Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Ancaman Harga Minyak Dunia Tembus US$170, Pemerintah Perlu Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Nurismi • Selasa, 9 Juni 2026 | 05:25 WIB
Forum Ekonomi Global SPIEF 2026 soroti eskalasi geopolitik global terhadap harga minyak dunia. (Istimewa).
Forum Ekonomi Global SPIEF 2026 soroti eskalasi geopolitik global terhadap harga minyak dunia. (Istimewa).

BERAU POST - Harga minyak dunia berpotensi melonjak tajam dalam beberapa bulan hingga tahun ke depan akibat ketegangan geopolitik, gangguan pasokan global, dan kemungkinan sanksi baru terhadap Rusia.

Sejumlah pelaku industri energi dan ekonom internasional bahkan memperkirakan harga minyak dapat menembus level USD 170 per barel dalam skenario terburuk.

Bagi Indonesia, proyeksi tersebut bukan sekadar isu pasar energi global. Kenaikan harga minyak berisiko meningkatkan biaya impor migas, memperlebar defisit perdagangan energi, menambah tekanan inflasi, hingga memperbesar beban subsidi dan kompensasi energi yang ditanggung pemerintah.

Prediksi tersebut mengemuka dalam Panel Energi yang menjadi bagian dari St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026, forum ekonomi tahunan yang mempertemukan pembuat kebijakan, pelaku bisnis, akademisi, dan tokoh publik untuk membahas berbagai isu strategis ekonomi global.

Selat Hormuz Jadi Faktor Penentu Harga Minyak

CEO Rosneft sekaligus Sekretaris Eksekutif Komisi Kepresidenan Rusia untuk Pengembangan Strategis Sektor Bahan Bakar dan Energi serta Keamanan Lingkungan, Igor Sechin, menilai dinamika pasar minyak dalam jangka menengah akan sangat ditentukan oleh situasi di Selat Hormuz.
 
Menurut Sechin, jika berbagai pembatasan yang muncul akibat konflik geopolitik dapat dicabut pada akhir 2026, harga minyak rata-rata berpotensi berada di kisaran US$95 hingga USD 96 per barel. Namun, pemulihan pasokan energi global tidak akan terjadi secara instan.

"Pemulihan pasokan akan membutuhkan waktu dan investasi yang signifikan," kata Sechin melalui keterangannya.
 
Dalam skenario tersebut, harga minyak dalam satu tahun ke depan diperkirakan bertahan pada kisaran USD 80 hingga USD 85 per barel.

Adapun pada paruh kedua 2027, pasar diprediksi mulai kembali bergerak berdasarkan fundamental ekonomi dan keseimbangan pasokan-permintaan.

Sanksi Baru terhadap Rusia Bisa Dorong Harga Minyak Meroket

Sechin juga mengingatkan bahwa pasar energi dapat menghadapi lonjakan harga yang jauh lebih ekstrem apabila negara-negara Barat kembali memperketat sanksi terhadap ekspor minyak Rusia. Menurutnya, tambahan sanksi berpotensi mendorong harga minyak naik drastis.

"Tambahan USD 100 akan ditambahkan ke level USD 150–160," lanjutnya.
 
Meski demikian, Sechin menilai kebijakan sanksi tidak akan efektif menekan posisi Rusia di pasar energi global. Ia meyakini Rusia tetap mampu mempertahankan volume ekspor yang signifikan, sementara kenaikan harga minyak akan mengompensasi potensi penurunan pasokan.

Mantan Bos IEA: Harga Bisa Menembus USD 170 per Barel

Pandangan yang lebih agresif disampaikan mantan Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), Nobuo Tanaka.

Ia memperkirakan gangguan pasokan energi global dapat mendorong harga minyak mencapai US$170 per barel atau bahkan lebih tinggi dalam beberapa bulan mendatang.
 
"Ini adalah situasi yang sangat, sangat serius. Dan saya percaya Rusia akan menjadi pemain yang sangat penting dalam konteks peningkatan pasokan," ujar Tanaka.

Pernyataan tersebut mencerminkan kekhawatiran bahwa ketegangan geopolitik yang berkepanjangan dapat mempersempit pasokan energi dunia dan memperburuk volatilitas harga minyak.

Indonesia Rentan Terkena Dampak

Kenaikan harga minyak dunia memiliki konsekuensi langsung terhadap perekonomian Indonesia yang masih bergantung pada impor energi.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan nilai impor Indonesia sepanjang 2024 mencapai USD 235,2 miliar. Dari jumlah tersebut, impor minyak dan gas menyumbang sekitar USD 36,3 miliar.

Selain itu, neraca perdagangan sektor migas Indonesia pada 2025 masih mencatat defisit sebesar USD 19,7 miliar. Kondisi tersebut membuat fluktuasi harga minyak global menjadi salah satu faktor eksternal yang sangat berpengaruh terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Saat harga minyak naik, biaya impor energi ikut meningkat. Dampaknya dapat menjalar ke berbagai sektor melalui kenaikan biaya produksi, distribusi, hingga tekanan terhadap inflasi domestik.

Lonjakan harga minyak juga berisiko memperbesar beban fiskal pemerintah.

Hingga 31 Mei 2026, pemerintah telah menyalurkan subsidi dan kompensasi energi sebesar Rp 203,7 triliun atau setara 45,6 persen dari total pagu APBN yang dialokasikan untuk pos tersebut.

Karena itu, volatilitas harga minyak global tidak hanya menjadi isu internasional, melainkan berkaitan langsung dengan ketahanan energi nasional, kemampuan fiskal pemerintah, serta daya beli masyarakat.

Semakin tinggi harga minyak dunia, semakin besar pula potensi tekanan terhadap anggaran negara apabila pemerintah tetap mempertahankan berbagai skema perlindungan energi bagi masyarakat. Di tengah proyeksi kenaikan harga, sejumlah pelaku industri masih melihat peluang koreksi pasar.

Menteri Energi Uzbekistan, Jurabek Mirzamakhmudov, menyebut harga minyak masih berpotensi kembali ke level US$60 per barel.

Pandangan serupa disampaikan Presiden TOF Group, David Gadzhimirzaev. Ia mengatakan sejumlah bank besar dunia memperkirakan harga minyak berada pada rentang USD 78 hingga USD 90 per barel.

Dengan mempertimbangkan berbagai potensi guncangan pasar, Gadzhimirzaev memperkirakan harga minyak dapat bergerak di kisaran USD 60 hingga USD 70 per barel.

Namun, menurutnya, harga minyak sebaiknya tidak turun di bawah level USD 60 per barel demi menjaga keseimbangan industri energi global.

Beragam proyeksi tersebut menunjukkan bahwa pasar minyak dunia masih menghadapi ketidakpastian tinggi. Arah harga ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan konflik geopolitik, kebijakan sanksi, kondisi pasokan global, serta kemampuan produsen utama dalam menjaga keseimbangan pasar.

Editor : Nurismi
#harga minyak dunia #selat hormuz