Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Redam Gejolak Pasar Keuangan, Sinergi Darurat BI dan Danantara Sukses Tahan Pelemahah Rupiah

Nurismi • Rabu, 17 Juni 2026 | 05:20 WIB
IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
 
BERAU POST - Rupiah mencapai titik terlemahnya dalam lebih dari seperempat abad pada penutupan perdagangan 8 Juni 2026.

Nilai tukar mata uang Indonesia itu menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat dan ditutup di posisi Rp18.188 per dolar AS, melampaui titik terendah yang tercatat saat krisis moneter 1998 yang berada di kisaran Rp16.850 per dolar AS.

Dikutip ANTARA, pada saat yang sama, pasar saham Indonesia juga berada di bawah tekanan berat. Setelah sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah di level 9.174 pada Januari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kehilangan hampir sepertiga nilainya hanya dalam hitungan bulan. 

Di antara bursa-bursa utama Asia, penurunan IHSG sejak awal tahun tercatat sebagai yang terdalam.

Tekanan awal memang datang dari luar negeri. Konflik di Timur Tengah yang mengancam jalur pelayaran energi melalui Selat Hormuz mendorong harga minyak dunia melonjak ke kisaran 93–94 dolar AS per barel, jauh di atas asumsi APBN 2026 sebesar 70 dolar AS.

Pada saat yang sama, kebijakan suku bunga tinggi Amerika Serikat menjaga kekuatan dolar dan menarik kembali arus modal global ke berbagai aset berdenominasi dolar.

Namun, pasar tidak hanya bereaksi terhadap faktor eksternal. Pelemahan rupiah yang berlangsung lebih dalam dibandingkan mata uang sejumlah negara tetangga menunjukkan bahwa investor juga tengah mencermati risiko-risiko di dalam negeri.

Arus keluar modal adalah penyebab yang paling terang dari proses tersebut. Investor asing melepas saham dan obligasi pemerintah dalam jumlah besar, kemudian mengonversi dana mereka ke dolar AS sebelum dipindahkan ke pasar lain. Hingga awal Juni 2026, nilai net foreign outflow dari pasar saham Indonesia telah melampaui Rp61 triliun.

Situasi pelemahan IHSG sudah berat ketika MSCI (Morgan Stanley Capital International) mengeluarkan enam saham Indonesia dari indeks acuannya sekaligus membekukan penambahan emiten baru pada Januari 2026.

Tidak cukup sampai di situ, MSCI yang biasanya mengulas kembali rekomendasi saham Indonesia kepada para investor global pada bulan Mei, tidak melakukan itu sama sekali.

Keputusan itu memaksa sejumlah manajer investasi global yang mengikuti indeks MSCI untuk menyesuaikan portofolionya dengan menjual saham-saham terkait tanpa memiliki ruang untuk melakukan rebalancing ke emiten Indonesia lainnya.

Pelemahan IHSG dan nilai tukar rupiah memicu respons cepat dari otoritas. Pada 9 Juni, Bank Indonesia (BI) mengambil langkah yang jarang dilakukan dengan menaikkan BI Rate di luar jadwal rapat reguler, dari 5,25 persen menjadi 5,50 persen.

Dampaknya terlihat dalam dua hari berikutnya, ketika rupiah menguat kembali ke kisaran Rp17.800–Rp17.900 per dolar AS.

IHSG juga mencatatkan pemulihan lebih dari 10 persen, didorong oleh aksi buyback saham-saham perbankan BUMN yang dilakukan secara terkoordinasi.

Langkah ini diambil melalui mekanisme darurat tanpa menunggu Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), berdasarkan arahan regulasi dari otoritas terkait.

Pemulihan tersebut terjadi setelah valuasi pasar Indonesia mengalami koreksi yang sangat dalam. CEO Danantara Rosan Roeslani menyebut harga saham domestik telah berada pada tingkat yang sangat murah setelah penurunan pasar mencapai hingga 40 persen dalam beberapa bulan terakhir.

Keyakinan tersebut tidak hanya dibangun melalui pernyataan publik. Dalam beberapa waktu terakhir, jajaran Danantara telah melakukan serangkaian pertemuan dengan investor global di Hong Kong, Singapura, Boston, London, dan New York.

Rosan Roeslani dan timnya bertemu dengan 122 investor, termasuk sejumlah pengelola dana yang secara tradisional menanamkan modal di Indonesia.

