Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Passive Income Bulanan? Ini Cara Raihnya di Tahun Ini

Beraupost • Kamis, 13 Maret 2025 | 16:40 WIB

 

Ilustrasi investasi untuk mendapatkan passive income. (Freepik)
Ilustrasi investasi untuk mendapatkan passive income. (Freepik)


BerauPost
- Hidup dari passive income sebenarnya cukup sederhana. Cukup menyisihkan uang dan menginvestasikannya dalam aset yang menghasilkan cash flow hingga pendapatan pasif melebihi biaya hidup bulanan.

Sebagai contoh, jika ingin memiliki passive income sebesar beberapa juta per bulan, kita perlu memiliki aset yang cukup untuk menghasilkan isebesar itu tanpa harus bekerja.

Dalam setahun terakhir, harga saham seperti BCA mengalami penurunan hampir 7 persen, sementara BNI, Mandiri, dan BRI turun hingga 30 persen. Kondisi ini membuat banyak investor panik dan menjual saham di harga terendah.

Jika tidak siap menghadapi fluktuasi pasar, mengandalkan saham sebagai sumberpassive income mungkin bukan pilihan terbaik.

Namun, kabar baiknya, masih banyak instrumen investasi lain yang lebih stabil dan dapat diandalkan untuk membangun pendapatan pasif.

Rumus Hitung Aset

Jumlah aset yang dibutuhkan = (Target passive income bulanan x 12) / Persentase return investasi

Sebagai contoh, jika bunga deposito di salah satu bank besar saat ini adalah 3,5 persen per tahun, setelah dipotong pajak bunga sebesar 20 persen, maka return bersihnya menjadi 2,8 persen per tahun.

Jika ingin mendapatkan passive income sebesar Rp5 juta per bulan, maka perhitungannya adalah:

(Rp 5 juta x 12) / 2,8% = Rp 2,14 miliar

Artinya, jika hanya mengandalkan deposito, maka dibutuhkan lebih dari Rp 2 miliar agar dapat memperoleh passive income sebesar Rp 5 juta per bulan.

Salah satu cara untuk mengurangi jumlah modal yang dibutuhkan adalah dengan mencari investasi yang memberikan return lebih tinggi.

Sebagai contoh, saham yang membagikan dividen seperti BRI memiliki dividend yield sebesar 9 persen, sedangkan BNI dan Mandiri sekitar 7 persen.

Beberapa saham di sektor otomotif dan batu bara bahkan bisa memberikan dividen di atas 10 persen per tahun. Namun, ada satu tantangan besar: tahun 2024 dan 2025menunjukkan bahwa pasar saham sangat fluktuatif.

Hampir semua saham blue-chip,terutama di sektor perbankan, mengalami penurunan pada awal tahun ini.

Sebenarnya, jika harga saham turun, itu bisa menjadi peluang untuk membeli di harga diskon. Namun, masalahnya adalah banyak investor yang justru panik dan menjual saham di titik terendah.

Jujur saja, tidak semua orang cocok dengan volatilitas saham. Jika Anda ingin membangun passive income tanpa stres melihat portofolio naik turun setiap hari, ada berbagai instrumen lain yang bisa dipertimbangkan. 

Investasi Passive Income Terbaik 2025

Menurut YouTube Doddy Bicara Investasi, berikut adalah enam investasi passive income terbaik di tahun 2025:

1. Deposito Bank Digital

Deposito bank digital adalah pilihan investasi yang simpel karena bisa dibuka secara online dengan proses yang instan.

Dengan deposito, Anda bisa mendapatkan bunga tetap dan dijamin oleh LPS, asalkan masih dalam batas penjaminan yaitu maksimal Rp2 miliar per bank per nasabah.

Namun, ada kelemahannya, yaitu bunga deposito bank umum sering kali lebih rendah dari inflasi.

SBN Ritel adalah surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah Indonesia. Dengan membeli SBN Ritel, Anda meminjamkan uang ke pemerintah dan menerima kupon secara berkala hingga jatuh tempo.

Keunggulannya adalah 100 persen dijamin negara, return lebih tinggi dari deposito, dan ada kupon bulanan. Namun, tenor investasi cukup lama, dan jika dijual sebelum jatuh tempo, harganya bisa turun.

2. Obligasi Fixed Rate (FR)

Obligasi FR mirip dengan SBN Ritel tetapi bisa dibeli kapan saja di pasar sekunder. Keunggulannya adalah bisa lebih fleksibel, return lebih tinggi, dan tetap dijamin negara. Namun, kuponnya dibayar setiap 6 bulan, serta harga obligasi bisa turun jika suku bunga naik.

3. Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT)

RDPT adalah instrumen yang dikelola oleh manajer investasi yang menempatkan dana di berbagai obligasi, baik pemerintah maupun korporasi.

Keuntungannya adalah lebih praktis, return lebih tinggi dari deposito, dan bisa dicairkan kapan saja. Namun, keuntungan berasal dari kenaikan NAB, sehingga untuk menikmati hasilnya harus menjual unit.

4. Deposito Bank Perkreditan Rakyat (BPR)

Deposito BPR menawarkan bunga lebih tinggi dari bank umum dan tetap dijamin oleh LPS.

Tingkat bunga yang dijamin LPS lebih tinggi dari deposito bank umum, sehingga lebih menarik bagi investor yang mencari return lebih besar dengan risiko rendah. Namun, akses ke BPR lebih terbatas dibandingkan bank umum.

5. Surat Berharga Negara (SBN) Ritel

SBN Ritel adalah surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah Indonesia. Dengan membeli SBN Ritel, Anda meminjamkan uang ke pemerintah dan menerima kupon secara berkala hingga jatuh tempo.

Keunggulannya adalah 100 persen dijamin negara, return lebih tinggi dari deposito, dan ada kupon bulanan. Namun, tenor investasi cukup lama, dan jika dijual sebelum jatuh tempo, harganya bisa turun.

6. Obligasi Fixed Rate (FR)

Obligasi FR mirip dengan SBN Ritel tetapi bisa dibeli kapan saja di pasar sekunder. Keunggulannya adalah bisa lebih fleksibel, return lebih tinggi, dan tetap dijamin negara.

Namun, kuponnya dibayar setiap 6 bulan, serta harga obligasi bisa turun jika suku bunga naik. (jpg/smi)

Editor : Nurismi
#saham #passive income