnya.

Pentingnya pengorganisasian Perempuan, agar berani menyuarakan pengalaman dan persoalan yang dihadapi.

Terlebih di tengah perubahan sosial dan percepatan pembangunan industri di Bulungan.

Penyelenggara menilai kegiatan ini mampu menjadi ruang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri, memperluas jejaring, dan memperkuat kesadaran kolektif.

“Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang aman bagi perempuan Bulungan. Untuk memperkuat diri dan melampaui batas-batas sosial maupun struktural yang selama ini menghambat,” ungkapnya. (fai/uno)

Editor : Nurismi
#perempuan #kekerasan #pembangunan #bulungan