Bantu 262 KK Miskin Ekstrem, Pemkab Berau Salurkan Bantuan Pangan di Delapan Kampung

Nurismi • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 18:45 WIB
AKAN DISALURKAN: Dinas Pangan Berau akan menyalurkan bantuan pangan kepada 262 KK di 8 kampung yang masuk kategori rentan rawan pangan. (IZZA/BP)
AKAN DISALURKAN: Dinas Pangan Berau akan menyalurkan bantuan pangan kepada 262 KK di 8 kampung yang masuk kategori rentan rawan pangan. (IZZA/BP)

BERAU POST – Dinas Pangan Berau mulai menyalurkan bantuan pangan kepada masyarakat di 8 kampung yang masuk kategori rentan rawan pangan, berdasarkan Peta Kerawanan Pangan 2025. 

Bantuan tersebut diberikan kepada 262 kepala keluarga (KK) sebagai salah satu bentuk intervensi pemerintah dalam meningkatkan ketahanan pangan masyarakat.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pangan Berau, Tenteram Rahayu melalui Analis Ketahanan Pangan Muda Dinas Pangan Berau, Muhammad Jum’an, menjelaskan, berdasarkan hasil pemetaan sebenarnya terdapat 15 kampung yang masuk kategori rawan pangan.

Namun, tidak seluruh kampung memperoleh bantuan karena penyaluran juga mempertimbangkan data kemiskinan ekstrem yang mengacu pada Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE).

Dari 15 kampung tersebut, hanya 8 kampung yang memiliki masyarakat yang masuk dalam kategori desil satu, sehingga berhak menerima bantuan pangan.

"Yang mendapat respons bantuan hanya delapan kampung untuk 262 kepala keluarga. Di 7 kampung lainnya tidak ada masyarakat yang masuk desil satu, sehingga tidak mendapatkan bantuan," jelasnya, belum lama ini.

Sebanyak 15 kampung yang masuk kategori rawan pangan tersebar di sejumlah kecamatan. Di Kecamatan Kelay terdapat empat kampung, yakni Muara Lesan, Long Duhung, Mapulu, dan Long Suluy. Kemudian di Kecamatan Segah terdapat lima kampung, yaitu Punan Segah, Long Ayap, Punan Malinau, Punan Mahakam, dan Siduung Indah.

Selanjutnya, Kecamatan Gunung Tabur terdapat Kampung Tasuk. Di Kecamatan Bidukbiduk terdapat tiga kampung, yakni Pantai Harapan, Tanjung Perepat, dan Teluk Sumbang. Serta Kecamatan Maratua terdapat Kampung Bohe Silian, sedangkan Kecamatan Biatan terdapat Kampung Biatan Ulu.

Dari seluruh kampung tersebut, delapan kampung yang memenuhi kriteria berdasarkan data P3KE desil satu dan menerima bantuan yakni Siduung Indah, Punan Malinau, Tasuk, Biatan Ulu, Bohe Silian, Pantai Harapan, Tanjung Perepat, dan Teluk Sumbang.

Adapun bantuan yang diberikan berupa paket bahan pangan untuk setiap kepala keluarga. Setiap penerima akan memperoleh beras sebanyak 20 kilogram, minyak goreng 2 liter, gula 2 kilogram, serta 1 piring telur ayam.

"Salah satu intervensinya melalui pemberian bantuan pangan berupa beras, minyak goreng, gula pasir, dan telur ayam untuk setiap kepala keluarga," ujarnya.

Lanjutnya, penyaluran bantuan akan dimulai pada 27 Juli. Lokasi pertama yang dituju adalah Kecamatan Maratua dilanjutkan ke kecamatan lain yang menjadi sasaran.

Selain bantuan pangan, hasil pemetaan juga menjadi dasar penyusunan rekomendasi intervensi lintas sektor sesuai permasalahan yang dihadapi masing-masing kampung.

Misalnya, apabila suatu wilayah masih mengalami kesulitan akses air bersih maupun infrastruktur jalan, maka penanganannya menjadi rekomendasi bagi instansi teknis terkait, seperti Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR).

Sementara itu, Dinas Pangan juga akan menggunakan metode baru dalam penyusunan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan tahun 2026. Penghitungan nantinya dilakukan melalui aplikasi Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA) yang memuat 11 indikator penilaian.

Di mana ada tiga pilar utama dalam penyusunan FSVA, yakni ketersediaan pangan, keterjangkauan atau akses pangan dan pemanfaatan pangan atau konsumsi.
Dijelaskan ketersediaan pangan adalah mngukur rasio konsumsi normatif per kapita terhadap ketersediaan pangan pokok serta kecukupan cadangan pangan pemerintah daerah. Selanjutnya keterjangkauan atau akses pangan yakni menilai kemudahan masyarakat dalam memperoleh pangan secara fisik maupun ekonomi.

“Misalnya akses jalan, tingkat kemiskinan, atau fasilitas pasar,” jelasnya.

Terakhir pemanfaatan pangan atau konsumsi ini mengintegrasikan aspek gizi, kesehatan, dan air bersih, seperti pengukuran angka stunting atau balita dengan berat badan di bawah standar.

Perubahan metode penghitungan tersebut berpotensi mengubah jumlah kampung yang masuk kategori rawan pangan di Kabupaten Berau.

"Data tahun depan bisa saja berkurang atau justru bertambah karena menggunakan aplikasi dan metode penghitungan yang berbeda," pungkasnya. (aja/hmd)

Editor : Nurismi
bantuan pangan Dinas Pangan Berau