Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Dari El Faza ke Garda Depan Garuda: Kisah Rizky Ridho di Balik Meroketny Rangking FIFA Indonesia

Beraupost • Minggu, 6 April 2025 | 12:10 WIB
Pemain Timnas Indonesia Rizky Ridho Ramadhani saat bertanding melawan Timnas Bahrain pada laga Grup C putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
Pemain Timnas Indonesia Rizky Ridho Ramadhani saat bertanding melawan Timnas Bahrain pada laga Grup C putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

BerauPost - Langkah Timnas Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 2026 benar-benar menyita perhatian dunia. Tim Garuda tampil luar biasa hingga sukses mengatrol ranking FIFA ke posisi 123 per Kamis, 3 April 2025.

Peringkat itu menjadi pencapaian terbaik Indonesia dalam 15 tahun terakhir di pentas internasional. Sebuah pencapaian yang tidak terjadi secara instan, melainkan buah dari kerja keras dan proses panjang yang dijalani semua pihak.

Ketua Umum PSSI Erick Thohir menyebut kenaikan ini sebagai bukti kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil. Ia pun kembali menegaskan target besar PSSI untuk membawa Indonesia masuk 100 besar dunia.

“Alhamdulillah kemenangan atas Bahrain di Kualifikasi Piala Dunia zona Asia membuat posisi Indonesia di ranking FIFA naik 4 peringkat ke posisi 123. Peringkat ke-123 ini merupakan posisi terbaik Indonesia di ranking FIFA dalam 15 tahun terakhir,” ucap Erick Thohir dikutip dari LIB.

Erick menjelaskan sejak dirinya menjabat pada Februari 2023, banyak strategi telah dirancang demi mendongkrak kualitas Timnas. Salah satunya adalah proses naturalisasi pemain keturunan yang dilakukan secara selektif dan cermat.

"Kita akan terus kerja keras dan berusaha untuk membawa Indonesia masuk dalam peringkat 100 besar dunia. Bismillah," lanjutnya.

Namun, meskipun pemain diaspora kini menjadi bagian penting, peran pemain lokal dari Liga 1 tidak bisa dikesampingkan. Beberapa dari mereka justru menjadi pilar utama Timnas di setiap laga penting.

Salah satu nama yang bersinar terang di antara pemain lokal adalah Rizky Ridho. Bek muda Persija Jakarta ini merupakan produk asli binaan klub internal Persebaya Surabaya, El Faza.

Ridho mencatatkan sejarah sebagai bek tengah lokal yang berani bersaing dengan para pemain naturalisasi dan tampil konsisten.

Duetnya bersama Jay Idzes dan Justin Hubner di lini belakang menjadi pilar kokohnya pertahanan Timnas.

Keberanian dan kedewasaan Ridho di usia muda membuatnya menjadi pemain yang tak tergantikan. Meski sempat diragukan ketika awal dipromosikan, Ridho membuktikan dirinya layak mengenakan jersey Merah Putih.

Ridho mencetak tiga gol selama fase kualifikasi, membuktikan dirinya bukan hanya bertahan, tetapi juga mengancam saat situasi bola mati. Jumlah golnya menyamai kontribusi striker senior seperti Dimas Drajad.

Total ada 28 gol yang dicetak Timnas Indonesia sepanjang babak kualifikasi ini. Lebih dari setengahnya justru berasal dari kaki-kaki pemain yang bermain di Liga 1.

Ramadhan Sananta dari Persis Solo menjadi top skor sementara dengan empat gol. Diikuti oleh Ridho, Dimas Drajad, Egy Maulana Vikri, Hokky Caraka, dan Witan Sulaeman yang ikut menyumbang angka di papan skor.

Ketika berbicara tentang Rizky Ridho, tak lengkap rasanya tanpa menengok ke belakang, ke momen awal karier profesionalnya bersama Persebaya Surabaya. Ridho mencuri perhatian saat tampil di Liga 1 sebagai remaja penuh potensi.

Tepat pada 7 Mei 2021, nama Rizky Ridho muncul dalam daftar pemain yang dipanggil mengikuti pemusatan latihan Timnas Indonesia senior.

Saat itu, Ridho dan Ady Setiawan mewakili Persebaya Surabaya di bawah komando Shin Tae-yong.

“Saya berangkat Rabu, setelah uji coba, dan Kamis malam langsung latihan,” ungkap Ridho kala itu. Ia menjadi salah satu pemain termuda dari 37 nama yang dipanggil.

