Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Berbincang Seputar Ramadan Edisi 8; Generasi Milenial yang Beriman dan Bertakwa

Muhammad Sholehudin Al Ayubi • Rabu, 20 Maret 2024 | 21:49 WIB
Ustazah Maysaroh
Ustazah Maysaroh

Menjadikan generasi milenial yang berdaya saing membutuhkan fondasi berupa iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Bulan Ramadan inilah saat yang tepat untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan tersebut, khususnya bagi generasi milenial.

AMNIL IZZA, Tanjung Redeb


 

USTAZAH Maysaroh yang juga anggota Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Daerah Aisyiyiah Berau, lebih dulu menjelaskan arti iman dan takwa tersebut agar tidak salah tafsir.

Dikatakannya, iman dan takwa adalah dua kata yang berbeda makna, tetapi menjadi satu kesatuan dalam pengamalan sehari-hari bagi seorang muslim. Diibaratkan sebagai dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Iman merupakan kendaraan bagi seseorang untuk mencapai takwa. Mustahil bagi seseorang untuk mencapai takwa, tanpa adanya Iman. Jika dilihat dari segi bahasa, Iman berasal dari bahasa Arab "aamanayu'minuiimaanan" yang artinya percaya atau tashdiq (membenarkan).

Sedangkan dari segi istilah, iman merupakan keyakinan sesorang yang dibenarkannya dengan hati, diikrarkan dengan lisannya, kemudian diamalkan dengan anggota tubuhnya.

"Maka kemudian Iman bukan hanya pekerjaan hati, akan tetapi membutuhkan pembuktian melalui lisan dan perbuatan," tuturnya.

Ia juga menyebutkan, berdasarkan Imam Al Ghazali Rahimahullah, iman manusia kepada tiga kategori. Di antaranya, iman taqlidi. Adalah iman yang kebanyakan dimiliki oleh orang yang kurang berilmu, mereka beriman hanya semata-mata karena Taqlid saja, tanpa mengetahui dalilnya.

Selanjutnya adalah iman istidlali. Mereka beriman berdasarkan dalil 'aqli dan naqli, dan mereka merasa puas dengan itu. Terakhir, yakni iman tahqiqi. Merupakan imannya para ahli makrifat dan hakikat. Mereka beriman dengan pembuktian mereka melalui penyaksian kepada Allah.

Sementara, pengertian takwa secara bahasa berasal dari bahasa Arab "Waqaa-yaqii-wiqaayatan" yang artinya terjaga, terpelihara. Dapat diartikan bahwa takwa berarti terjaga dan terpelihara dari api neraka. Dalam pengertian lainnya, takwa dapat diartikan sebagai rasa takut dan selalu menjaga diri untuk tidak terjerumus dalam perbuatan dosa.

"Serta memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi untuk menjalankan kehidupan dengan penuh kesungguhan, kejujuran dan amanah," ungkapnya.

Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana cara generasi milenial saat ini untuk terus beriman dan bertakwa kepada Allah di tengah gempuran kemajuan zaman. Seiring kemajuan zaman itu, persoalan-persoalan kehidupan juga semakin kompleks. Dunia modern ini kemudian menjadi tantangan tersendiri bagi umat islam untuk menjadi problem solver, dan justru tidak menjadi bagian dari persoalan itu sendiri.

Islam sebagai hudan linnaas, yaitu petunjuk bagi manusia, sebagaimana yang diisyaratkan dalam Alquran bahwa islam sebagai al din, tidak hanya mengatur persoalan ibadah dan akhlak. Juga mengatur keseluruhan bidang kehidupan, mulai dari persoalan ekonomi, kesehatan, politik, hukum, kebudayaan, dan sebagainya.

"Untuk itu kita diperintahkan untuk berIslam secara Kaffah (utuh). Iman dan takwa kemudian menjadi tolok ukur kita dalam menjalani kehidupan," jelasnya. 

Menurutnya, generasi milenial harus memiliki keimanan dan ketakwaan yang kuat sebagai benteng dalam menghadapi segala macam perubahan zaman. Caranya, mengakrabkan diri dengan Alquran. Karena Alquran merupakan petunjuk bagi manusia, sangat penting bagi seorang muslim untuk memahami isi dari kandungan Alquran, agar tidak tersesat di kemudian hari. Terlebih membaca Alquran di bulan suci Ramadan sangat dianjurkan, bahkan merupakan ajaran Rasulullah.

"Kita juga harus berusaha untuk lebih istiqomah dengan syariat Islam, menjauhi perbuatan maksiat, dan bergaul dengan orang-orang saleh," urainya.

Empat hal itu mungkin akan berat dilaksanakan pada awalnya, akan tetapi sebuah keikhlasan dapat tercapai setelah dipaksakan. Lebih baik dipaksa masuk surga daripada sukarela masuk neraka. Bisa juga mengisinya dengan mengikuti berbagai komunitas positif yang ada di Kabupaten Berau.

Kendati demikian, semua kegiatan positif itu akan menjadi sia-sia jika tidak ada keinginan dan kesadaran dari generasi milenial untuk mengikutinya. Maka yang perlu dilakukan adalah, memiliki kesadaran untuk membangun kebiasaan positif. Fokus pada tujuan yang ingin diraih dari kegiatan positif yang dijalani. Bergaul dengan orang atau komunitas yang tepat. Ajak orang lain untuk ikut dalam kegiatan positif.

"Menjadi contoh yang baik, lakukan dengan konsisten, serta apresiasi dan pertahankan kebiasaan baik tersebut. Jangan sampai kendur dan mengisi kegiatan negatif di bulan Ramadan," pesannya. (sam)

 
Editor : Muhammad Sholehudin Al Ayubi
#safari #ramadan #ragam