Dalam pertemuan tersebut, mereka berupaya meyakinkan para investor mengenai prospek ekonomi Indonesia, memaparkan rencana jangka panjang, serta memberikan penjelasan rinci atas berbagai kebijakan yang diambil pemerintah.
 
Di berbagai forum tersebut, para investor melontarkan beragam pertanyaan kritis kepada Danantara. Respons itu wajar, karena setiap pemodal tentu berupaya memahami risiko sebelum menempatkan dananya.

Namun ketika para investor global itu mulai memperoleh keyakinan terhadap arah kebijakan dan rencana yang dibawa pemerintah Indonesia, arus modal asing pun perlahan kembali mengalir ke dalam negeri.

Rosan menyimpulkan dari pertemuan tersebut, tekanan yang terjadi di pasar keuangan tempo hari lebih banyak dipengaruhi perubahan sentimen dan persepsi risiko.

Investor tidak memiliki pandangan fundamental ekonomi Indonesia memburuk dalam jangka menengah dan panjang.

Respons investor terlihat ketika Danantara menerbitkan obligasi internasional senilai 1,5 miliar dolar AS. Minat yang masuk mencapai sekitar 4,6 miliar dolar AS, hampir lima kali lipat dari nilai penerbitan.

Sebagian besar permintaan berasal dari investor Amerika Serikat. Di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi, angka tersebut menjadi indikator bahwa minat terhadap aset Indonesia belum menghilang.

Pemerintah pada saat yang sama berupaya memperkuat koordinasi kebijakan. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan berbagai langkah ditempuh untuk menjaga kepercayaan pasar, termasuk percepatan program hilirisasi dan industrialisasi yang menjadi agenda utama Presiden Prabowo Subianto.

Dalam perspektif jangka panjang, strategi tersebut berkaitan dengan upaya memperkuat struktur ekonomi nasional. Peningkatan nilai tambah industri di dalam negeri diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor sekaligus memperbesar kapasitas ekspor produk bernilai tinggi.

Di sektor moneter, Bank Indonesia juga memperluas instrumen stabilisasi melalui perjanjian pertukaran mata uang dengan China.

Kebijakan ini menambah fleksibilitas likuiditas sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam sebagian transaksi bilateral.

Tanda-tanda perubahan sentimen semakin terlihat pada pertengahan Juni. Arus modal asing kembali masuk ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia dan Surat Berharga Negara dengan nilai mencapai Rp19,02 triliun dalam dua hari perdagangan, 10 sampai 11 Juni 2026.

Pada penutupan perdagangan 15 Juni, IHSG menguat 247 poin atau sekitar 4,1 persen ke level 6.254. Jika dihitung dari penutupan terdalam IHSG pada 8 Juni di 5.594, kenaikan dalam lima hari bursa telah mencapai lebih dari 17 persen. Sementara rupiah ditutup di level Rp17.709 per dolar AS pada hari yang sama.

Pergerakan tersebut memang belum cukup untuk menghapus seluruh kerugian yang terjadi sejak awal tahun. Namun pasar keuangan jarang bergerak hanya berdasarkan kondisi saat ini. Yang dinilai investor adalah arah dan keyakinan terhadap prospek masa depan.

Karena itu, pemulihan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir mencerminkan perubahan cara pasar membaca Indonesia.

Setelah berbulan-bulan didominasi kekhawatiran, perhatian investor mulai bergeser pada prospek jangka panjang yang disampaikan pemerintah secara langsung.

Bukan dari pemberitaan media, atau konferensi pers, tapi disampaikan langsung oleh pucuk pimpinan pengelola investasi negara.

Pertanyaannya, apakah penguatan ini akan berlanjut terus pada hari-hari berikutnya? Sayangnya, mekanisme pasar terbuka tidak bekerja seperti itu. Akan ada tawar menawar, tarik menarik dari penjual dan pembeli, sehingga naik turun harga pasti terjadi.

Memang, penguatan sepekan terakhir bukan berarti pembalikan arah secara langsung dari tren turun menuju tren naik.

Tapi setidaknya, berkat langkah-langkah yang diambil bank sentral dan pemerintah, pelemahan tertahan, dan secara teknikal, harga yang tidak mampu menembus titik terendah baru adalah awal dari konsolidasi, yang bisa berujung pada pembalikan arah.

Editor : Nurismi
#saham #investor #ihsg