Itu adalah debut pertamanya di level senior setelah sebelumnya langganan membela Garuda kelompok umur. Di Timnas Indonesia U-19, Ridho sudah menjadi andalan sektor belakang dalam persiapan Piala Dunia U-20.

Meski baru sekali ikut latihan, Ridho langsung merasakan atmosfer berbeda dibandingkan TC sebelumnya. Ia sadar kualitas dan intensitas latihan di level senior jauh lebih tinggi.

"TC ini pasti berbeda. Kualitas dan pengalamannya lebih bagus di TC senior," kata Ridho yang kala itu masih berusia 19 tahun.

Tak hanya fokus pada penampilan sendiri, Ridho juga menunjukkan kedewasaan dalam memandang persaingan. Ia ingin belajar dari pemain yang lebih senior sembari terus memberikan yang terbaik dalam setiap sesi latihan.

“Yang penting maksimal latihan dan pertandingan,” ujarnya. “Saya malah ingin ambil pengalaman dari pemain senior, terutama di posisi saya,” tambahnya.

Mental seperti itulah yang membuat Ridho terus berkembang dari waktu ke waktu. Ia tidak cepat puas dan selalu membuka diri untuk belajar serta berkembang.

Kini Ridho menjadi pemain yang nyaris tak tergantikan di bawah arahan pelatih anyar Patrick Kluivert. Mantan legenda Belanda itu pun tak ragu menjadikan Ridho bagian penting dari lini pertahanan Indonesia.

Trio Idzes, Hubner, dan Ridho menjadi tembok tebal yang sulit ditembus lawan di fase kualifikasi. Mereka berperan besar dalam menjaga gawang Indonesia tetap steril di sejumlah pertandingan penting.

Rizky Ridho pun sukses menjawab keraguan publik akan kapasitas bek lokal. Ia tidak hanya menjadi andalan di klub, tetapi juga simbol kebangkitan sepak bola nasional.

Apa yang dicapai Ridho hari ini tidak lepas dari pondasi kuat yang ditanamkan di klub lamanya, Persebaya Surabaya. Tim asal Kota Pahlawan itu memang dikenal sebagai klub yang piawai melahirkan talenta muda berbakat.

Melalui sistem pembinaan yang berjenjang, Persebaya Surabaya berhasil mengorbitkan pemain-pemain muda ke level profesional. Rizky Ridho adalah salah satu bukti nyata dari keberhasilan tersebut.

Sebagai jebolan klub internal El Faza, Ridho menjadi inspirasi bagi banyak pemain muda lainnya. Bahwa dengan kerja keras dan mental tangguh, pemain lokal juga bisa bersaing di level internasional.

Kini ranking FIFA Indonesia meroket dan harapan tampil di Piala Dunia 2026 kian terbuka. Semua itu tidak lepas dari kontribusi nyata pemain seperti Rizky Ridho yang tampil luar biasa.

PSSI pun terus menjaga kesinambungan regenerasi pemain muda agar tidak berhenti di Ridho. Pembinaan usia dini terus diperkuat sebagai bentuk investasi masa depan sepak bola nasional.

Dari El Faza menuju pentas dunia, kisah Rizky Ridho adalah bukti mimpi besar bisa diraih dari kerja keras dan loyalitas. Ia bukan hanya bek tangguh, tapi juga lambang harapan sepak bola Indonesia yang baru.

Perjalanan Timnas Indonesia menuju Piala Dunia 2026 masih panjang. Namun pondasi sudah terbentuk dan kepercayaan diri publik semakin besar.

Dengan sinergi antara pemain diaspora, pemain lokal, pelatih berkelas, dan manajemen PSSI yang progresif, Indonesia punya kans mencetak sejarah.

Dan di tengah semua itu, nama Rizky Ridho akan selalu diingat sebagai bagian penting dari cerita emas ini.

Panggung dunia kini di depan mata. Generasi emas Timnas Indonesia sedang dibangun dengan pondasi kuat dan visi besar.

Jika suatu hari lagu Indonesia Raya berkumandang di stadion Piala Dunia, maka Ridho dan generasinya adalah para pionir yang membukakan jalan.

Dari El Faza untuk dunia—itulah kisah perjuangan tanpa kenal lelah dari sang bek masa depan Timnas Indonesia. (jpg/smi)

Editor : Nurismi
#Rizky Ridho #Kualifikasi Piala Dunia 2026 #Timnas Indonesia