BERAU POST - University of South Australia melakukan studi terbaru bahwa camilan karbohidrat dapat diganti dengan almond yang sama efektifnya untuk diet.
Temuan ini menarik perhatian karena menegaskan bahwa almond, meskipun tinggi lemak sehat, bisa menjadi bagian dari pola makan rendah kalori.
Dilansir dari Medical News Today, penelitian yang diterbitkan di jurnal Obesity ini melibatkan 106 peserta berusia 25-65 tahun yang memiliki kelebihan berat badan atau obesitas.
Mereka menjalani diet rendah energi selama 3 bulan dengan pengurangan kalori sebesar 30 persen, kemudian dilanjutkan dengan program pemeliharaan berat badan selama 6 bulan.
Sebanyak 68 peserta mengonsumsi camilan almond utuh tanpa garam sekitar 30–50 gram per hari, yang setara dengan 27–45 butir almond. Diet ini disebut almond-enriched diet (AED).
Sementara itu, 72 peserta lainnya mengonsumsi camilan kaya karbohidrat seperti sereal buah panggang dan keripik beras.
Hasil Utama Penurunan Berat Badan
Kedua kelompok berhasil menurunkan berat badan rata-rata 9,3 persen dari bobot awal.
Setelah fase pemeliharaan, mereka mempertahankan hasil ini dan bahkan mengalami peningkatan massa tubuh tanpa lemak.
Perbaikan kesehatan kardiometabolik juga terlihat pada kedua kelompok, seperti penurunan kadar glukosa darah puasa, insulin, tekanan darah, kolesterol total, LDL, VLDL, dan trigliserida, serta peningkatan HDL.
Menariknya, kelompok yang mengonsumsi almond menunjukkan perbaikan tambahan pada konsentrasi subfraksi lipoprotein, partikel lemak-protein dalam darah yang berperan penting dalam kesehatan jantung.
Peran Lipoprotein dan Kesehatan Jantung
Menurut penulis utama studi, Dr. Sharayah Carter, lipoprotein adalah partikel lemak dan protein yang beredar di darah.
Sebagian lipoprotein dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, sementara yang lain justru melindungi.
Kelompok almond mengalami penurunan lebih besar pada lipoprotein berukuran sangat kecil yang kaya trigliserida dan LDL kecil, jenis partikel yang terkait erat dengan aterosklerosis dan penyakit kardiovaskular.
Pemeriksaan subfraksi lipoprotein memang tidak rutin dilakukan dalam tes darah standar, namun dianggap indikator yang lebih sensitif untuk menilai risiko jantung.
Almond dan Kesehatan Metabolik
Meski kaya lemak, almond mengandung protein, serat, vitamin, dan mineral almond juga memiliki lebih banyak vitamin E.
Serta kalori dan lemak jenuh yang lebih rendah per ons dibandingkan sebagian besar kacang lain.
Kandungan ini mendukung diet yang melindungi jantung, seperti diet Mediterania dan DASH.
Konsumsi almond juga dikaitkan dengan kadar lemak tubuh yang lebih rendah, yang berarti risiko penyakit kardiovaskular dapat ikut menurun.
Menurut Dr. Carter, almond bisa menjadi camilan sehat yang menggantikan makanan ringan olahan tanpa menghambat penurunan berat badan.
Catatan Penting dan Saran Penelitian Lanjutan
Meski hasilnya menjanjikan, peneliti menekankan bahwa keberhasilan penurunan berat badan terutama disebabkan oleh pengaturan kalori secara ketat, bukan hanya karena almond.
Ukuran sampel yang relatif kecil juga membuat perbedaan kecil antar kelompok mungkin belum terlihat.
Ke depan, studi serupa disarankan melibatkan penderita diabetes tipe 2, sindrom metabolik, atau penyakit jantung untuk menilai efek yang lebih besar pada kesehatan kardiometabolik. (jpg/smi)