BERAU POST – Pemerintah Kampung (Pemkam) Birang, Kecamatan Gunung Tabur, mengusulkan pembangunan siring di sepanjang bantaran sungai setempat, menyusul kondisi sungai yang disebut-sebut semakin dangkal hingga rawan terjadinya longsor.
Kepala Kampung Birang, Samsuri, menjelaskan, pendangkalan sungai sudah terjadi cukup lama dan kini semakin mengkhawatirkan.
Selain sedimentasi yang menumpuk, beberapa titik di bantaran sungai juga mulai mengalami longsor, terutama saat debit air meningkat pada musim hujan.
Karena itu, pihaknya mengusulkan pembangunan turap atau penguat tebing dengan panjang sekitar 500 meter.
Adapun pembangunan pengaman sungai itu menurutnya tidak hanya untuk menjaga keselamatan lingkungan kampung, tetapi juga diharapkan mampu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Menurutnya, kawasan bantaran sungai bisa ditata menjadi ruang publik yang menarik, sekaligus menjadi tempat tumbuhnya kegiatan usaha kecil.
Pihaknya pun telah memiliki konsep yang memungkinkan area sungai menjadi lokasi bermain dan berkumpul warga.
Jika tertata dengan baik, kawasan itu diyakini dapat menjadi daya tarik baru yang mampu memancing kunjungan wisatawan dari luar daerah.
“Harapan kami pembangunan ini bisa meningkatkan ekonomi masyarakat, karena kawasan tersebut nantinya dapat dimanfaatkan sebagai tempat berjualan bagi pelaku UMKM. Area itu memungkinkan menjadi ruang bermain dan rekreasi, sehingga dapat menarik wisatawan untuk datang,” jelasnya belum lama ini.
Menanggapi hal itu, Kabid Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Berau, Hendra Pranata, menyebut pekerjaan pengamanan sungai membutuhkan perencanaan yang sangat matang, terutama karena karakteristik tanah di jalur sungai Gunung Tabur memiliki kondisi khusus.
Pembangunan jembatan di Kampung Pulau Besing menjadi pelajaran penting dalam memahami struktur tanah di kawasan tersebut.
Ia menyebut kedalaman tanah keras di wilayah itu sangat dalam, sementara lapisan tanah lunaknya bisa mencapai puluhan meter.
“Nah ini perlu kita ketahui bersama, berdasarkan pengalaman kami dalam proses pembangunan jembatan Pulau Besing pada saat itu. Jalur sungai Gunung Tabur ini memiliki kedalaman tanah keras yang sangat dalam. Di Pulau Besing itu tanah lunaknya mencapai 40 meter,” ungkap Hendra.
Ia menjelaskan, apabila konstruksi berat diletakkan di atas tanah lunak tanpa perhitungan dan perencanaan yang tepat, maka struktur tersebut bisa bergerak dan membahayakan bangunan di atasnya.
“Ini akan sangat membahayakan konstruksi atau apapun yang ada di atasnya,” tegasnya.
Karena itu, ia menekankan, jika pekerjaan pengaman sungai benar-benar diputuskan untuk dilaksanakan, maka seluruh tahapan perencanaan harus dilakukan secara bertahap dan menyeluruh.
“Apabila memang kita sudah memutuskan untuk mengadakan pekerjaan pengaman sungai, harap step by step perencanaannya dapat dilaksanakan semua,” pungkasnya. (aja/sam)
Editor : Nurismi