BERAU POST - Dunia kerja yang semakin kompetitif dan serba cepat, ditambah tekanan untuk terus produktif, memenuhi target, dan tetap responsif sepanjang waktu dapat menimbulkan kelelahan mental yang serius.
Istilah burnout atau kelelahan emosional akibat pekerjaan bukanlah hal baru, namun kini semakin banyak dialami oleh para pekerja dari berbagai bidang, terutama mereka yang bekerja di lingkungan yang menuntut performa tinggi.
Burnout tidak hanya memengaruhi kesehatan mental, tetapi juga berdampak besar pada fisik, hubungan sosial, dan kualitas hidup seseorang secara keseluruhan.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), burnout didefinisikan sebagai sindrom yang muncul akibat stres kronis di tempat kerja yang belum berhasil dikelola dengan baik.
Gejala burnout umumnya meliputi kelelahan ekstrem, perasaan sinis atau negatif terhadap pekerjaan, dan penurunan efektivitas kerja.
Psikolog menyebut kondisi ini sebagai salah satu bentuk krisis psikologis yang jika tidak segera ditangani, bisa berujung pada depresi, kecemasan, bahkan gangguan psikosomatis.
Psikolog Klinis dan Founder Integra Well-Being Center Berau, Gardhika Rizky Sudarsono, M.Psi., Psikolog menerangkan mengatasi burnout tidak cukup hanya dengan mengambil cuti atau istirahat sejenak.
Perlu adanya pendekatan menyeluruh yang melibatkan kesadaran diri, manajemen stres, perubahan pola pikir, serta dukungan lingkungan.
Berikut adalah beberapa cara mengatasi burnout menurut Gardhika, yang bisa diterapkan agar kondisi mental kembali pulih dan produktivitas kerja meningkat secara sehat:
1. Mengenali Tanda-Tanda Burnout Sejak Dini
Langkah pertama dalam mengatasi burnout adalah dengan mengenali dan menerima kondisi yang sedang dialami.
Tanda-tanda burnout bisa berupa, merasa lelah sepanjang waktu meski sudah tidur cukup, kehilangan motivasi dan semangat untuk bekerja, menjadi lebih mudah marah, sensitif, atau frustrasi hingga merasa tidak dihargai atau tidak berarti.
"Kemudian, burnout juga bisa ditandai dengan menarik diri dari rekan kerja atau aktivitas sosial.Dengan mengenali sinyal ini sejak awal, kita bisa segera mengambil langkah pencegahan sebelum kondisi memburuk," kata Gardhika kepada Berau Post, saat ditemui di Integra Well-Being Center Berau, Senin (28/7).
2. Mengatur Batasan Antara Pekerjaan dan Kehidupan Pribadi
Gardhika menyarankan untuk mulai menetapkan batasan yang sehat antara waktu kerja dan waktu istirahat.
Ia menekankan untuk hindari membawa pekerjaan ke rumah secara terus-menerus, dan ciptakan rutinitas yang jelas kapan harus bekerja dan kapan harus benar-benar istirahat.
"Misalnya, matikan notifikasi email kerja setelah jam kantor dan gunakan waktu luang untuk melakukan hal-hal yang disukai," imbuhnya.
3. Istirahat yang Berkualitas
Burnout sering kali disebabkan oleh kurangnya waktu istirahat yang berkualitas. Maka dari itu, agar pekerja mengambil waktu untuk beristirahat secara penuh tanpa gangguan pekerjaan.
Termasuk waktu tidur yang cukup, liburan, atau sekadar waktu hening untuk diri sendiri.
"Digital detox atau menjauh dari layar ponsel dan laptop juga penting untuk menyegarkan pikiran, jadi yang penting itu kalau sudah waktunya istirahat, jangan lanjut kerja, maka dari itu sebaiknya pekerjaan jangan ditunda dan harus diselesaikan di kantor," jelasnya,
4. Bicara dengan Profesional atau Support System
Jangan ragu untuk mencari bantuan dari psikolog atau konselor ketika merasa burnout.
Terapi psikologis seperti cognitive behavioral therapy (CBT) terbukti membantu individu mengelola stres dan mengubah pola pikir negatif.
"Selain itu, berbagi cerita dengan orang terdekat juga bisa menjadi bentuk katarsis yang melegakan. Maka sebaiknya, kalau punya masalah jangan dipendam sendirian, tapi minimal bisa diceritakan kepada orang terdekat dan terpercaya," imbuhnya.
5. Prioritaskan Self-Care
Selalu utamakan untuk melakukan self-care atau merawat diri sendiri sebagai bagian dari pemulihan dari burnout.
Gardhika mengatakan bahwa self-care bisa beragam bentuknya, mulai dari olahraga, meditasi, membaca buku, merawat tubuh, hingga melakukan hobi yang membuat bahagia.
"Kegiatan ini tentunya bisa membantu meningkatkan hormon endorfin yang berdampak positif bagi kesehatan mental," kata dia.
6. Evaluasi Beban Kerja dan Komunikasikan dengan Atasan
Jika burnout disebabkan oleh beban kerja yang tidak realistis, penting untuk mengkomunikasikan hal tersebut kepada atasan atau pihak HRD.
Gardhika menyarankan agar pekerja berani menetapkan batas kemampuan dan mendiskusikan solusi terbaik, seperti pembagian tugas yang lebih seimbang, rotasi kerja, atau penyesuaian target.
7. Latih Mindfulness dan Teknik Relaksasi
Latihan mindfulness, meditasi pernapasan, atau yoga telah terbukti efektif menurut berbagai studi psikologi dalam mengurangi gejala burnout.
Latihan ini membantu individu untuk mengurangi rasa kecemasan, ketakutan serta mengembalikan fokus dan kejernihan dalam berpikir.
Burnout bukanlah tanda kelemahan, melainkan sinyal tubuh dan pikiran bahwa seseorang butuh perhatian dan perbaikan pola hidup.
Dengan kesadaran penuh serta bantuan yang tepat, burnout bisa diatasi secara bertahap.
Mengikuti saran dari psikolog, mulai dari mengenali gejala hingga menerapkan pola hidup yang lebih seimbang, akan membantu seseorang kembali menemukan makna, semangat, dan kesehatan dalam menjalani pekerjaannya.
Jika Anda merasa burnout, jangan abaikan. Luangkan waktu untuk memulihkan diri, dan ingat bahwa menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga performa kerja. (nad/smi)
Editor : Nurismi