BERAU POST – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau menggelar Pelatihan Cenderamata Berbahan Kayu (Kriya) sebagai upaya meningkatkan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) pelaku ekonomi kreatif (ekraf).
Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan, pelatihan tersebut merupakan bagian dari implementasi arah pengembangan ekonomi kreatif yang tertuang dalam Talanpekda Kabupaten Berau Tahun 2024–2028.
Dalam dokumen tersebut, terdapat enam subsektor ekonomi kreatif yang menjadi fokus pengembangan daerah.
“Terdiri dari tiga subsektor unggulan yakni wastra dan kriya, kuliner, serta seni pertunjukan. Kemudian tiga subsektor potensial yaitu fotografi, video, film dan musik, serta aplikasi,” ujarnya Kamis (25/6).
Disebutnya, salah satu kebijakan yang menjadi perhatian pemerintah daerah adalah pemberdayaan pelaku ekonomi kreatif melalui peningkatan kapasitas dan kompetensi SDM, agar mampu bersaing serta memanfaatkan peluang usaha yang terus berkembang.
Karena itu, pelatihan cenderamata berbahan kayu digelar sebagai langkah konkret untuk mendukung pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Kabupaten Berau, khususnya pada subsektor kriya yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
Sebanyak 30 peserta mengikuti pelatihan tersebut. Mereka merupakan anak-anak muda perwakilan kampung yang telah memiliki dasar keterampilan atau pengalaman di bidang kerajinan kriya.
Pun dijelaskan, pelatihan ini tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis dalam membuat produk kerajinan, tetapi juga membekali peserta dengan wawasan mengenai desain produk yang inovatif, fungsional, dan memiliki nilai jual.
“Pelatihan cenderamata berbahan kayu menjadi salah satu sarana bagi pengrajin untuk mengasah keterampilan dan memperluas wawasan dalam menciptakan produk yang menarik serta sesuai dengan kebutuhan pasar,” katanya.
Melalui pelatihan tersebut, peserta juga didorong memahami aspek ergonomi, estetika, hingga pemanfaatan teknologi yang relevan dalam proses produksi.
Dengan begitu, produk yang dihasilkan tidak hanya memiliki nilai seni, tetapi juga mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif.
Selain itu, peserta diberikan pemahaman mengenai pemilihan bahan baku yang tepat, metode produksi yang efisien, serta prinsip-prinsip ramah lingkungan dalam proses pembuatan kerajinan.
Pihaknya menilai masih terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi pelaku kriya di daerah. Di antaranya minimnya pemahaman terhadap persaingan pasar, kurangnya variasi produk, keterampilan generasi muda yang masih terbatas, hingga desain produk yang dinilai belum mampu menarik minat konsumen secara maksimal.
Permasalahan lain yang turut menjadi perhatian adalah konsep produk yang belum matang, strategi pemasaran yang kurang efektif, serta keterbatasan bahan baku untuk mendukung produksi kerajinan.
Melalui pelatihan ini, peserta juga dibekali pengetahuan mengenai pemasaran dan penjualan produk, termasuk strategi promosi, penentuan harga, serta pengelolaan usaha.
Materi tersebut diharapkan dapat membantu pelaku usaha kriya dalam mengembangkan produk sekaligus memperluas akses pasar.
Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi salah satu langkah untuk memperkuat subsektor kriya di Kabupaten Berau.
Selain meningkatkan kualitas produk cenderamata, pelatihan juga diharapkan mampu membuka peluang usaha baru dan memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat.
“Pelatihan ini merupakan bagian dari strategi meningkatkan pelaksanaan program pelatihan bagi pelaku ekonomi kreatif. Harapannya, peserta dapat menghasilkan produk yang inovatif, nyaman digunakan, menarik dipandang, serta memiliki nilai ekonomi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat,” pungkasnya. (aja/sam)
Editor : Nurismi