HARIAN RAKYAT KALTARA — Kinerja impor Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) pada awal tahun 2026 mengalami penurunan tajam.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara mencatat, nilai impor pada Januari 2026 hanya mencapai USD 7,89 juta atau turun 69,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala BPS Kaltara Mustaqim menjelaskan, penurunan tersebut dipicu oleh melemahnya impor pada sejumlah sektor utama. Terutama komoditas hasil industri dan pertambangan.
“Penurunan nilai impor Januari 2026 disebabkan turunnya impor hasil industri menjadi USD 7,47 juta atau turun 70,6 persen. Selain itu, impor hasil tambang juga turun signifikan menjadi USD 0,04 juta atau turun 84,68 persen,” ujarnya, Selasa (24/3).
Secara keseluruhan, impor Kaltara masih didominasi oleh komoditas nonmigas yang mencapai USD 7,52 juta atau 95,25 persen dari total impor. Sementara itu, impor migas tercatat USD 0,37 juta atau hanya 4,75 persen.
Dari sisi negara asal, impor migas pada Januari 2026 seluruhnya berasal dari Malaysia dengan nilai USD 0,37 juta.
Sementara pada bulan sebelumnya, impor migas masih berasal dari beberapa negara seperti Tiongkok dan Singapura, yang kini tidak lagi tercatat.
Untuk komoditas nonmigas, impor Kaltara didominasi oleh beberapa negara utama seperti Singapura, Tiongkok, dan Vietnam.
Nilai impor dari Singapura tercatat sebesar USD 2,52 juta, diikuti Tiongkok USD 2,45 juta, serta Vietnam USD 1,82 juta. Sisanya berasal dari negara lain dengan kontribusi yang lebih kecil.
“Jika dibandingkan dengan Desember 2025, nilai impor nonmigas pada Januari 2026 mengalami penurunan drastis hingga 89,5 persen dari sebelumnya USD 71,57 juta,” jelasnya.
Lebih lanjut, berdasarkan golongan barang, impor terbesar berasal dari komoditas tembakau dan pengganti tembakau yang mencapai USD 5,00 juta atau berkontribusi sebesar 66,45 persen dari total impor.
Disusul aneka produk kimia dan bahan kimia organik dengan nilai masing-masing sekitar USD 0,42 juta.
Di sisi lain, sejumlah komoditas mengalami penurunan tajam, seperti mesin dan perlengkapan elektrik yang anjlok hingga 99,38 persen. Serta bahan bakar mineral yang turun 88,87 persen.
Ia menambahkan, secara bulanan (month-to-month), total impor Kaltara juga mengalami kontraksi signifikan sebesar 89,36 persen dibandingkan Desember 2025.
Dengan kondisi tersebut, BPS menilai fluktuasi impor di Kaltara masih sangat dipengaruhi oleh aktivitas industri dan proyek-proyek besar yang bersifat tidak rutin.
“Pergerakan impor Kaltara cenderung fluktuatif karena bergantung pada kebutuhan proyek dan industri. Ketika aktivitas tersebut menurun, maka impor juga ikut terkoreksi cukup dalam,” tuturnya. (fai/uno)
Editor : Nurismi