BERAU POST – Forest healing atau wisata menenangkan di hutan kini menjadi tren di Berau. Konsep ini akan dikembangkan di Kampung Tubaan, Kecamatan Tabalar, dengan memadukan pengalaman menikmati keindahan alam dan edukasi tentang anggrek hutan.
Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Samsiah Nawir, menjelaskan, program ini bertujuan membuka daya tarik wisata baru, sekaligus memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung.
“Kita mau membuka daya tarik wisata yang sekarang lagi tren, yaitu healing di hutan. Atau forest healing namanya,” ujarnya belum lama ini.
Forest healing di Kampung Tubaan akan dilakukan dengan kerja sama para influencer, serta kelompok sadar wisata (Pokdarwis) setempat.
Paket wisata ini tidak hanya menawarkan jalan-jalan di hutan, tetapi juga edukasi tentang anggrek hutan yang tumbuh secara alami di Berau.
“Koordinasinya sudah berjalan, termasuk pembahasan paket wisata, fasilitas yang disediakan, dan keamanan pengunjung,” terangnya.
Uniknya, anggrek yang diperkenalkan di program ini bukan hasil budidaya semata, tetapi sebagian besar adalah anggrek hutan asli atau liar.
Ketua Pokdarwis Tubaan bahkan telah menulis buku berupa kumpulan foto-foto khusus tentang anggrek-anggrek yang ada di Berau. Koleksi ini mencakup anggrek hutan, anggrek liar, hingga jenis yang sudah umum dikenal.
“Belum sempat dihitung jumlahnya, karena bukunya tebal dan eksklusif. Tapi buku ini menunjukkan Berau kaya akan anggrek, tidak kalah dengan di Pulau Jawa,” kata Samsiah.
Lanjutnya, wisatawan yang akan mengikuti forest healing nantinya akan menempuh perjalanan sekitar 2-3 jam menyusuri hutan dengan berjalan kaki.
Akses jalur hutan sudah mulai dibuka, tetapi tetap menjaga kelestarian lingkungan.
“Tidak boleh merambah atau merusak alam. Akses dibuka secukupnya agar pengunjung tetap nyaman. Perjalanannya santai, tidak seperti mendaki puncak,” jelasnya.
Selain menjelajah hutan, peserta juga bisa belajar di greenhouse anggrek yang dimiliki oleh pengelola Pokdarwis.
Greenhouse ini menampilkan koleksi anggrek lokal dan menyediakan pengalaman edukasi bagi pengunjung yang tidak ingin masuk ke hutan.
“Bagi yang tidak mau ke hutannya, bisa belajar langsung di greenhouse. Edukasinya luar biasa,” ucapnya.
Rencananya, peluncuran program forest healing di Kampung Tubaan akan dilakukan setelah Lebaran, sekitar bulan April.
Program ini diharapkan menjadi alternatif wisata eksklusif dan berbeda dengan kampung-kampung lain di Berau.
“Dengan keunikan ini, warga Tubaan bisa menawarkan paket wisata khusus yang alami. Wisata seperti ini sebenarnya bernilai tinggi,” ujarnya.
Selain jalan-jalan dan edukasi, paket wisata forest healing juga menawarkan oleh-oleh berupa anakan anggrek khas Kalimantan.
Beberapa jenis anggrek dapat dijadikan hiasan rumah, dan sebagian merupakan jenis langka yang hanya bisa ditemui di hutan Kalimantan.
Lanjutnya, program forest healing ini sekaligus menjadi bentuk dukungan pemerintah terhadap pengembangan potensi lokal dan kelompok sadar wisata.
“Kita ingin teman-teman Pokdarwis tetap kreatif dan tidak merasa kalah dengan kampung lain yang sudah maju. Alam Berau itu sendiri sudah menjadi daya tarik yang luar biasa,” pungkasnya.
Forest healing di Kampung Tubaan diharapkan mampu menarik wisatawan lokal maupun nasional, sekaligus meningkatkan apresiasi terhadap kekayaan hayati Berau khususnya anggrek hutan yang menjadi ikon daerah. (aja/sam)
Editor : Nurismi