Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Catatan Batiwakkal

Merajut Harapan Sultan Sambaliung untuk Penataan Koleksi Sejarah Keraton

Nurismi • Rabu, 15 Juli 2026 | 07:10 WIB
LAMA TAK JUMPA: Penulis bersama sultan Sambaliung di Warung Pojok. Membahas banyak hal.
LAMA TAK JUMPA: Penulis bersama sultan Sambaliung di Warung Pojok. Membahas banyak hal.

TIDAK direncanakan. Juga tidak janjian bisa jumpa dengan Datu Amir, Sultan Sambaliung di Warung Kopi Pojok, kemarin.

Saya memang datang sedikit siang, saat warung sepi pengunjung. Tak lama, datang juragan gas melon, Abu Bakar. Berbincanglah kami berdua.

Apa yang dibincangkan? Sekitar pasokan gas di wilayah Tanjung Redeb. Aman Daeng, persediaan banyak, kata Abu.
Soal gas melon di Berau menjadi salah satu persoalan, khususnya bagi ibu rumah tangga. Bukan hanya harganya yang lumayan tinggi. Tapi sering terjadi kekosongan persediaan di tingkat penyalur.

Asyik berbincang soal gas melon, datang Sultan Sambaliung Datu Amir, bersama tiga orang kerabatnya.
Kami saling berpelukan. Ya, entah berapa lama baru jumpa dengan beliau. Carian aku dikau Daeng, kata Sultan.

Maksudnya beliau mencari cari saya. Memang kami sudah saling akrab sejak dua puluh lima tahun lalu.
Ndaimana beliau? Kata saya.

Soalnya beliau dalam busana formil berwarna kuning tanpa tutup kepala. Biasa, ada anu dirapatkan dengan Pemda, ungkapnya singkat.

Saya beranikan diri untuk bertanya sekitar keraton di Sambaliug. Keraton yang turun temurun ditempati para sultan. Termasuk ayahanda Sultan M Aminuddin.

Apa yang diperlukan untuk kemajuan keraton? Pertanyaan saya itu, maksudnya kalaulah ada rencana perbaikan atau ada rencana pengembangan keraton.

Aku bingung, kata Sultan. Ada kantor yang dibantu Pemda yang nilainya beratus miliar. Dibangunkan gedung baru.

Padahal, kerabat kesultanan juga berharap ada bantuan Pemkab demi kemajuan keraton. Tidak banyak kami minta, kata Sultan tanpa menyebut nilai.

Bantuan itu akan dimanfaatkan untuk mengisi berbagai koleksi benda kerajaan yang masih berada di kerabat kesultanan. Benda kerajaan itu yang akan kami tata di dalan keraton, ungkapnya.

Ia mengaku sedikit iri dengan daerah lain, di mana Pemdanya memperlakukan kerabat kesultanan dan dukungan pengembangan keratonnya. Aku talla bekeliling nusantara, keraton urang sanggam-sanggam, ungkapnya dengan senyum.

Saya pikir apa yang disuarakan Sultan Sambaliung perlu diterjemahkan dengan bijak. Sebab, jangan sampai akan timbul suara bahwa orang lain dibatu habis-habisan, sementara keraton yang menjadi kebanggaan dibiarkan jalan sendiri.

Lumayan. Kami berbinang hampir satu jam. Dan kami pun berpisah. Saya mengantarkan hingga ke mobil dinas kesultanan. Kendia kau ke rumah bah, katanya. (sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
Catatan Daeng Sikra