Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Rupiah Nyaris Tembus Rp 18.000 per Dolar AS Akhir Pekan Ini, Siap-Siap Harga Barang Impor Naik!

Nurismi • Sabtu, 30 Mei 2026 | 05:05 WIB
Rupiah Ditutup Melemah di Rp 17.880 per Dolar AS Jumat (29/5) sore, Sentimen Global dan Domestik jadi Beban. (Salman Toyibi/Jawa Pos)
Rupiah Ditutup Melemah di Rp 17.880 per Dolar AS Jumat (29/5) sore, Sentimen Global dan Domestik jadi Beban. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

BERAU POST – Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir pekan, Jumat (29/5).

Mengutip Bloomberg, rupiah ditutup melemah 35 poin ke level Rp 17.880 per dolar AS, dibanding penutupan sebelumnya di level Rp 17.845 per dolar AS.

Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan tekanan eksternal dan domestik masih menjadi faktor utama yang membebani pergerakan mata uang Garuda.

Dari global, sebenarnya sempat membaik setelah muncul laporan bahwa Washington dan Teheran telah mencapai draf kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari di tengah negosiasi lanjutan terkait program nuklir Iran dan isu keamanan regional.

“Namun, usulan kesepakatan tersebut masih menunggu persetujuan Presiden AS Donald Trump sehingga pasar masih cenderung berhati-hati,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (29/5).

Menurut Ibrahim, prospek tercapainya kesepakatan damai membuat kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak mulai mereda. Hal itu juga memunculkan harapan bahwa aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz dapat berangsur normal.

Meski demikian, lalu lintas perdagangan di jalur strategis tersebut masih berada di bawah level sebelum konflik sehingga premi risiko geopolitik tetap tinggi di pasar minyak dunia.

Harga minyak pun bergerak sangat fluktuatif dalam beberapa sesi perdagangan terakhir. Minyak sempat menguat setelah muncul laporan adanya pertukaran serangan militer baru antara AS dan Iran. Namun, kenaikan itu kembali memudar setelah optimisme diplomatik kembali muncul di pasar.

Selain faktor geopolitik, investor juga mencermati kondisi ekonomi AS. Data inflasi pengeluaran konsumsi pribadi atau personal consumption expenditure (PCE) tercatat lebih tinggi dari perkiraan sehingga memperkuat ekspektasi bahwa The Federal Reserve (The Fed) masih akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal I-2026 tercatat melambat. Produk domestik bruto (PDB) AS hanya tumbuh 1,6 persen, lebih rendah dari estimasi sebelumnya sebesar 2 persen.

Di dalam negeri, sentimen pasar juga masih dibayangi kekhawatiran terhadap kondisi fiskal nasional. Prospek anggaran negara yang ketat serta potensi pelebaran defisit fiskal menjadi perhatian lembaga pemeringkat global seperti S&P Global, Moody’s, dan Fitch Ratings.

Selain itu, kenaikan harga minyak dunia turut meningkatkan kebutuhan impor energi Indonesia. Kondisi tersebut memicu lonjakan permintaan dolar AS untuk pembayaran impor sehingga menekan nilai tukar rupiah.

“Perlambatan ekspor dan menyusutnya surplus neraca perdagangan juga membuat pasokan dolar AS di pasar domestik menjadi lebih terbatas,” jelas Ibrahim.

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari tingginya permintaan dolar AS untuk kebutuhan korporasi, termasuk pembayaran dividen dan impor rutin.

Sentimen negatif terhadap aset domestik, termasuk tekanan di pasar saham dan obligasi akibat isu MSCI serta kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), turut memperburuk kondisi pasar keuangan nasional.

"Untuk perdagangan senin depan (libur nasional), mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.880- Rp 17.940. Sedangkan range untuk sepekan Rp 17.800-Rp 18.100," pungkasnya.

Editor : Nurismi
#nilai tukar #rupiah #Impor Energi #dolar as