BERAU POST - Gempa bumi berkekuatan Magnitudo (M) 4.8 mengguncang wilayah Kota Tarakan, Rabu (5/11), pukul 18:37:11 WITA, menyisahkan rasa khawatir gempa susulan.
Ketika gempa sering melanda, seseorang akan mengalami perubahan pola pikir dan perilakunya, yang berujung pada trauma gempa dan menimbulkan sejumlah gejala.
Misalnya keringat dingin, meningkatnya detak jantung, susah berkonsentrasi, serta terganggunya pola tidur normal.
Hal-hal tersebut bukan hanya dialami oleh orang dewasa saja, bisa terjadi pada anak-anak. Lantas langkah apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi trauma pada anak?
Dilansir lamar halodoc.com, simak ulasan selengkapnya yang dihimpun Berau Post seperti berikut.
Bencana alam bukan hanya meningkatkan duka dan kesedihan, tapi juga trauma mendalam.
Trauma gempa yang terjadi kemarin dapat menyerang siapa pun, mulai dari orang dewasa hingga anak-anak.
Trauma pada anak pun perlu diperhatikan untuk menghindari gangguan psikologis atau stres pasca gempa. Begini langkah atasi trauma pada anak pasca gempa!
1. Komunikasi dan Yakinkan Mereka
Meyakinkan anak-anak jika mereka akan selalu baik-baik saja. Cara tersebut akan membantu mereka merasa lebih tenang.
Hal yang diperlukan adalah komunikasi terbuka. Jangan memarahi mereka saat mereka menangis, karena hal tersebut akan membuat pemulihan pasca trauma menjadi lebih sulit.
2. Batasi Akses Media Sosial
Cara mengatasi trauma gempa pada anak selanjutnya dapat dilakukan dengan menutup semua akses media, baik online hingga televisi.
Pasalnya, semakin sering mereka menonton keadaan pasca gempa, maka pikiran dan kondisi psikologisnya akan semakin kacau.
3. Biarkan Mereka Mengekspresikan Perasaannya
Biarkan anak-anak mengekspresikan perasaan dengan cara apapun. Mereka akan berbicara tentang perasaan dan ketakutan mereka untuk mengalihkan rasa cemasnya.
4. Jangan Paksa Mereka Bicara
Ketika mereka ingin bercerita, jadilah wadah untuk menampung. Namun, ketika mereka hanya berdiam diri, jangan paksa mereka bicara.
Terus mendesaknya untuk berbicara hanya akan membuat tingkat stres anak meningkat.
Alih-alih menyembuhkan trauma pada anak, mereka bisa saja mengalami gangguan psikologis, seperti depresi.
5. Ajak Mereka Beraktivitas
Hal ini dapat dilakukan ketika anak-anak sudah terlihat tenang dan bisa diajak berkomunikasi.
Selanjutnya, ajak mereka untuk beraktivitas, seperti bermain sepakbola, membaca buku cerita, atau menggambar.
Kegiatan-kegiatan tersebut akan mengalihkan pikirannya pada gempa yang membuatnya trauma.
Trauma pada anak memang dapat segera diatasi, tapi pada beberapa anak, trauma gempa akan menimbulkan reaksi yang lebih dari mereka.
Mereka bisa saja kesulitan tidur, mengalami penurunan nafsu makan, takut tidur sendirian, bermimpi buruk, menangis terus-menerus, bahkan menarik diri dari pergaulan.
Ketika anak yang mengalami trauma gempa dengan gejala-gejala tersebut, anak harus terus dipantau.
Jika gejala yang mereka alami semakin parah, segera temui psikolog di rumah sakit terdekat. (smi)
Editor : Nurismi