BerauPost - Di Jepang, negara yang identik dengan budaya kerja keras dan loyalitas terhadap perusahaan, semakin banyak karyawan yang melakukan quiet quitting.
Istilah ini pertama kali muncul di Amerika Serikat pada tahun 2022 untuk menggambarkan para karyawan yang hanya bekerja secukupnya, atau melakukan pekerjaannya seminimal mungkin.
Namun di Jepang, istilah quiet quitting ini memiliki makna yang sedikit berbeda, dan cukup mengagetkan para karyawan yang telah terbiasa bekerja keras di negara tersebut.
Kini, semakin banyak gen Z Jepang yang memilih untuk masuk kerja tepat waktu dan pulang sesegera mungkin.
Mereka tidak mencari pujian atau pun promosi dari atasan mereka. Mereka juga tidak tertarik dengan prospek gaji tinggi yang memberikan lebih banyak pekerjaan. Bahkan, bonus terkait kinerja pun tidak terlalu mereka pedulikan.
Menurut sebuah penelitian terhadap 3.000 pekerja berusia 20 hingga 59 tahun yang dilakukan oleh Mynavi Career Research Lab, sebuah lembaga penelitian ketenagakerjaan yang berbasis di Tokyo.
Sekitar 45 persen mengatakan bahwa mereka hanya melakukan pekerjaan sebatas yang diwajibkan saja. Yang paling banyak mengaku melakukan quiet quitting adalah mereka yang masih berusia 20-an.
Dilansir dari laman Geediting.com, berikut adalah sembilan perilaku khas yang sering ditampilkan oleh orang-orang yang berada di fase ini.
1. Menghitung Mundur Hingga Akhir Pekan
Orang yang tidak bahagia dengan pekerjaannya sering menjadikan akhir pekan sebagai pelarian.
Kegembiraan mereka terhadap hari Jumat bukan sekadar untuk bersantai, tetapi lebih kepada keinginan untuk melarikan diri dari rutinitas kerja yang dianggap tidak memuaskan.
Anda mungkin mendengar mereka sering berkata, "Duh, kapan Jumat nih?" atau justru mengeluh berat saat Senin datang. Ini adalah tanda halus tetapi kuat dari ketidaksukaan mereka terhadap pekerjaannya.
2. Tidak Bisa Menemukan Hal Positif Tentang Pekerjaannya
Setiap pekerjaan pasti memiliki sisi positif dan negatif. Namun, bagi mereka yang melakukan quiet quitting, menemukan sisi positif rasanya seperti misi mustahil.
Mereka lebih sering membicarakan kekurangan sistem, sulitnya klien, atau rekan kerja yang tidak kooperatif dibandingkan keberhasilan atau kebanggaan mereka terhadap hasil kerja.
3. Selalu Menjadi Orang Pertama yang Keluar dari Kantor
Ketika jam kerja selesai, mereka adalah yang pertama meninggalkan meja. Bahkan, mereka mungkin sudah bersiap-siap jauh sebelum waktu pulang.
Hal ini mencerminkan keengganan mereka untuk menghabiskan waktu lebih lama dari yang diperlukan di tempat kerja. Selain itu, perilaku seperti mengambil istirahat lebih lama atau lebih sering absen dengan alasan sakit juga menjadi ciri khas lainnya.
4. Menghindari Acara Sosial yang Berhubungan dengan Pekerjaan
Acara kantor seperti gathering, minum bersama, atau pesta akhir tahun sering dianggap sebagai momen membangun hubungan dengan rekan kerja.
Namun, bagi orang-orang yang berhenti kerja secara diam-diam, acara seperti ini justru terasa membebani.
Mereka lebih memilih untuk menolak undangan tersebut dan menghabiskan waktu sendiri atau bersama keluarga dan teman di luar lingkup kerja.
5. Performa Kerja yang Mulai Menurun
Kinerja mereka biasanya menjadi salah satu tanda paling jelas. Tugas yang sebelumnya bisa diselesaikan dengan cepat kini memakan waktu lebih lama.
Proyek yang dulu dikerjakan dengan antusias sekarang terasa seperti beban. Penurunan performa ini bukan hanya karena kurangnya kemampuan, tetapi lebih kepada hilangnya minat dan motivasi.
6. Berhenti Berinvestasi dalam Hubungan di Tempat Kerja
Hubungan dengan rekan kerja sering kali menjadi salah satu aspek yang membuat pekerjaan terasa lebih menyenangkan.
Namun, ketika seseorang mulai menarik diri dari lingkungan sosial di tempat kerja, itu bisa menjadi tanda quiet quitting.
Mereka mungkin menjaga interaksi tetap minimal, menghindari obrolan santai, atau bahkan lebih sering makan siang sendirian.
7. Kehilangan Gairah
Semangat adalah salah satu bahan bakar utama dalam pekerjaan. Ketika seseorang merasa tidak puas, gairah ini sering kali memudar.
Mereka kehilangan antusiasme untuk mencoba hal baru, memimpin proyek, atau memberikan ide-ide segar. Pekerjaan yang dulunya memberi rasa bangga kini hanya terasa seperti rutinitas yang harus dijalani.
8. Menjadi Terlalu Kritis
Ketidakpuasan terhadap pekerjaan sering kali diekspresikan melalui sikap yang terlalu kritis. Orang-orang ini cenderung menemukan kesalahan dalam hal-hal kecil, mengeluhkan sistem, atau terus-menerus menunjukkan kekurangan.
Kritik ini bukan hanya diarahkan kepada tugas atau rekan kerja, tetapi juga kepada lingkungan kerja secara keseluruhan.
9. Tidak Lagi Peduli dengan Kemajuan Karier
Biasanya, kemajuan karier menjadi salah satu motivasi utama dalam bekerja. Namun, orang yang melakukan quiet quitting sering kali kehilangan minat untuk berkembang.
Mereka tidak lagi tertarik pada promosi, kenaikan gaji, atau peluang belajar. Bahkan, ulasan kinerja dari atasan pun mungkin tidak lagi menarik perhatian mereka.
Memahami perilaku orang yang berhenti kerja secara diam-diam dapat membantu kita mengenali tanda-tanda ketidakpuasan yang mungkin tidak diungkapkan secara langsung.
Fenomena quiet quitting ini menunjukkan bahwa ketidakbahagiaan di tempat kerja bisa berdampak besar pada produktivitas, hubungan, dan bahkan kesehatan mental seseorang. (jpg/smi)
Editor : Nurismi