Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Rahasia Sabun Kelapa Berau Tembus Pasar Modern: Fokus pada Standar BPOM dan Kemasan Premium

Beraupost • Jumat, 6 Maret 2026 | 14:05 WIB

Kepala DPMK Berau, Tentram Rahayu. (IZZA/BP)
Kepala DPMK Berau, Tentram Rahayu. (IZZA/BP)

BERAU POST – Pemerintah Kabupaten Berau terus memacu hilirisasi komoditas kelapa dalam sebagai salah satu produk unggulan daerah.

Upaya tersebut dilakukan secara terintegrasi mulai dari dukungan produksi, penguatan kelembagaan, hingga rencana penyusunan kebijakan daerah guna memperkuat pemasaran produk di tingkat lokal.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Berau, Tenteram Rahayu, menegaskan, kelapa dalam memiliki potensi besar untuk meningkatkan ekonomi masyarakat kampung jika dikelola secara serius dan berkelanjutan.

“Kelapa dalam ini salah satu produk unggulan kabupaten, jadi kolaborasi antara Disbun, Koperindag, DPMK dan SIGAP terus kita perkuat,” ujarnya diwawancara kemarin (5/3).

Ia menjelaskan, sentra pengembangan saat ini berada di Kampung Giring-Giring. Di wilayah tersebut, masyarakat sempat merintis produksi sabun batang berbahan dasar minyak kelapa.

Namun, kegiatan itu terhenti karena belum mengantongi izin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

“Memang sempat berhenti karena belum ada BPOM, tapi sekarang sedang dalam pengurusan,” jelasnya.

Sebagai bentuk keseriusan, pemerintah telah membangun rumah produksi melalui dukungan Alokasi Dana Kampung (ADK) yang disesuaikan dengan standar BPOM.

Selain itu, lima unit mesin produksi juga telah disalurkan untuk mendukung proses pengolahan, khususnya pembuatan sabun berbahan minyak kelapa.

Menurut Tenteram, hilirisasi tidak hanya menyasar produksi sabun, tetapi juga minyak kelapa murni.

Pemerintah merangkul pengrajin rumahan agar tetap terlibat dalam rantai produksi, tanpa menghilangkan usaha yang sudah berjalan.

“Kita rangkul pengrajin rumahan minyak kelapa, tidak dikesampingkan, tinggal diproses dengan mesin yang dimiliki,” katanya.

Ke depan, Pemkab Berau juga menyiapkan strategi pemasaran yang lebih sistematis. Salah satunya melalui kebijakan kemasan kecil yang menyasar pasar hotel dan resort di Berau.

Produk tersebut nantinya akan diproduksi oleh kelompok PKK dan dipasarkan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

“Tinggal kebijakan daerahnya untuk mendukung pemasaran lokal ini,” tegas Tenteram.

Tak hanya Giring-Giring, inisiatif serupa juga mulai tumbuh di Kampung Karangan. Di sana, seorang warga berlatar belakang sarjana MIPA Biologi telah memproduksi sabun cair dan sabun batang secara mandiri dalam skala kecil.

“Di Karangan sudah mulai juga, tapi masih skala pribadi dan belum ada rumah produksi,” ungkapnya.

Pemkab pun berencana melakukan studi banding ke daerah lain yang lebih dulu mengembangkan produk turunan kelapa, meski belum sepenuhnya memiliki izin BPOM, guna mempercepat proses pembelajaran dan pengembangan.

Sementara Bupati Berau, Sri Juniarsih, memberikan apresiasi atas langkah strategis yang dijalankan lintas perangkat daerah tersebut. Ia menilai hilirisasi kelapa dalam merupakan wujud nyata penguatan ekonomi berbasis potensi lokal.

“Hilirisasi komoditas kelapa dalam ini contoh nyata penguatan ekonomi daerah yang harus terus dikembangkan,” ujarnya.

Menurutnya, pengembangan produk turunan kelapa tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas, tetapi juga membuka lapangan kerja baru di kampung-kampung.

Dengan dukungan regulasi yang tepat, ia optimistis produk kelapa dalam Berau mampu bersaing dan menjadi identitas ekonomi lokal yang berkelanjutan.

Pemerintah daerah pun berkomitmen menyiapkan payung hukum yang mendukung distribusi dan pemasaran produk lokal, sehingga hilirisasi tidak berhenti pada produksi, tetapi benar-benar berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. (sen/sam)

Editor : Nurismi
#Komoditas kelapa #umkm #Kelapa Dalam