TANJUNG REDEB – Sebanyak 34 tenda disiapkan oleh pengurus Masjid Agung Baitul Hikmah bagi usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang ingin berjualan takjil, pada bulan suci Ramadan 1445 hijriah.
Ketua Pengurus Masjid Agung Baitul Hikmah, Kafrawi, menjelaskan ada dua jenis tenda yang disewakan pihaknya. Yakni, tenda tunggal dan tenda gabungan. Di mana biaya sewa tenda tunggal jauh lebih mahal dari tenda gabungan.
Ada 15 tenda tunggal yang disiapkan dengan biaya sewa Rp 2,2 juta selama satu bulan. Sedangkan, sudah ada 42 orang yang menyewa pada tenda gabungan yang dihargai Rp 1 juta per bulan dengan fasilitas meja. Sementara sudah ada 5 pedagang yang masuk daftar tunggu atau cadangan. Mayoritas para pelaku usaha merupakan penyewa tahun lalu yang ingin berjualan kembali.
“Untuk yang gabungan ini, satu tenda bisa diisi dua pedagang. Saat ini semua sudah penuh disewa orang. Kalau ada tambahan mereka masuk cadangan,” terangnya kepada Berau Post, Rabu (6/3).
Diakuinya, animo masyarakat untuk berjualan takjil setiap tahun semakin tinggi. Bahkan, tahun ini ada promosi perbankan dan kendaraan roda dua dan roda empat ikut berpartisipasi meramaikan pasar Ramadan di Masjid Agung Baitul Hikmah.
“Saya juga tidak menyangka kalau tahun ini lebih banyak dari sebelumnya. Meskipun biaya sewanya lebih mahal,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, sewa tersebut dinaikan bukan tanpa alasan. Sebab, pihaknya baru saja membeli tenda baru dari Surabaya, ditambah biaya operasional kebersihan di Masjid Agung.
“Setelah kami sampaikan dengan pelaku usaha, mereka tetap mau ikut berpartisipasi dan bersedia membayar sewa. Alhamdulillah mereka tidak keberatan,” paparnya.
Disebutkannya, jam operasional mereka berjualan mulai pukul 14.00 hingga menjelang waktu Magrib. Pihaknya juga mengingatkan para pedagang agar tetap menjaga kebersihan pada masing-masing tenda. Pihaknya tidak ingin lingkungan masjid menjadi kumuh.
“Sebelum Magrib harus sudah selesai. Mereka harus mengikuti etika bulan Ramadan. Karena lokasinya juga di masjid jadi sensitif sekali, termasuk soal kebersihan,” tegasnya.
Di sisi lain, ada dua kelompok pedagang kaki lima (PKL) yang ingin bergabung pada pasar Ramadan Masjid Agung Baitul Hikmah. Yakni kelompok yang ada di lapangan gedung olahraga (Gor) Pemuda dan Tepian Ahmad Yani.
Pihaknya pun tidak melarang, mereka dipersilakan bergabung selama mengikuti tata cara dan peraturan yang berlaku di masjid. PKL tambahan tersebut ditarik biaya sewa sebesar Rp 400 ribu selama satu bulan.
“Saya lihat yang bertambah PKL yang berjualan di luar tenda yang kami siapkan. Silakan saja bergabung, asal tertib,” kata Kafrawi.
Kendati begitu, pihaknya juga mengingatkan para pedagang kuliner untuk menjaga higienis makanannya. Jangan sampai menggunakan pewarna dan pengawet ataupun zat berbahaya lainnya. Untuk menjaga kepercayaan dan keselamatan konsumen.
“Sudah kami ingatkan ketika mereka mendaftar ke kantor untuk menjaga kebersihan dan keamanan makanan mereka,” terangnya.
Sementara itu, salah satu penyewa tenda di pasar Ramadan, Nurul mengaku setiap tahun selalu berpartisipasi untuk berjualan takjil di pasar Ramadan Masjid Agung Baitul Hikmah. Menurutnya, Masjid Agung merupakan daerah strategis untuk berjualan takjil.
Selain menjual sayur masak, dirinya juga akan menjual berbagai jajanan dan kue ringan titipan orang lain. Dirinya menyewa tenda gabungan bersama pedagang lain, karena dinilai lebih murah dari tenda tunggal.
“Di sana sudah terkenal selalu ada pasar Ramadan setiap tahun, jadi pasti ramai orang berdatangan. Makanya Saya tahun ini mau ikut berjualan lagi,” ucapnya. (*/aja/arp)
Editor : Muhammad Sholehudin Al Ayubi