BerauPost - Saat stres datang, tiap orang punya caranya sendiri untuk melampiaskannya. Ada yang lari ke olahraga, ada juga yang pilih relaksasi. Tapi nggak sedikit juga yang justru mengandalkan makanan sebagai pelarian.
Masalahnya, kalau kebiasaan ini terus berlanjut, dampaknya bukan cuma badan yang makin melar, tapi juga bisa mengganggu kesehatan mental.
Dilansir dari Geediting, kalau kamu sering makan banyak saat stres, coba cek dulu lima kebiasaan ini. Mungkin salah satunya relate banget sama kamu.
1. Menghubungkan makanan dengan emosi
Buat kamu yang suka makan saat lagi bad mood, coba perhatikan lagi deh: apakah kamu benar-benar lapar atau cuma butuh pelarian emosional? Banyak orang tanpa sadar menjadikan makanan sebagai pelipur lara.
Padahal, makanan seharusnya untuk mengisi energi, bukan buat menutupi perasaan negatif. Kalau kamu terbiasa menghibur diri dengan makanan, bisa-bisa stresnya nggak kelar-kelar, dan porsi makan kamu terus bertambah.
2. Mengalihkan pikiran dari stres ke makanan
Stres datang, langsung buka kulkas. Pernah ngalamin? Ini adalah tanda kamu lebih suka kabur dari masalah, bukan menghadapinya. Sebungkus keripik atau sekotak biskuit memang terlihat menggoda, tapi itu cuma solusi sementara.
Sumber stresmu tetap ada, dan tanpa sadar, lingkar pinggang kamu pelan-pelan ikut membesar. Nggak cuma itu, kebiasaan ini juga bikin kamu semakin menjauh dari kemampuan mengelola emosi secara sehat.
3. Makan sambil nonton video atau scrolling media sosial
Pernah nggak, niatnya cuma ngemil sedikit sambil nonton, tahu-tahu snack sudah habis? Ini yang dinamakan makan tanpa kesadaran. Fokus kamu terbagi antara layar dan makanan, jadi kamu nggak benar-benar merasakan seberapa banyak yang sudah kamu makan.
Akhirnya, sinyal kenyang dari tubuh pun nggak terdeteksi. Penelitian bilang, mindful eating atau makan dengan kesadaran penuh bisa bantu kamu lebih peka terhadap rasa kenyang dan sinyal lapar.
4. Salah memahami pertanda stres sebagai lapar
Saat stres, tubuhmu memproduksi hormon kortisol yang bisa meningkatkan nafsu makan. Akibatnya, kamu merasa lapar padahal sebenarnya nggak butuh makanan.
Ini adalah mekanisme tubuh untuk bertahan, tapi sayangnya, di situasi sehari-hari, kamu malah jadi makan berlebihan. Bukan karena kamu lemah, tapi karena kamu belum terbiasa membedakan mana lapar fisik dan mana lapar emosional.
5. Nggak mencari alternatif lain untuk mengatasi stres
Makanan tinggi gula atau micin memang terasa ampuh banget buat meredakan stres. Tapi efeknya cuma sesaat. Sementara itu, alternatif lain yang lebih sehat—seperti olahraga, jalan kaki, meditasi, atau ngobrol dengan orang terdekat—sering kali diabaikan karena dianggap butuh effort lebih.
Padahal, dengan mencoba hal-hal tersebut, kamu bukan cuma menjaga badan tetap ideal, tapi juga menjaga pikiran tetap stabil.
Kalau kebiasaan-kebiasaan ini terasa dekat dengan kehidupan kamu, wajar banget. Tapi penting juga untuk mulai menyadari pola-pola yang selama ini mungkin nggak kamu perhatikan.
Stres itu nggak harus selalu dilampiaskan lewat makanan. Kadang, tubuhmu cuma butuh didengar, bukan dikasih makan terus. (jpg/smi)
Editor : Nurismi