Selat Hormuz Membara! Harga Minyak Dunia Langsung Meroket Imbas Kontak Senjata AS-Iran

Nurismi • Dipublikasikan Jumat, 29 Mei 2026 | 05:40 WIB
Ilustrasi pengeboran minyak mentah. (IST)
Ilustrasi pengeboran minyak mentah. (IST)

BERAU POST – Harga minyak dunia kembali fluktuatif, setelah sempat turun lebih 5 persen kini tercatat melonjak tajam lebih dari 3 persen setelah eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu kekhawatiran baru terhadap gangguan jalur distribusi energi global melalui Selat Hormuz.

Mengutip The Economic Times, minyak mentah Brent yang menjadi patokan global tercatat naik lebih dari 3 persen hingga menyentuh USD 91,71 per barel pada perdagangan Kamis (28/5).

"Lonjakan tersebut terjadi setelah muncul laporan mengenai serangan terbaru AS terhadap target militer Iran di sekitar Selat Hormuz," bunyi laporan itu.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah menyerang pangkalan udara AS sekitar pukul 04.50 waktu setempat.

Informasi itu disampaikan kantor berita semi-resmi Tasnim, namun IRGC belum mengungkap lokasi pasti pangkalan yang menjadi sasaran.

Di sisi lain, pejabat Amerika Serikat mengungkapkan pasukan Komando Pusat AS berhasil menembak jatuh empat drone serang satu arah milik Iran yang dianggap mengancam keamanan di sekitar Selat Hormuz.

Militer AS juga dilaporkan menyerang stasiun kendali darat Iran di Bandar Abbas yang disebut tengah bersiap meluncurkan drone kelima.

 Eskalasi terbaru ini terjadi hanya beberapa hari setelah militer AS melakukan apa yang disebut sebagai “serangan bela diri” di Iran selatan.

Operasi tersebut menargetkan kapal-kapal yang diduga berupaya memasang ranjau di jalur pelayaran strategis dan lokasi peluncuran rudal.

Di sisi lain, Komando Pusat AS menyebut operasi itu dilakukan demi melindungi pasukan Amerika serta menjaga keamanan jalur pelayaran komersial internasional.

Menanggapi serangan tersebut, IRGC menegaskan pihaknya akan membalas pelanggaran gencatan senjata setelah mendeteksi drone AS dan jet tempur F-35 memasuki wilayah udara Iran.

Seorang pejabat AS mengatakan serangan terbaru Washington difokuskan pada fasilitas militer Iran yang diyakini mengancam pasukan Amerika dan lalu lintas maritim di Selat Hormuz.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut Iran kini “bernegosiasi dengan sisa-sisa bahan bakar”.

Sementara itu, Bank investasi Swiss UBS turut memperingatkan tekanan terhadap pasar minyak global semakin besar akibat menyusutnya persediaan minyak dunia di tengah gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz.

UBS mencatat persediaan minyak global turun sekitar 246 juta barel sepanjang Maret hingga April. Bahkan, kerugian produksi kumulatif diperkirakan dapat melampaui 1 miliar barel pada akhir Mei.

Para analis menilai sekalipun kesepakatan damai tercapai, aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz kemungkinan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk kembali normal. Selain itu, infrastruktur energi yang rusak diperkirakan memerlukan waktu lebih lama untuk pulih sepenuhnya.

Sebelumnya, CEO Saudi Aramco Amin Nasser telah memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dapat menunda stabilitas pasar minyak global hingga 2027.

Dampaknya bahkan berpotensi mengganggu pasokan minyak dunia hampir 100 juta barel per minggu.

Morgan Stanley menggambarkan kondisi pasar minyak saat ini sebagai “perlombaan melawan waktu”. Menurut mereka, faktor-faktor yang selama ini menahan kenaikan harga minyak bisa melemah jika Selat Hormuz tetap tertutup hingga Juni.

Lembaga tersebut menilai peningkatan ekspor minyak mentah AS dan melemahnya permintaan dari Tiongkok memang sempat membantu meredam guncangan pasokan.

Namun, penutupan Selat Hormuz dalam jangka panjang diperkirakan kembali memperketat pasokan energi global apabila gangguan terus berlanjut.
 
 
 
 

Editor : Nurismi
harga naik iran minyak mentah as