Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Kerap Jadi Korban Hoaks, Ini Cara Melatih Gen Z Supaya Lebih Kritis Bermedsos

Nurismi • Jumat, 5 Juni 2026 | 10:30 WIB
Ilustrasi Gen Z. (freepik)
Ilustrasi Gen Z. (freepik)
BERAU POST - Generasi Z disebut sebagai kelompok usia yang paling rentan terhadap informasi palsu di internet.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa tingginya penggunaan media sosial tidak selalu diikuti kemampuan memverifikasi informasi dengan baik.

Berikut 5 faktor utama yang dinilai membuat Generasi Z lebih mudah tertipu oleh disinformasi dan teori konspirasi di era digital, seperti dilansir dari laman Politico.
 
1. Terlalu Bergantung pada Media Sosial sebagai Sumber Informasi

Banyak anggota Generasi Z memperoleh berita utama mereka dari platform media sosial seperti TikTok dan Instagram.

Informasi yang beredar di platform tersebut sering kali tidak melalui proses verifikasi yang ketat sebagaimana media arus utama. Akibatnya, informasi yang salah dapat dengan mudah diterima sebagai fakta.
 
2. Rendahnya Kemampuan Literasi Media Digital

Meski tumbuh bersama teknologi, tidak semua generasi muda memiliki kemampuan mengevaluasi informasi secara kritis. 

Penelitian menunjukkan banyak siswa kesulitan mengidentifikasi sumber informasi yang tidak kredibel atau memiliki kepentingan tertentu. Kondisi ini membuat mereka lebih mudah terpengaruh oleh konten yang menyesatkan.

3. Ketidakpercayaan terhadap Institusi dan Media Arus Utama

Meningkatnya skeptisisme terhadap pemerintah, lembaga pendidikan, institusi kesehatan, dan media membuat sebagian Generasi Z mencari informasi dari sumber alternatif.

Sayangnya, sumber tersebut tidak selalu dapat dipertanggungjawabkan. Ketidakpercayaan ini sering menjadi pintu masuk bagi penyebaran teori konspirasi.

4. Pengaruh Algoritma dan Ruang Gema Digital
 
Algoritma media sosial cenderung menampilkan konten yang sesuai dengan minat dan pandangan pengguna.

Situasi ini menciptakan ruang gema yang memperkuat keyakinan seseorang tanpa menghadirkan sudut pandang berbeda.

Akibatnya, informasi yang keliru dapat terus dipercaya karena mendapat dukungan dari lingkungan digital yang serupa.

5. Kurangnya Pengalaman Hidup dan Kebiasaan Verifikasi Informasi

Dibandingkan kelompok usia yang lebih tua, Generasi Z memiliki pengalaman hidup yang relatif lebih sedikit untuk membandingkan informasi dengan realitas.

Banyak pengguna muda juga cenderung memercayai kolom komentar atau respons pengguna lain sebagai bentuk verifikasi.

Kebiasaan tersebut membuat mereka lebih rentan menerima informasi palsu tanpa melakukan pengecekan lebih lanjut melalui sumber yang kredibel.

Editor : Nurismi
#disinformasi #hoaks #generasi z