Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Detak Jantung Ideal Berbeda Tiap Usia: Kenali Pola Normal dan Gejala Aritmia

Beraupost • Rabu, 28 Mei 2025 | 09:15 WIB
Ilustrasi Seorang Dokter Sedang Mengecek Kondisi Detak Jantung. (Freepik)
Ilustrasi Seorang Dokter Sedang Mengecek Kondisi Detak Jantung. (Freepik)

BerauPost - Manusia yang hidup dan masih bernafas, sudah pasti jantungnya akan bekerja, berdetak sebagaimana mestinya.

Jantung berdetak berarti pertanda bahwa organ vital bagi manusia dan mahluk hidup lainnya itu masih memompa darah dengan sempurna ke tubuh manusia.

Fakta mengenai jantung yang tak banyak diketahui adalah, setiap satu menit jantung memompa sekitar 5 liter darah.

Waktu yang dibutuhkan darah untuk mengalir melalui seluruh sistem pembuluh darah di tubuh hanya sekitar 20 detik. 

Dalam sehari, jantung dapat memompa sekitar 2.000 galon darah, dan sejauh 60.000 mil ke pembuluh darah.

Menurut American Heart Association, pada orang dewasa, jantung berdetak sekitar 100.000 kali setiap harinya, dan 3.600.000 kali selama setahun. 

Jumlah itu tentu tidak sama pada setiap orang. Pada orang yang detak jantungnya lebih pendek sebanyak 60 denyut per menit (BPM), jantung mereka berdetak sekitar 86.000 kali dalam sehari.

Ukuran detak jantung ideal manusia juga berbeda-beda. Tergantung usianya. Sebagai acuan yang perlu diketahui, berikut ini detak jantung yang ideal dari bayi baru lahir, anak-anak, remaja hingga dewasa dan lansia: 

- Bayi yang baru lahir: 100-160 BPM
- Bayi usia 0-5 bulan: 90-150 BPM
- Bayi usia 6-12 bulan: 80-140 BPM
- Balita usia 1-3 tahun: 80-130 BPM
- Balita usia 3-4 tahun: 80-120 BPM
- Anak usia 6-10 tahun: 70-110 BPM
- Anak usia 11-14 tahun: 60-105 BPM
- Remaja usia di atas 15 tahun: 60-100 BPM
- Dewasa usia 20-35 tahun: 95-170 BPM
- Dewasa usia 35-50 tahun: 85-155 BPM
- Lansia usia ≥60 tahun: 80-130 BPM

Nah, ternyata detak jantung setiap orang berbeda-beda tergantung tingkatan usianya? Demikian pula dengan aktivitas yang dijalankan, apakah sedang tidur, santai atau beraktivitas berat lain seperti olah raga.

Namun, apa jadinya jika detak jantung tiba-tiba berdebar tanpa sebab yang jelas, terutama saat tubuh dalam keadaan istirahat? Hal itu dapat menjadi sinyal awal adanya gangguan irama jantung atau aritmia

Meskipun sering dianggap sepele, gangguan tersebut bisa mengancam nyawa, terutama di usia muda yang tampaknya sehat. Kondisi ini berpotensi serius dan memerlukan penanganan medis yang tepat untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

Gangguan jantung ini tidak hanya dialami kalangan lanjut usia, tetapi juga berpotensi terjadi pada orang yang masih muda. Salah satu aritmia yang kerap muncul adalah Supraventricular Tachycardia (SVT). 

Pada kondisi ini, jantung berdetak sangat cepat sering muncul tiba-tiba dan hilang sendiri, membuat ini susah untuk terdeteksi.

Jika ini dibiarkan dalam waktu lama, komplikasinya dapat mengakibatkan gagal jantung, stroke, hingga kematian. Obat-obatan tidak bisa menuntaskan masalahnya, yang efektif mengatasi SVT adalah prosedur ablasi.

dr. Dony Yugo Hermanto, Sp.JP (K), FIHA, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah subspesialis aritmia dari RS Siloam TB Simatupang menjelaskan, aritmia merupakan gangguan pada irama pada jantung. 

"Secara umum, aritmia terbagi menjadi tiga jenis, yaitu: irama jantung yang lebih cepat dari normal (tachycardia), lebih lambat dari normal (bradycardia), dan irama yang tidak beraturan (flutter),” ujar dr. Dony di Jakarta, Senin (26/5).

Lebih jauh, dr. Dony menjelaskan bahwa cara mengukur detak jantung per menit dapat dilakukan dengan meletakkan jari telunjuk dan jari tengah pada nadi di bagian dalam pergelangan tangan.

Hitung denyut selama 15 detik, lalu kalikan hasilnya dengan 4 untuk memperoleh jumlah denyut jantung dalam satu menit.

Sementara itu, SVT adalah jenis aritmia yang sering terjadi, biasanya sudah ada sejak lahir namun gejalanya baru muncul saat remaja atau dewasa muda.

SVT ditandai dengan detak jantung yang sangat cepat, lebih dari 150 denyut per menit (BPM), yang bisa membuat penderita merasakan jantung berdebar kencang. 

"Meskipun jantung berdebar saat berolahraga atau melakukan aktivitas fisik adalah hal yang normal, detak jantung yang cepat secara tiba-tiba saat sedang beristirahat atau duduk tenang harus diwaspadai. Jika ini terjadi, segera konsultasikan dengan dokter, karena bisa menjadi tanda adanya gangguan jantung yang serius,” terang dr. Dony.

SVT dapat dipicu oleh berbagai faktor, salah satunya adalah proses degeneratif akibat penuaan yang menyebabkan perubahan pada struktur jantung. Struktur jantung bisa dianalogikan seperti sistem kelistrikan, yang terdiri dari satu generator dan satu jalur kabel. 

Dalam kondisi normal, sistem ini bekerja secara terkoordinasi. Namun, jika terdapat dua generator atau dua kabel penghantar sinyal, sistem akan mengalami gangguan. Kondisi inilah yang dapat memicu gangguan irama jantung, termasuk kelainan bawaan sejak lahir.

SVT terjadi akibat adanya generator atau jalur listrik tambahan di jantung yang memicu gangguan irama. Untuk mengatasi hal ini, dokter dapat melakukan prosedur ablasi, yaitu dengan mencari dan menonaktifkan jaringan listrik berlebih tersebut. 

Proses ini dilakukan dengan pemanasan menggunakan energi frekuensi radio (radio-frequency/RF) untuk menghentikan aktivitas listrik abnormal di area yang bermasalah. (jpg/smi)

Editor : Nurismi
#ideal #detak jantung #organ vital